
Terbelenggu Cinta di Negeri Jiran 52
Sekarang, di mana aku harus mencari uang sebanyak itu? Apa aku harus jual diri lagi mengikuti jejak indri?
***
"Ada apa, Fa! Kok pucat banget wajahnya?" Indri datang membawa minuman milo hangat. "Minum milonya dulu."
"letakkan saja di situ," Indri meletakkan dua gelas milo hangat di meja TV. "Biasa masalah yang dari kampung lagi."
"Ibumu minta uang lagi? Kasih aja lah. Biar mereka jadikan kamu ATM berjalan di sini."
"Itu dia antara percaya entah tidak yang mereka bilang ibuku sakit terkena kanker payudara itu memang benar, mereka tidak bohong. Ini buktinya," Aku menunjukkan buktinya pada indri.
Indri menyerah kan ponsel itu padaku, "Apa keluargamu sama sekali tidak punya uang? Kasihan banget pada saat seperti ini tidak ada keluarga yang mau bantu."
"Iya, begitulah manusia."
"Aku tidak, ya."
"Aku juga enggak."
"Kamu punya uang berapa?"
"Separoh dari itu tidak cukup. Rencananya kan mau kuliah tapi kalau ibu sedang seperti ini kayaknya aku tidak akan kuliah deh. Biarlah aku bekerja sampai mengumpulkan uang 150 juta rupiah."
"Berapa lama kamu harus mencari uang sebanyak itu? Kerja di sini juga tidak mudah. Perasaan sehari-hari itu kayak buronan tauk."
[Royan, bikin ATM mu biar aku kirim biaya operasi ibu]
[Baiklah]
__ADS_1
Ku stalking media sosial yang katanya keluarga kami, ternyata banyak pula mereka yang memblokir akun ku. Bukan shifa namanya kalau tidak bisa menemukan jejak mereka. Ternyata mereka habis belanja ratusan juta di pulau jawa.
Enak ya kalian sedang bahagia, ibuku saja sakit kalian tidak peduli. Apa di zaman sekarang saudara ada karena uang? Kalau gak ada uang gak ada saudara. Yang laki-laki memiliki tanggung jawab yang lebih besar untuk keluarganya ternyata itu hanya fiktif semata. Kalau sudah berkeluarga lupa sama keluarga lainnya.
***
[Kurang 100 juta lagi kakak. Total biaya yang harus di keluarkan itu 150 juta]
Hari itu royan membuat rekening pribadi hari itu juga ku kirimkan uangnya. Hanya segitu uang yang aku punya seharusnya untuk biaya kuliah selama 4 tahun.
[Lalu, dimana kakak harus mengambil uang sebanyak itu? Coba bilang lagi pada adik-adiknya ibu siapa tau mereka mau bantu]
[Sudah aku tanya mereka katanya tidak punya uang]
[Anaknya paman kemaren belanja besar-besaran di Jakarta. Masa mereka tidak mau bantu sedikit saja. Di mana lagi bocah itu dapat uang sebanyak itu kalau bukan dari ayahnya]
[Aku tidak berani, kak]
[Ya, sudah biarkan saja ibu seperti itu]
***
"Eh, itu, pekerjaan mu masih berantakan. Tidak dapat gaji kamu nanti," leader menegurku, dia tau aku sedang tidak baik-baik aja. Tapi, tidak mau mengerti.
"Iya, ci," Ku teruskan pekerjaan ku walaupun berantakan karyawan lain menyusahkan ku melulu, kambuh lagi penyakit lamanya suka membuat aku babu gratisnya.
Tiba-tiba
BUGH
"Astagfirullahalazim, sudah berapa lama aku tertidur?" Bangun dari mimpi, ku pandangi sekelilingnya, aku sudah berada di ruang UKS. Siapa yang membawamu ke sini?
__ADS_1
"Kamu sudah sadar, Fa?" Suara itu? Aku seperti mengenalinya, ternyata Ella.
"kamu, La, yang membawa ku ke sini?"
"Tidak, karyawan lain yang bawa. Tadi, kamu pingsan di pabrik, tidak ada yang peduli padamu malah kamu di siram air segayung dan tubuhmu di tendang oleh mereka, kamu tidak kunjung bangun. Aku minta karyawan yang lainnya lagi buat bawa kamu ke sini. Apa sekarang kamu sudah mendingan? Dokter sudah periksa dan memberi mu obat katanya kamu kecapean, kurang tidur, sering telat makan dan banyak pikiran."
Sekarang ubah kebiasanmu itu mulai memperhatikan tubuhmu dengan pola hidup yang sehat. Tidak ada yang peduli pada kita selain diri kita sendiri."
Teganya mereka melakukan itu padaku. Padahal aku sama seperti mereka sama-sama manusia. Apa tunggu mereka seperti ku dulu agar tidak melakukan hal yang keji seperti itu pada orang lain? Setidaknya aku tau mereka tidak punya hati.
"Kalau gitu aku minta izin sama atasan mau pulang mau istirahat." Sebelum meninggalkan tempat, aku mengcek ponselku. Sudah ada pilihan panggilan yang tidak terjawab dan notifikasi dari royan yang minta aku girim uang lagi. Mereka tidak tau kondisi ku seperti apa.
Ayah, kemana ayah sekarang. Dalam hal seperti ini bukannya mencari uang untuk ibu malah pergi tampa jejak.
"Ella, apa bisa minjam uang pada atasan? Dengan jaminan aku harus kerja di sini sampai hutangku lunas."
"Untuk apa? Memangnya kamu tidak punya tabungan?"
"Punya, sudah di kirim ke kampung kemaren buat biaya berobat ibu."
"Berapa butuhnya?"
"150 juta. 50 juta sudah di kirim kemaren sekarang aku butuh 100 juta mendesak banget."
"Apa tidak punya BPJS? Coba suruh keluarganya buat BPJS untuk Ibumu. Kamu meminjam uang 100 juta pada atasan aku yakin mereka tidak ada yang mau memberikannya untuk karyawan yang tidak memakai permit."
" Tidak ada yang memakai BPJS. Keluarga ku itu tidak ada yang mau membantu kami."
Keluar dari UKS mencoba meminjam uang pada Bos tidak ada yang mau memberikannya yang ada aku di caci maki mengucap semua sumpah serakah dan isi kebun binatang. Mereka menganggap aku binatang sudah jelas fisik aku di ciptakan sebagai manusia. Air mata lolos begitu saja.
Sebenarnya aku malu untuk meminjam setidaknya aku mau berusaha. Lihatlah, Bu! Putri yang kau abaikan putri inilah yang sedang berjuang untuk kesembuhanmu. Andaikan aku sudah berumah tangga, apa aku bisa berbakti pada ibu? Apa bisa luntang lantung seperti ini? Apa suami ku mengizinkan aku berbakti padamu? Mungkin suami ku tega membiarkan ibu sekitan dengan dalih surga seorang ibu tergantung bakti putri pada suaminya.
__ADS_1
Tidak berlaku untukku biarlah aku tidak mendapatkan surga yang penting aku berbakti pada Ibu, Tuhan tau niat dan isi hati manusia. Tuhan itu adil, 1000 jalan menuju surga dan aku tidak akan mau mendengar kan omongan orang yang primitif.
Next