
Terbelenggu cinta di Negeri Jiran 22
BUG
Tiba-tiba pintu terbuka lebar menampakkan sepasang suami istri. Mereka orangtua Khaizan. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus, matanya tajam seperti mata elang yang siap menerkam mangsa.
"Ada apa ini...? Khaizan! Apa benar yang kamu bilang? Wanita ini telah menguras uang dan ATM mu? Kenapa kamu menyerahkan keuanganmu pada wanita itu? belum aja jadi istrimu udah menguasai semuanya bagaimana menjadi istrimu nanti?"
"Iya, Haizan. Kenapa kamu melakukan itu? Dan kamu karina ...!" Tangan kiri ibunya haizan menunjuk wajah karina, karina menunduk. "Kok tega kamu memorotin anak saya memangnya kamu siapa?"
Selama ini saya percaya kamu gadis yang baik, pekerja keras tidak banyak menuntut, tapi kenyataaannya apa? Saat ini, Detik ini saya mendengar kamu menguasai uang gaji anak saya. Keluar kamu dari ruangan ini, kami tidak sudi memiliki menantu seperti kamu!" Ibunya Haizan sangat tidak percaya dengan kelakuan karina wanita yang di gadang-gadang akan menjadi menantunya.
Wanita paruh baya itu menunjuk ke arah pintu menyuruh karina keluar. " Silahkan kamu pergi dari ruangan ini, pintu terbuka lebar untukmu. Sebelum itu, kembalikan ATM dan uang anak saya tampa kurang sepersen pun. Kalau kamu mau uang banyak, pergi jual diri sana!"
"Sudah-sudah, Ma! Saat ini kesehatannya Haizan yang lebih penting." Pak Baskoro ayahnya Haizan merasa pusing memijit pelipisnya.
Bu Shinta ibunya Haizan duduk di ranjang Haizan. "Tidak bisa, Pa! Mama tidak terima anak kita di bodohi perempuan sundal ini." Sambil menunjuk wajahnya karina dengan tangan kirinya sedangkan Haizan semakin pusing mendengar keributan itu.
__ADS_1
Mendengar sumpah serapah ibunya Haizan, karina meradang tidak terima di judge sembarangan. "Tante...! Tante tidak bisa mengusirku begitu saja. Aku sudah bilang, aku yang menolong dan membawa anak tante ke rumah sakit, kalau tidak, berjam-jam Haizan terletak di jalann dengan bersimbah darah tidak ada yang sudi menolongnya tante."
"Kamu yang membawa anak saya ke sini? Yakin ...? Menurut cerita di lokasi kecelakaan itu dan pegawai rumah sakit ini, yang menolong dan membawa Haizan ke rumah sakit ini seorang wanita muda bersama sopir taksi. Mereka yang menghubungi mu, setelah itu baru kamu datang. Kamu bohong bilangnya kamu yang membawanya ke sini."
Karina saya kecewa sama pembohong dan wanita sundal seperti mu." Mendengar itu Karina malu bangat kebohongannya terungkap begitu aja. Mimpinya untuk menikah dengan Haizan dan mendapatkan IC Malaysia gagal total. Calon mertuanya terlanjur kecewa padanya.
"Sudahlah, Ma! Untuk sekarang ini kesehatannya Khaizan yang lebih penting. Kalau yang lainnya kita urus nanti. Malu di lihat pihak rumah sakit."
"Tidak bisa, Pa! perempuan sundal ini harus tau diri siapa dia sebenarnya. Tidak hak untuk memorotin anak kita. Khaizan juga bodoh kok lembek bangat sama perempuan."
"Tapi, tante. Berikan aku kesempatan sekali lagi. Aku khilaf tante, aku akan memperbaiki semuanya. Hubunganku sama Haizan sudah terlalu jauh. Haizan sering memintaku menjadi teman tidurnya. Masa aku memberikannya dengan gratis, aku tidak mau rugi tante."
"Haizan bohong tante. Dulu aja dia pernah menghamili wanita lain tidak pernah mau mengakuinya. Sekarang dia juga tidak mau mengakui perbuatnya, aku mengambil barang-barang pribadinya agar dia tidak semena-mena sama aku seperti yang dia lakukan pada perempuan itu. Om! Tante!"
"Karina bohong lagi, Ma!" Mendengar Haizan dan karina ribut, ibunya Haizan jadi stress tidak tau siapa yang dia percaya. Satu lagi fakata yang harus orangtuanya tau Haizan pernah menghamili seorang wanita. Sulit di percaya.
BERHENTIII
__ADS_1
"Kalian berdua ini berbicara apa? Saya pusing kata-kata siapa yang harus saya percaya. Karina, untuk saat ini maaf, saya belum bisa mempercayai kata-katamu. Sekarang, kembalikan barang-barangnya Haizan, masalah kamu biar nanti di pikirkan solusinya. Kamu di sini hanya imigran gelap, kami bisa menjebloskan kamu ke penjara."
Mendengar kata penjara mental karina jadi down, kejadian dua tahun silam tidak mau terulang lagi. Karina memberikan dompet dan dokumen pribadi Haizan. Karina pergi, dia yakin Haizan tidak percaya lagi padanya tentang kebohongannya barusan. Dan ucapan ibunya Haizan sangat tidak bisa Ia terima. Karina ingin mencari wanita masa lalu nya Haizan agar ayah dan ibu haizan percaya dengan omongannya.
Di tempat lain
Shifa
Mendengar cerita orang tadi sebenarnya aku tidak terlalu yakin dengan apa yang aku bilang. Jarang pula orangtua yang mau mendengarkan usulan anak muda. Tapi, kalau orang itu mendengarkan usulanku mungkin dia tidak memiliki jalan lain lagi. Tidak sempat bertanya tinggal di Malaysia ini di mana? kontrakannya dimana? sudah makan apa belum? karena aku juga sedang terburu-buru. Terlambat sedikit nanti berurusan dengan police.
Tidak ku hiraukan lagi Khaizan yang sedang berada di rumah sakit. Entah karina dan keluarganya yang lain sudah datang apa belum. Sudah bukan urusanku lagi semuanya sudah ku serahkan ke pihak rumah sakit walaupun tidak yakin apa mereka amanah apa tidak.
Sejak dalam perjalanan entah kenapa perasaan aku linglung seperti orang bingung. Waktu itu. cukup membuat perasaan dan kepercayaan ku hancur berkeping-keping. Aku berharap tidak akan bertemu dengan Haizan lagi. Tapi, takdir tuhan mempertemukan kami lagi pada saat dia hampir meregang nyawa.
Bukan aku yang menyelamatkan nyawanya tapi Allah memberikan aku hidayah agar menolong orang yang sedang kesusahan. Begitu susahnya hidup di kota. Senang susah di tanggung sendiri begitu juga dengan kecelakaan, orang hanya lalu lalang melihatnya
Khaizan seandainya kamu tidak semena-mena dengan ku di masa lalu mungkin sekarang aku tidak sebenci ini denganmu. Entah karma apa yang menghampiriku kelak.
__ADS_1
Tapi, jauh dari lubuk hati yang paling dalam, aku bersyukur bisa sampai ke Negara ini, di sini aku memulai hidup dari Nol tampa orangtua dan sanak saudara. Aku mulai mandiri tampa bantuan orangtua sejatinya perempuan itu jauh lebih kuat berdiri sendiri dari pada laki-laki.
Next