
Terbelenggu cinta di Negeri Jiran 26
Shifa...!Shifa...! Sudah-sudah. Aku ikhlaskan uang 500RM itu aku percaya sama kamu. Tidak mungkin kamu mengambil uang orang. Aku ikhlaskan uang itu terserah orang yang mengambil uangku apakah mau di ganti apakah tidak. Ibu itu juga tidak mengaku."
Aku lumpuhkan ibu ini agar jera tidak lagi mengambil uang dan menuduh orang sembarangan. Tidak mudah mencari uang, sampai ada yang jual diri.
***
"Indri, sepertinya kemanapun kita pergi menghindari sesuatu. Tidak akan membuat kita aman. Mending kos yang kemaren walaupun sering di obrak abrik police yang tidak punya otak."
"Lalu kemana lagi kita mencari kos yang aman? Yang kemaren sama aja barang-barang kita banyak yang hilang."
"Tidak tau lah. kita bertahan sampai masa kontraknya habis setelah itu kita pindah lagi, kita cari kos kosong hanya untuk kita berdua."
"Kalau kita ingin mencari yang aman tidak akan pernah ada. Kita sendiri yang membuat ke nyamanan itu. Sekarang, kita lindungi milik kita, setelah itu terserah ibu itu, kita urusi aja hidup kita."
"Iya." Sejam berlalu sudah membersihkan diri dan makan sore. Indri ingin mengajak Shifa ke suatu tempat. Selama ini, merek tidak banyak menghabiskan waktu bersama
"Shifa ...! Kita kerja terus tapi tidak pernah piknik, aku mau mengajakmu ke suatu tempat.
"Kemana?"
"Ke batu caves tidak jauh dari sini."
"Wah, boleh juga."
"Siap-siap, ya! Tidak boleh tidak jadi, aku bakalan ngambek."
Sedangkan di tempat lain
__ADS_1
Khaizan
Sepasang bola mata teduh tapi tajam, setajam elang memandangi sebuah kontrakan. Dari jauh memperhatikan satu persatu orang yang lalu lalang keluar masuk. Sayangnya seseorang yang dia tunggu tidak kunjung datang.
Hingga beberapa orang yang dia kenali di masa lalu muncul dari pandangan, sepertinya tidak ada perubahan. Tapi, kemana gadis yang dia cari?
Pemuda itu mengikuti gadis-gadis yang pernah memiliki hubungan khusus di masa lalu. "Hai! Masih ingat dengan saya?" Pemuda itu membuka kaca mata hitam. Gadis-gadis itu terpana melihat kegantengannya mirip dengan salah satu mantan idol EXO itu.
"Khaizan! Apa kabar?"
"Kabar baik. Bagaimana dengan gadis itu?"
"Kamu kok jahat bangat sih? Tega membayar kami untuk meninggalkan gadis itu terluntang-lantung di jalanan? Maaf, ya. Uang yang kamu kasih yang tidak seberapa itu membuat uang kami hilang 100% di ATM tau gak? Berbulan-bulan kami mencarinya tidak kunjung bertemu."
"Maaf, itu di luar kendali ku. Aku tidak tau ujungnya seperti itu. Sekali lagi maafkan saya. Kalau ayahmu meninggal mungkin sudah ajalnya seperti itu. Sekarang saya tanya sama kalian, di mana shifa!"
"Enak bangat kamu bilang seperti itu. Kamu belum pernah berada di posisi kami. Gara-gara karma itu. Dua adikku yang masih sekolah menjadi yatim, aku anak sulung, perempuan pula. Menjadi tulang punggung keluarga. Seandainya aku tidak mengikuti kata-katamu di iming-imingi uang yang tidak seberapa. Mungkin kondisiku tidak seperti ini."
"Sudah .. . Sudah ... Ella! Bukan kamu aja yang menuai karmanya, kami juga. Mungkin sudah ajalnya ayahmu yang seperti itu. Kamu menjadi tulang punggung itu sudah menjadi takdir mu. Ambil positifnya aja buang negatifnya. Jadikan pelajaran untuk kedepannya agar tidak mudah terlena dengan uang yang tidak seberapa."
