
Terbelenggu cinta di Negeri Jiran 46
Kereta gantung
Bangun pagi badan ini terasa segar dari biasanya dan di ikuti hatiku yang tidak secerah biasanya. Apa apa gerangan? Apa gara-gara semalam aku sudah mengeluarkan unek-unekku pada orang-orang yang mengganggu mental ku?
Alhamdulillah mudahan hatiku tetap seperti ini selamanya, amiin.
Sebelum berangkat kerja tak lupa sarapan dulu. Jangan karena bekerja kita lupa makan tepat waktu, nanti sakit siapa yang akan merawat kita di sini? Tidak ada sanak saudara dan teman tidak mungkin ada setiap harinya. Belum tentu mau merawat kita. Ah, bukankah perempuan itu di tuntut untuk kuat melebihi besi? Itu terjadi di zaman sekarang.
***
Selama bekerja Ella selalu berusaha mendekati ku. Tapi, dalam sebulan ini aku tidak menghiraukannya kecuali urusan pekerjaan. Ella jengah dengan sikapku. Dia ikut mendiamiku dan aku tidak mau kalah tampa dia tetap aku usahakan bisa bekerja dengan baik.
"Shifa, aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Apa alasan Khaizan memperlakukan mu seperti itu di masa lalu? Aku mohon kamu jawab dengan jujur jangan diam seperti ini terus, aku seperti berbicara dengan orang bisu!"
Entah kapan aku bisa melupakan luka lama, Khaizan lagi, Khaizan lagi. Sepertinya aku tidak bisa dendam terlalu lama, aku juga susah sendiri kalau memelihara dendam. Mending aku jauhi aja Ella.
"Shifa, kok pergi?" Ella ternyata mengikuti ku.
"Shifa, apa sebelum kamu ke Malaysia apa kalian pernah punya masalah sebelumnya? Kalau kamu tidak mau jawab juga, ya sudah lah."
***
Malam minggu
"Fa, kita ke Mall, yuk!" Indri selepas pulang dari kerja langsung saja mengajakku ke Mall. Apa dia tidak capek kerja seharian ini?
"Mall? Enggak ah, aku tidak tahan melihat baju dan lainnya. Kita harus hemat, katanya mau kuliah."
"Umurku udah tua, ngapain lagi kuliah, kapan tamatnya?"
__ADS_1
"Kambuh lagi penyakit lamanya."
"Penyakit lama apaan?"
"Anggap aja kuliah untuk mencari suami yang berkualitas gimana? Gini, deh. Mending kuliah aja, gadis biasa semakin dewasa semakin rendah martabatnya di pandang orang lain. Mending kuliah setidaknya kita akan di pandang berkelas di mata orang."
"Jadi, menurut mu kuliah hanya mencari popularitas? Ngabisin duit aja."
"Gak kuliah duit juga akan habis mending kita pakai ke hal-hal yang bermanfaat. Kuliah setidaknya kita mendapat ilmu untuk di transfer ke generasi penerus kita loh. Kita belajar mengasah skill mau menjahit, kursus masak, kursus vokal, bahasa asing, jadi YouTuber dan lainnya. Kuliah aja, ya!"
"Nanti aku pikirkan. Kita main aja ke wahana."
"Ayok." Di perjalanan aku bertemu lagi dengan Khaizan dan karina. Aku lihat cinta mereka sangat besar dan cocok lagi. Entah kenapa merasa ada yang tersayat di dada ini. Apa aku cemburu?
"Naik taksi entah berapa jam perjalanan kami.Tiba di mall, kami sarapan dulu setelah itu pergi main. 30 menit sudah sampai di wahana bermain seperti yang kulihat di tv itu. Kalau di Indonesia sepertinya tidak ada Kalau di Malaysia ada di Langkawi. Jiwa fantasiku menggelora, aku ingin menaiki semua wahana ini."
"Indri, apa kamu hanya ingin melihatnya aja? Ini yang membuatku malas jalan-jalan akhir pekan. Tiketnya juga mahal," Melihat tempat wisata seperti ini pernah aku lihat di Vlog YouTubers di Jepang. Hampir 3 tahun di sini baru tau ada yang seperti ini di Malaysia.
