
Terbelenggu Cinta di Negeri Jiran 42
Matahari pagi muncul menyinari bumi dan seisinya. Sesudah subuh orang-orang mulai berlomba-lomba untuk mencari rezeki sedini mungkin agar rezekinya kata orang dahulu tidak di patuk ayam. Begitu juga dengan kami harus mengatur waktu agar tidak ada lagi waktu yang terbuang percuma. Waktu adalah uang, waktu adalah pedang dan waktu adalah segala-galanya.
Bukan mengejar duniawi, tuhan memerintahkan umatnya setelah subuh mulailah mengembala di bumi ini. Kejarlah apa yang sudah di tetapkan oleh Allah untuk manusia. Jika hanya berdiam diri di rumah dan mengharap rezeki jatuh dari langit tidak akan ada.
***
Hari ini aku bekerja seperti biasa. Sudah saatnya benar-benar melupakan masa lalu dan menata kehidupan yang baru. Tapi, dengan bertemunya dengan teman kos lama, aku terpaksa membuka lagi luka lama yang mati-matian aku lupakan.
Gadis yang seusia indri itu selalu mendekati ku, mengikuti ku kemanapun aku pergi. Sepertinya dia berusaha untuk mencari tau diriku. Aku cuekin aja nanti dia capek sendiri.
"Shifa ....! Kamu tinggal di mana? Malam minggu nanti boleh gak, aku mau main ke tempat kamu?" Aku diam tidak ada niat untuk menjawabnya. Bukan dendam, tapi aku tidak mau kenal sama orang seperti Ella lagi.
"Shifa .... ! Kamu masih marah, ya, sama aku? Apa kamu masih belum mau memaafkan aku? Ya, sudah gak apa-apa. Dalam hati pasti kamu sudah memaafkan aku."
Kata "Maaf" memang semudah berbicara tapi mereka tidak bisa berpikir orang yang sudah mereka zolimi sakitnya seperti apa. Luka yang tidak berdarah yanh dia toreh membekas seumur hidup.
Ella tidak mau jauh dariku sampai jam istirahat tiba. Waktu makan dia memperhatikan ku tampa kedip. Aku jadi risih melihatnya tapi bodo amat. Ternyata tidak membuat ku tenang, aku pandangi dia balik. Blam.
"Aduh, kok mataku perih banget," keluh Ella meletakkan makanannya, mengusap matanya dan bercermin.
"Ada apa, La!" ujar salah satu temannya.
"Mata aku perih banget, duh, coba lihat! Sepertinya di dalam mataku ada cabe nya," Ternyata dia kalah matanya kelilipan, mengusapnya, hingga meringis pedih sepertinya kemasukan biji cabe. Rasain tuh.
"Masa...kesini aku lihat!"
Aku cepat menyelesaikan makan ku dan pergi ke toilet. Ternyata sudah ada Ella di sini. Dia mengusap matanya dengan air dingin. Mendengar bunyi pintu dia menoleh dan nampak matanya merah banget.
Tidak ada niat untuk menyapanya setelah keluar dari kamar kecil, langsung keluar dan dia menarik tangan ku. "Shifa ...! Masa aku sedang begini kami tidak kunjung menanyaiku?"
Ella begini karena ulahnya sendiri sengaja memandangi orang tanpa kedip. Aku menatap bola matanya dalam-dalam. "Memangnya siapa kamu? Apa peduli ku padamu?"
"Shifa ...! Segitu bencinya kamu sama aku. Apa tidak ada sedikitpun hati nuranimu masa kejadian dua tahun yang lalu dan aku sudah menjelaskannya dan sudah pula meminta maaf tidak kunjung kamu melihatku ada di tempat ini?" Pertanyaanya sama aja dengan Khaizan. Entah kenapa kedua makhluk ini selalu ada di sekitar ku.
__ADS_1
"Aku tidak benci pada mu. Hanya saya aku sudah tidak mau lagi membuka luka lama yang sudah mati-matian aku melupakannya. Kamu punya akal dan pikiran untuk berpikir baik atau buruk sesuatu yang kamu buat itu. Aku tanya sama kamu, sudah berapa banyak korban kalian selain aku? Aku yakin bukan cuma aku aja tapi banyak mungkin belasan orang? Puluhan? Atau ratusan orang?"
"Astagfirullah. Sejahat itu kami di matamu? Apa kamu masih tidak percaya dengan kata-kataku kemaren?"
"Iya, aku yakin banget. Entah percaya entah tidak, gak tau. Kalau ada korban selain aku, cepat atau lambat kalian pasti akan bertemu lagi. Bye, aku keluar dulu." Cepat aku hentakkan tangannya dengan kasar keluar dan membanting pintu dengan keras mengundang perhatian security yang menjaga toilet ini.
BRAK
"Ada apa ini? Kamu pikir perusahaan ini milik nenek moyangmu? Rusak sedikit aja tidak akan ada gaji untuk kamu selama 6 bulan. Di serahkan ke police baru tau rasa," Ujar security berbadan bongsor dan kulit gelap ciri khas orang india.
"Tidak ada apa-apa maaf, ya!" Lekas pergi ku lihat security hanya menggeleng-gelengkan kepala dan Ella pun menyusul tapi dia ke tempat semula lewat jalan lain.
