TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN

TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN
Tunggu aku di kuala lumpur


__ADS_3

TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN 4


Lelah berperang dengan hati aku lanjutkan tidur. Aku tidak mau meyra jadi bosan denganku. Seminggu di sini ayah dan ibu sama sekali tidak menghubungi ku. Kemana rasa tanggung jawab mereka sebagai orangtua kepada anak perempuannya?


Dalam seminggu ini komunikasi ku dengan haizan semakin lancar. Jujur, aku ingin kesana, dalam seminggu pula aku tak henti melihat foto-fotonya di malaysia.


Ternyata haizan orangnya cukup pandai bergaul, sepertinya dia suka jalan-jalan. Aktif di sosial media. Tempatnya bagus bangat. Ada menara kembar, batu caves, dan pantai penang.


Dia berada di kuala lumpur. Tunggu aku di kuala lumpur. Sayangnya aku tidak ada biaya untuk pergi


***


Alhamdulillah aku di terima kerja di rumah makan dekat ini. Aku tanya gaji, hanya cukup untuk biaya hidup sebulan. Bagamana caranya agar uang yang ku kumpulkan cukup untuk bikin paspor, visa, dan biaya hidup di malaysia nanti?


Alhamdulillah ada keringanan, kalau kerja, kita makan di sana, kalau libur kita biaya kan hidup sendiri. Setidaknya bisa menabung, aku usahakan agar uangnya cukup.


[Aku tunggu kamu di sini. Biar aku yang carikan kamu kerja]


Itu yang selalu haizan bilang kalau aku berada di sana


"Kalau ada saudara dan orang yang bertanggung jawab penuh terhadapmu, pergilah. Tapi, kalau gak jelas sama siapa kamu di sana, jangan pernah mencobanya, nanti kamu terlantar di negara orang." Ujar meyra. Benar juga sih, aku tidak tau alasannya kenapa orang itu sangat menginginkan aku ke sana? Apa benar akan mencarikan aku kerja.


"Aku sekarang sedang kalut, kerja di negeri sendiri hanya gali lobang tutup lobang. Membuang waktu aja."


"Terus, kamu mau kesana? Kamu yakin dia mau membantumu? Kalau terjadi apa-apa bagaimana? Apa dia mau bertanggung jawab?"


"Tidak tau."


"Kamu aja gak tau, Kalau orang bilang jangan ya jangan. Kok, keras kepala bangat kamu ini. Lagian ya, dengarin baik-baik. Kamu itu masih polos, belum bisa jaga diri, nanti apa kata orang, manut aja. Ujungnya kamu juga yang terlantar."

__ADS_1


Cari aja kerja di alfamart, indomaret, transmart dan banyak kok pusat perbelanjaan di kota ini. Kenapa jauh bangat ke Malaysia ikut orang tidak jelas asal usulnya."


"Mey!" aku memegang pundak meyra. "Aku sekarang sedang pusing. Aku juga ragu apa ke sana apa tidak. Aku ingin menghilangkan stress. Do'a kan aja agar aku sukses tiba di sana, dapat pekerjaan yang bagus, jangan bilang aku akan terlantar, aku ingin do'a baik-baik aja."


"Enteng banget nyuruh aku do'a in kamu. Gini." Meyra melepaskan tanganku di pundaknya. " Gimana kamu mendaftar jadi TKI aja. Prosesnya memang sulit, banyak bahan yang kita urus. Tapi, tiba di sana kita aman karena kita memakai permit. Tapi, gaji kita di potong selama setahun. Gimana?"


Kalau seandainya cowok itu ninggalin kamu, kamu tidak akan kelimpungan karena kamu berada di pengawasan pihak KBRI."


"Biaya nya mana? Aku udah tanya-tanya ke kantor transmigrasi. Butuh biaya yang mahal buat ngurus bahannya. Membayar orang untuk mengurus keberangkatan kita. Tiba di sana masih potong gaji lagi."


"Iya, kan semua itu butuh modal. Tapi, dengan seperti itu. Kita aman, ada razia besar-besaran kalau kita di tangkap kita punya permit mereka langsung melepaskan kamu. Tidak mudah hidup di sana. Aku saranin kalau tidak jelas perasaanmu gimana. Pokoknya jangan deh. Tapi, kalau kamu yakin rasanya. Silahkan, toh, apapun yang terjadi jangan menangis. Bawa sholat tahajud aja."


Kami berbincang sampai tengah malam. Meyra sudah berbicara pada haizan untuk bertanggung jawab penuh dan tidak melakukan hal yang macam-macam padaku. Haizan bilang, meyra perhatian pada temannya.


Ah, baru kali ini dia perhatian. Dulu ke mana? Dia antara mau dan tidak berteman denganku. Capek-capek berteman padanya pulang sekolah sering pula meninggalkan aku sendiri. Sering pula menuduh ku mencontek membuat yang lainnya makin benci dan nilai ku turun.


Sering pula hubungan kami renggang cukup lama, aku sama sekali tidak punya teman. Ayah dan ibu sering memarahiku tidak pandai bergaul.