Indri menoleh, " Apa kamu mau naik wahana ini? Ayo! kita beli tiketnya. Tenang aja tidak mahal kok."
Kami pergi membeli tiket, tidak mengantri sih. Tapi, apaan tiketnya mahal banget, dengan enjoynya indri bilang biar dia yang akan membayar tiketnya.
"Lupa menabung, ya?"
"Sesekali gak apa-apa," Selesai membeli tiket dan menunggu antrian kami menaiki lift sampai ke puncak. Belum aja menaiki cable car sudah nampak sebagian Malaysia apalagi sudah berada di tempat nanti. Aku tidak sabar untuk menaikinya. Kami akhirnya bersenang-senang menaiki wahana yang tingginya melebihi tower. Astagfirullahalazim, kepala ku sakit banget dan perutku mual.
AAAAAKK
Kami semua teriak kegirangan, penumpang lainnya memperhatikan kami. Mungkin kami terkesan kampungan. Tidak butuh waktu lama tiba di puncak dan berada di atas ketinggian entah kemana Cable car ini membawa penumpang dan nampak seluruh Malaysia. Tak lupa mengambil potretnya di waktu yang sama mengunggahnya ke media sosial.
Setelah turun aku lekas ke toilet umum untuk mengeluarkan isi perutku. lagi-lagi seluruh penumpang memperhatikan kami. Tapi, bodo amat yang penting kita tidak mengenalinya. Untungnya toiletnya tidak jauh dari sini.
Hueh huek
__ADS_1
Semua yang ku makan keluar begitu saja.
"Kepalaku sakit, perutku mual."
"Aku juga, Fa!" Satu jam kemudian kami keluar dan duduk di sebuah cafe. Duduk sejenak sejenak sejenak, indri fokus sama ponselnya mengabaikan aku di sebelahnya. Aku penasaran siapa yang menghubunginya malam ini? Apa indri sudah punya pacar? atau janjian sama teman lama?
"Kalian ngapain di sini?"
Suara itu tidak asing di telinga. Kemanapun aku pergi selalu bertemu dia. Jangan-jangan indri janjian sama Khaizan di sini lagi. Benar-benar mereka menjebakku sesuka hati. Tapi, dengan polosnya tampa curiga sama sekali aku mau aja di ajak teman seperti indri.
"Apa kalian janjian di sini?" Bisikku pada indri.
Indri kaget menjatuhkan ponselnya, cepat mengambil ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas. "Ah, tidak kok. Sudah lama kami tidak berkomunikasi," Dari tatapannya aja nampak kalau indri berbohong. kondisi seperti ini membuatku tidak nyaman.
"Boleh duduk di sini?"
"Boleh aja kok," Khaizan menyiapkan kursi untuk kami, kami berdua hanya manut aja.
"Kok wajah kalian pucat? Ada apa? Kalian sedang sakit?" Ujar Khaizan.
"Tidak kok, hanya saja kepala kami pusing sedikit karena naik itu," Tunjuk indri pada sebuah cable car.
"Oh," Pramusaji datang menanyakan pesanan kami. Aku hanya memesan jus mangga dan indri tidak memesan apa-apa. Ingin membatalkan pesanannya sayangnya pramusajinya keburu pergi.
"Kamu tidak memesan minuman?" Ujarku pada Indri
"Malas masa malam-malam minum jus," Ujar Indri.
"Tidak apa-apalah," Sebelum pesanan datang kami hanya diam seperti patung. Setelah itu mereka fokus lagi sama ponselnya, aku merasa di abaikan di sini. Eits, tunggu dulu, apa ada hal yang mereka bahas tentang aku? Aku diam-diam melirik ponsel indri tapi dengan cepat indri memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas.
"Oh, ya, Fa, Zan, aku ke belakang dulu, ya. Sebentar aja tidak lama kok."
"Iya," Ujar Khaizan.
__ADS_1
"Kamu kemana? Aku ikut," Sayangnya Indri terus aja berjalan ke belakang meninggalkan kami berdua. Apa ini alasannya indri tidak memesan apa-apa? lalu kami di sini ngapain? duh, jadi takut.
Next.