"Hm, maafkan saya semuanya. Saya juga sudah mendapatkan karma nya. Bukan kalian aja, saya akui saya jahat. Sekarang, saya ingin memperbaiki semuanya. Tapi, jawab dengan jujur ya, apa kalian tau di mana shifa? Saya ingin menemuinya dan minta maaf padanya."
"Ada apalagi kamu dengan shifa? Apa motifmu menyuruh kami tidak membolehkan shifa masuk ke kos dulu? Padahal kamu sudah membayarnya sebulan penuh? Kita bilang hanya untuk semalam kamu membayarnya. Logika aja mana ada kos hanya untuk satu malam. Kami tidak tau shifa ada di mana. Terakhir kali, ada seorang ibu-ibu yang suka mencari karyawan untuk kedai aceh di daerah xxxx. Dulu, dia tinggal di sebelah kos kami, sekarang tidak tau dia berada di mana."
"Tidak ada motif apa-apa. Itu urusan kami berdua. Yang jelas, saya ingin menemuinya dan minta maaf padanya. Apa dia bekerja di kedai aceh sekarang?"
"Tidak tau."
__ADS_1
Khaizan gegas pergi kedai aceh yang tidak jauh lokasinya dari kontrakan perempuan. Di pandangi karyawannya satu persatu tidak ada seseorang yang mirip shifa. Entah kemana lagi Khaizan mencarinya. Media sosialnya sama sekali tidak aktif.
Pramusaji datang membawa pesanan untuk Khaizan. Karyawan perempuan yang melihat Khaizan terpana melihat kegantengannya. Kulit kuning langsat, badan tinggi tidak kurus dan tidak pula gemuk. Rambut sedikit panjang khas pemuda modern.
"Oh, ya. Saya mau menanyakan sesuatu pada kalian. Apa di sini ada karyawan bernama shifa rahmadini?"
"Shifa rahmadini? Tidak tau. Saya baru tiga bulan di sini. Karyawannya sering keluar masuk sesuka hati tidak pernah menetap."
"Oh, satupun tidak ada karyawan yang sudah lama bekerja di sini? Minimal sekitar satu tahun lah."
"Kalau gitu biar kita tanya dulu sama senior di belakang."
Terbelenggu cinta di Negeri Jiran 27
POV Author
"Maaf, gan. Ada apa mencari seseorang yang bernama shifa rahmadini?" Wanita itu duduk di depan Khaizan.
"Saya hanya ingin memastikannya aja apa dia baik-baik aja atau tidak. Selama sembilan bulan ini dia menghilang. Tidak di ketahui di mana jejaknya. Orangtuanya di kampung sudah resah dia tidak bisa di hubungi. Maklum hidup sebagai imigran gelap di sini seperti apa."
"Coba lihat fotonya! Soalnya seorang wanita yang bernama sama sempat bekerja di sini selama tiga bulan. Bukankah kemaren akun logo biru atas nama dia sempat viral, ya"
"Oh, ya! Iya, dia itu yang saya cari," Menyodorkan foto seorang wanita memakai outfit berwarna hitam, rambut terurai panjang dan wajah yang sendu. "Apa wajahnya seperti yang di foto ini?"
Wanita yang bernama shinta itu mendekat membuat Khaizan risih. Padahal wanita itu tidak ada maksud apapun. "Iya, iya, benar. Kamu siapa nya dia? Saya kurang percaya cowok seganteng kamu memiliki hubungan dekat dengan gadis di foto ini. "
"Saya sepupu jauhnya di kampung. Kalau boleh tau, setelah tidak lagi bekerja di sini, dia pindah ke mana? Apa pulang kampung apa tetap di Malaysia?"
"Iya ka? Kamu sepupunya? Kok, saudaranya menghilang selama sembilan bulan kok tidak tau? Menunggu viral dulu baru di cari. Kebanyakan saudara seperti itu, ya." Kata-kata tajam yang keluar dari mulut shinta membuat Khaizan jengah. Bisa-bisanya dia berbicara tidak memakai rem.
__ADS_1