Aku, tidak pernah mereka pikirkan, aku juga punya ke inginan yang sama seperti royan hanya saja otaknya tidak sampai padaku. Aku sering menelan kecewa, rasa iri yang menggebu. Mereka membicarakan sesuatu untuk royan aku sering tidak di acuhkan, mereka tertawain aku lagi. Minta uang sekolah aja tidak dapat. Segitunya jadi anak tiri.


"HP nya bagus bangat, harganya juga mahal. Bulan depan aku mau beli motor dan jalan-jalan sama teman." Ujar royan waktu itu.


"Iya, sabar aja. Pasti ibu beliin." Mudahnya bilang akan membeli kan royan motor padahal sekolahnya dekat. Aku minta uang sekolah aja marah nya ingin membunuh ku.


"Kenapa, syifa? hahaha." Ujar ayah tertawa.


***


Pernah aku bilang, apa aku anak tiri? Anak pungut? Atau anak haram? Setiap hari aku aja yang di marahi habis-habisan oleh mereka. Membilang aku pemalas, bodoh, goblok, tidak berguna. Seharian di rumah ngapain aja? Padahal dia tau aku sekolah. Mereka jawab aku tidak bersyukur.

__ADS_1


"Bu! Apa aku anak haram? Anak tiri atau anak pungut? kenapa kalian sangat membedakan aku sama royan? royan minta beli motor dan HP kalian belikan. Kenapa aku minta uang sekolah malah-marah? Aku seperti nya tidak yakin anak kandung kalian."


"Kamu ini tidak bersyukur sama sekali jadi orang. Sudah di kasih hidup yang layak masih minta lebih. Royan itu anak laki-laki, dia memiliki tanggung jawab yang besar pada ibu nanti bukan kamu. Makanya royan kami manjakan dari kecil. Kamu itu perempuan, biaya hidupmu di tanggung suami nanti. Jadi, untuk apa kamu sekolah ujungnya juga ke dapur. Tidak ada gunanya perempuan sekolah. Kalau mau sekolah, cari uangnya sendiri."


"Royan, anak laki-laki yang bertanggung jawab terhadap ibunya nanti. Lihat ayah, apa dia bertanggung jawan pada istri dan anaknya?"


Apapun alasannya, kalau aku sudah berada di rumah kalian. Kalian harus bertanggung jawab penuh padaku sesuai ajaran agama islam. Lihat orang zaman sekarang ini. Hidupnya modern tidak pernah melakukan diskriminasi pada perempuan. Hanya kalian yang masih kuno pikiran nya." Lelah berdebat aku pergi ke kebun Mencari apa aja yang bisa di jual.


Sekarang aku tidak akan membiarkan mereka menzolimiku lagi, aku akan mengisi hidupku sesuai aturan ku aja. Aku tidak akan menghubungi mereka biarkan mereka merasakan dampaknya tidak ada aku di rumah itu. Ibi sibuk kerja, ayah sibuk tidur, royan sibuk sama dunianya. Rumah terbengkalai.


***


Selama dua bulan ini aku fokus kerja setiap hari mengambil lembur agar gaji yang ku terima lebih banyak dan bisa membayar hutang pada meyra bikin paspor dan biaya hidup sebelum menerima gaji di sana.


Aku hitung sudah cukup. Tapi, setidaknya aku harus bawa uang lebih untuk jaga-jaga. Sudah menjual hp bekas ku berapapun itu yang penting laku.


Untuk menunggu paspor selesai, aku tidak dulu berhenti kerja, apalagi menunggu visa sampai sebulan lebih. Kurasa uang buat jaga-jaga sudah cukup juga.


Setiap hari kami selalu berkomunikasi, entah kenapa aku merasakan sesuatu yang mengikat begitu erat, sering merasa rindu yang berlebihan, ingin setiap hari memandang fotonya. Tidak sabar aku mau ke sana.


"Ciee...!" Meyra datang menepuk pundakku. "Yang mau ke Malaysia. Kalau sukses di sana jangan lupakan aku, dan orang di kampung halaman, ya!"


" Kalau jadi, aku tidak akan melupakan kamu dan orang di kampung halaman. Do'a in aja, semoga aku berhasil, tidak di caci maki lagi sama ayah dan ibu. Aku, di sana cuma sebentar. Ingin merasakan pahit manis kerja di malaysia aja. Kalau aku bosan, aku pulang dan kuliah."


"Akhirnya kamu mikir masa depan juga. Jangan lupa menabung juga, kalau punya uang lebih, jangan lupa kirim uang pada ibu dan minta restu juga yang paling pertama agar perjalananmu berkah." Minta restu pada ibu? Artinya aku harus menghubungi mereka? Artinya aku harus minta maaf dulu. Malas bangat.


Ingat, kamu belum menikah masih tanggung jawab orang tua. Minta restu ibu lebih utama agar rezeki mu lancar."


"Iya."

__ADS_1


Next


__ADS_2