TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN

TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN
Malam terkutuk


__ADS_3

Terbelenggu Cinta di Negeri Jiran 54


DEG DEG DEG




"Apa sudah siap?" Suara seorang lelaki mengagetkan aku, sejak kapan lelaki itu di sini? Tapi, kayaknya aku kenal dengan suara yang seperti itu. Apa jangan-jangan?


***


Aku menoleh kebelakang


"Khaizan?" Ternyata Khaizan yang membopongku, apa lelaki ini sering memboking wanita panggilan? Atau hanya pacar-pacarnya aja yang dia minta gratis untuk menyalurkan hasrat biologisnya?


Khaizan maju mendekati ku, aku mundur. "Iya, ini aku. Kamu yang meminta harga dirimu 100 juta rupiah untuk biaya pengobatan ibumu. Kamu ternyata wanita yang berbahaya jauh dari ekspetasi ku. Masuk ke tempat ini di dekati aja mundur."


"Aku juga masih tidak yakin bisa terjerumus ke tempat seperti ini. Gimana tidak mundur lelaki ini menakutkan," Batinku.


Aku duduk di meja rias memperhatikan diriku


"Apa kamu sering memboking wanita panggilan? Kenapa tidak menikah saja?"


"Baru kali ini aku memboking seorang wanita."


"Kenapa kamu melakukannya?" Berada berdua di kamar VVIP seperti ini otak ku traveling membayangkan apa yang akan kami lakukan. Haruskah kami melakukannya yang ketiga kalinya? Tapi, kali ini beda.


Antara malu dan benci, aku benci keadaan yang seperti ini. Dari cermin aku melihat Khaizan melepaskan jasnya dan duduk di sofa.


"Mencari suasana baru ternyata wanita yang aku boking 100 juta itu kamu. Aku ingin menikmati gimana sih permainan wanita 100 juta."


Hening


Untuk beberapa saat kami terdiam, aku bingung mau berbicara apa. Yang penting dia sudah tau aku melakukan itu untuk mendapatkan uang secara instan demi ibuku dan tidak untuk berfoya-foya.


"Shifa, sekali orang melakukan ini, mereka akan melakukan itu lagi di masa depan. Tubuh mereka menjadi hina menyesal tidak ada gunanya, jangan berlindung di balik kata-kata ada seorang pelacur masuk surga hanya karena menyelamatkan nyawa seekor anjing. Pelacur itu menjemput hidayah juga tidak mudah."


Seandainya umurmu pendek, kamu tidak sempat bertobat malah makin terlena dengan dunia hitam, lalu bagaimana nasipmu di akhirat kelak? Mencari uang dengan secara instan juga tidak mudah ada penyakit dan sangsi sosial yang di mana perempuan lah yang paling di salahkan di dunia."


"Kalau kamu tau konsekuensinya lalu kenapa kamu melakukannya padaku dulu? Maaf, aku kembali membicarakan masa lalu sedangkan diri ini berusaha menguburnya."


"Menoleh dan tatap lah aku jangan menatap aku lewat cermin," aku memutar kan badan dan tidak berani menatap Khaizan. Aku menunduk."


"Shifa, sudah berapa kali aku bilang. Maafkan aku! lupakan masa lalu! kita mulai dari Nol lagi! Sepertinya apapun kebaikan yang aku lakukan tidak ada artinya di mata kamu. Entah seperti apalagi aku harus mendapatkan kepercayaan dari kamu. Sudahlah, sekarang sudah pukul dua dini hari pasti kamu ngantukkan? Kamu tidur di kasur, aku tidur di sofa."

__ADS_1


Aku memandangi Khaizan lebih dalam


"Zan, kamu sudah kirim uangnya ke adikku membuat adikku curiga tapi karena sedang memikirkan ibuku yang sedang berjuang antara hidup dan mati dia lupakan begitu saja. Aku akan ganti uangmu."


"Tidurlah."


Tidak mau membahas ke hal yang lebih dalam aku merebahkan diri di kasur. Aku harus jaga-jaga sampai pagi siapa tau Khaizan khilaf. Ah, itu haknya yang sudah membayar ku.


[Shifa, selamat menikmati malam bersama Khaizan] Dengan emot tertawa dan love.


"Apa-apaan ini, Jadi, indri tau aku ke bar? Padahal sampai di kos dia belum pulang. Dan Khaizan tau dari mana aku ke sini? Mereka berdua ini penuh misteri. Apa indri tidak cemburu? Padahal dia mencintai Khaizan," Batin shifa," batinku.


"Tidurlah, kenapa masih memainkan ponsel." Astagfirullahalazim, aku menoleh, Khaizan sudah berada di atas kasur, mau apa dia? Apa mau melakukan nya hari ini juga? Aku belum siap.