***
Hingga satu bulan lamanya aku kerja selama itu pula Ella berusaha mendekati ku tapi aku hanya diam aja dia tidak pernah menyerah dan karyawan lain juga suka memperlakukan aku pembantu nya dia tau aku banyak pekerjaan masih saja menyuruhku sesuka hati. Setiap kali aku menyentuh pekerjaan aku karyawan lain berlomba-lomba memanggilku.
Kali ini aku diam aja ku bisikan mulut dan tutup telinga biarkan dia berkoar-koar sendiri. Aku tidak mau kerjaan aku dua kali lipat lebih banyak tapi gajiku segitu aja. Tidak akan membiarkan diriku bodoh lagi.
Akhirnya mereka diam aja. Coba aku turuti semua perintah mereka sampai sekarang pasti mereka tidak akan pernah diam. Tapi, ada dua orang sepertinya tidak akan tinggal diam begitu saja.
"Shifa...! Bantu aku dong! Ambil kotak yang ada di ujung sana!" Dia ini ratusan kali dalam sehari memerintah aku sampai di tegur pihak HRD bekerja tidak becus padahal membantu karyawan lain.
Aku diam
Aku diam
"Shifa... Kok diam aja kamu dengar gak apa yang aku bilang?
Tetap melanjutkan pekerjaan
"SHIFA ...!
DEG, Gadis asal flores ini berteriak benar-benar membuatku menjadi pembantu nya.
"Shifa! Bantun marga menyusun barangnya! Setelah itu biar dia juga bantu kamu. Kita harus saling bantu tidak bisa kerja sendirian," Ujar salah satu karyawan berdarah tionghoa sepertinya teman dekatnya marga.
Aku tetap diam tidak mau manut lagi. Aku harus kuat agar tidak di tegur lagi pihak HRD sedangkan Ella diam aja mendengarnya.
__ADS_1
"SHIFA...! Kedua wanita ini terus aja memanggil namaku membuat telinga ku pekik.
"Shifa...! Apa salahnya kamu bantu kami seperti biasa! Atau kamu sudah mulai hitung-hitungan sekarang? Ujar marga
"Shifa ...!
"Shifa...!
Shifa...!
BRAK
"Kamu tuli, ya? Tidak dengar apa yang kami bilang? Seseorang menggebrak meja dengan kasar. Aku yang mendengarnya kaget tidak berani memandangnya. Ujar Lisa gadis yang berdarah Tionghoa itu.
"Kalau aku tuli, kalian mau apa? Uajrku tidak mau menunjukkan rasa takut ku menghadapi kedua wanita bertubuh bongsor ini.
"Oh, kamu sudah mulai berani, mau melawan sama karyawan lama? Asal kamu tau, aku ini warga negara sini dan kamu hanyalah B*bi dari indon. Status kalian di sini hanyalah gembel yang mencari makan ke negara orang. Mau aku laporin kamu ke police?"
"Laporkan saja, aku tidak takut. Asal kamu tau, kamu juga bukan asli orang di sini, kampung halaman kamu jauh di asia timur sana. Kamu ke sini juga mencari makan sok sok an mengaku negara sendiri? Mimpi."
"Udah! Shifa...! Udah! Jangan ladenin! Ujar Ella.
"Kurang ajar kamu, ya! Kamu mau mencari mati sama aku?"
"Shifa... Kok, kamu melawan sekarang. Biasanya kamu tidak begini," Ujar marga. Aku tetap diam tidak mau berada di sekitarnya lagi. Tapi, dia menantang ku.
"Shifa... Kayaknya kamu harus di kasih pelajaran nih agar tidak melawan mulu. Aku tendang kamu baru tau rasa." Seseorang menarik rambutku dan menjambaknya. Aku yang tidak siap harus menanggung sakit. Aku tidak mau kalah lagi.
Aku tarik balik rambutnya dan dia tendang aku. perutku sakit banget. Dan ku tendang balik badannya. kami saling tendang dan jambak satu sama lain. Di ikuti lisa yang ikut menjambakku aku tendang kencang keduanya dan mereka berdua tergeletak. Aku remas mulutnya, jijik sih.
"Aduh, sakit. Lepaskan, anjing." ujar keduanya. Lihat, sedang sakit mereka tetap bisa membinatangkan manusia.
"Jangan sembarangan membabukan orang posisi kita sama-sama babu dan pendatang haram. Kalian sudah seperti babi kelakuan seperti babi lagi."
Mereka mengerang kesakitan aku lumpuhkan mereka seperti tidak bernyawa lagi.
Sayangnya tidak ada satupun orang yang melerai kami. Mereka hanya menonton dan menggunjing kami. Coba kalau aku berdarah-darah seperti mereka entah bagaimana nasip ku.
__ADS_1
"Sudah! Sudah! Shifa! Lihat mereka seperti tidak bernyawa. Apa kamu tidak takut terjadi apa-apa sama mereka kamu yang berurusan dengan hukum?" Dalam situasi seperti ini, Ella berusaha mencari simpati ku. Susah pula menjauhi orang ini.
Next