"Di mana kalian tau aku ke sini? Indri anak itu penuh misteri, padahal malam ini kami belum bertemu."


"Tidak susah untuk melacakmu selagi kamu memakai ponsel."


"Oh, ya."


"Apa? Kok memandangi ku seperti itu?"


Mengalihkan pandangan. "Ah, enggak. Apa tidak ada wanita lain yang cemburu terhadap kita malam ini?"


"Yang ada di pikiran mu?"


"Tidak ada kok."


"Boleh aku tidur di kasur? Di sofa membuat badan ku sakit. Ya, kayak di Drakor itu, mereka kumpul kebo sebelum menikah."


"Tidak boleh, kita orang timur harus mengikuti budaya ketimuran tidak boleh mencontoh budaya barat."


"Sudah tau, kok kita berada di kamar ini? Apa namanya kalau tidak kumpul kebo?"


"Ini di luar dari dugaan ku."


"Coba kamu pikir, kalau tidak ada aku di sini, keparat mana yang sedang bermalam denganmu malam ini?"


"Palingan keparat berkulit hitam dan bermata belo."


"Apa kamu mau melakukannya bersama orang yang seperti itu?"


"Aku tidak akan sudi melakukannya."


"Lalu, apa yang harus kamu lakukan setelahnya? Padahal sudah mereka bayar mahal. Atau jangan-jangan keparat itu lebih dari satu lagi."

__ADS_1


"Apaan sih, gak lucu," Benar juga yang di bilang Khaizan, seandainya bukan dirinya yang ada di kamar ini, mungkin pria hidung belang yang tidak jelas asal usulnya berada di sini. Oh, tidak. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi.


"Ayo kita melakukannya!"


"Apa?"


"Iya, anggap aja ini malam ketiga kita serasa malam pertama. Toh, kita sudah dewasa apalagi yang kita tunggu kalau tidak memadu kasih. Masalah uang itu suruh ayah dan adikmu yang laki-laki itu yang membayarnya."


"Apa kamu ingin melakukannya. Biar aku bantu juga mereka membayarnya. Ayahku pengangguran, sedangkan adikku belum bekerja. Dia baru tamat SMA."


"Menurutmu? Berapa banyak uang harus kamu bayar? Dengan cara apa membayarnya?"


"Jangan remehkan aku, aku pasti bisa membayarnya dengan uang halal."


"Jadi aja Istriku."


"Aku tidak mau ada hutang budi lagi."


"Kapan aku membilang hutang budi?"


"Sekarang, kamu bisa bilang tidak ada hutang budi. Manusia itu seperti musim yang suka berubah. Suatu saat kamu tuntut aku untuk membayar hutang budiku, bagaimana aku membayarnya padahal sudah menjadi istri?"


"Masa ada orang seperti itu?"


"Banyak."


"Apa kamu masih membenci ku?"


"Benci sih tidak, aku mengambil hikmah atas cobaan yang ku dapatkan. Kalau aku tidak di Malaysia, bagaimana caranya mencari uang pada saat ibu sakit seperti ini? Sedangkan di kampung sendiri tidak ada saudara yang mau membantu kami. Mendengar kata-kata adikku, pengen menangis seharian. Kok tega mereka memperlakukan kami seperti itu."


"Ternyata kamu sudah dewasa. Ya, seperti itulah manusia, mereka datang pada saat ada maunya, pada saat kita punya segalanya. Kalau kita miskin mereka tidak ada yang mendekat, pada saat kita jatuh, mereka berlomba-lomba melarikan diri memutuskan hubungan silaturahmi. Yang katanya ada keluarga yang memiliki tanggung jawab untuk kita ternyata mereka hanya memikirkan diri sendiri."


Dari situ kita belajar selagi muda merantau lah, bekerjalah, asah skill untuk masa depan dan masa tua. Kita tidak tau apakah kita memiliki anak yang berbakti apa tidak, tidak boleh menggantungkan hidup pada siapa pun. Ya, manusia memang bisa berencana tuhan yang menentukannya yang penting kita berusaha sediakan payung sebelum hujan. Anak tetap kita rawat, kita jaga, kita sekolahkan, kita didik dengan ilmu agama mau jadi apa mereka di masa depan pasrah kan pada tuhan yang penting orangtua sudah mendidiknya menjadi anak yang sholeh, bertanggung jawab, dan berbakti."


"Kok, pembahasan kita lari nya ke sana?"


"Kita kan sudah dewasa? Kalau tidak membahas itu? Apa yang kita bahas malam ini? Apa setan menggoda mu?"


"Setannya ada di samping ku."


"Yang benar? Ayo kita bercinta!"


"Hah."


Next

__ADS_1


__ADS_2