TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN

TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN
Susahnya menyembuhkan luka


__ADS_3

"Astagfirullah. Sejak kapan Khaizan di sini? Tadi masih di toko buku sekarang sudah di kos. Kemana karina?"


"Entahlah. Mungkin mau silaturahmi sama kita. Bagaimanapun dia, dia masih mau membantu kita tinggal di sini." Apapun yang dia lakukan untuk meluluhkan hatiku, aku bukanlah wanita dengan hati yang lemah. Menurutku itu pasaran banget.


"Hai, zan! Sudah lama di sini?"


"Hai, juga. Tidak juga kok. Pulang dari toko buku langsung ke sini. Boleh masuk?"


"Boleh." Masuk ke rumah langsung merebahkan diri. Pikiranku traveling ke mana-mana. Apa aku harus pindah? Aku tidak mau terlibat lagi dengan Khaizan. Sekarang yang namanya Khaizan tidak pernah pergi di pikiran ini dan dia juga suka hilang timbul sesuka hati.


Aku tidak mau menaruh perasaan apapun sama dia. Sekuat apapun wanita tetap ada kelemahannya itu menyangkut hati. Perempuan gampang di luluhkan dengan perhatian dan cinta aku tidak mau itu terjadi.


Aku akan tunjukkan seperti apa diriku


Membaca buku menjadi tujuanku biarkanlah mereka berdua di luar syukur-syukur setan tidak menggoda mereka.


"Fa..!kamu tidak mau keluar?"


"Aku capek mau istirahat." Saat ini Itulah yang bisa aku ucapkan. Kata-kata itu pasaran banget wajib ada di cerbung Indonesia.


Tidak mau mendengar pembicaraan mereka aku memakai headset mendengat lagu sambil membaca tidak ku hiraukan Indri memanggil. Sepertinya aku harus pindah kerja. Tapi, tunggu sampai gajian dulu baru pindah. Aku harus mendapatkan nomor rekening Khaizan aku mau membayar semua kerugian yang dia bayar dulu oleh ibu-ibu gila itu.


Entah jam berapa sekarang, lihat jam sudah magrib. Aku sudah tidur 4 jam lamanya, apa mereka masih di luar? Bangun dari tempat tidur mengintip keluar sepertinya tidak ada orang. Kemana mereka?


Ku cari di dapur, gak ada, keluar gak ada. Apa mereka pergi meninggalkan aku sendiri? Mereka memang sudah akrab dan sepertinya indri menaruh hati pada Khaizan. Kira-kira apa yang mereka bicarakan?


Tidak mau ambil pusing aku lekas membersikan diri.


"Astagfirullah, indri! Ngagetin aja," Tiba-tiba indri datang wajahnya ceria banget.


Indri membuka sepatu, melepaskan tas dan merebahkan diri di ruang depan. "Maaf, ya! Lama banget tidurnya kayak kebo tau gak."


"Kemana aja?" Apa mereka habis pacaran? Makan? Atau karaoke?


"Gak kemana-mana."

__ADS_1


"Kalian kencan, ya! Hayoo ngaku!"


"Kamu cemburu?"


"Apa hak ku cemburu? Aku tanya aja."


"Bilang aja cemburu."


***


Aku harus mencari kerja di kilang lain. Sebelum itu aku harus mengganti uang itu tapi bagaimana caranya? Minta bantu indri gak mungkin.


[Assalamualaikum, Fa! Boleh kita berbicara sebentar] Khaizan mengirim notifikasi WA. Jarang banget Khaizan menghubungi ku seperti ini. Tiba-tiba jantungku berdetak dengan kencang seperti habis maraton 3 KM


[Bicara aja ada apa]


[Maunya ketemuan ajak indri kita bertemu di cafe dekas kos kalian aja nanti] Aku tau tujuannya pasti membahas bayi itu lagi. Tidak akan aku kasih tau bayi itu ada di mana. Ah, mungkin dia sudah tau dari indri.


[Bicara aja di sini]


[Gak afdol rasanya]


[Kata siapa]


[Kata ku]


[Ayolah jangan kaku gitu. Apa kamu belum bisa memaafkan aku]


[Menurutmu]


[Sepertinya belum. Apa tidak ada setitikpun maaf mu untuuku]


[Menurutmu]


[Kapan lagi kamu mau memaafkan aku? Apa tunggu aku mati]

__ADS_1


[Menurutmu] Khaizan mengnonaktifkan WA nya mungkin kehabisan kata-kata. Biarlah.


***


Hari demi hari telah berlalu kami sudah gajian dan aku siap mencari pekerjaan baru. Aku tidak mau ada hutang budi lagi pada orang lain. Aku harus menghilangkan diri dari kehidupan Khaizan. Sepertinya juga harus pindah dari kos ini. Huh, angkat koper lagi.


Pekerjaan baru sudah aku dapatkan. Selamat tinggal indri, kita memang satu kos tapi kali ini kita tidak dalam satu pekerjaan lagi. Ah, bukankah sudah biasa.


Kilang ini aku usahakan yang terakhirnya bekerja di sini. Ternyata pada pekerjanya lebih tidak bersahabat. Wajahnya seperti hantu memandang ku seperti hantu juga. Apa aku harus melihat orang dengan wajah seperti ini setiap harinya?


"Kamu serius mau pindah kerja dan kos juga? Apa kamu akan kos sendiri?" Tiba di rumah aku di hujani dengan pertanyaan-pertanyaan dari indri. Kami sudah nyaman satu sama lain.


"Aku serius banget, apa kamu mau pindah juga?"


"Kita harus bersama, aku juga ikut pindah kos, kerja enggak. Lagian semakin lama kosnya semakin mahal. Apa untuk menghindari Khaizan?"


"Bukan, untuk mencari suasana baru."


"Khaizan penasaran banget kemana bayi kalian. Aku sudah bilang semuanya. Kamu keguguran karena maka. roti bakar di malam tahun baru. Aku yang membawa mu ke RS."


"Gak apa-apa. Sekarang dia tidak mati penasaran lagi. Waktu itu kalian ke mana?"


"Di Cafe dekat kos aja." Rencananya waktu itu Khaizan ingin mengajakku ke Cafe aku keburu tidur jadilah indri yang di ajak. Setelah itu kembali mengajakku dan lagi-lagi aku menolak.


Hari ini hari kedua aku kerja di tempat yang baru. Beberapa hari lagi kontrakan habis. Rencananya akan pindah juga tapi karena kos ini sudah rasanya sudah nyaman untuk apa pindah, yang ada nanti dapat teman kos benalu lagi.


"Shifa, Ya! Temannya Khaizan yang dulu kan? Apa kabar? Sudah lama aku ingin bertemu denganmu." Menoleh ke depan, ku pandangi baik-baik apa ini Ela? Penghuni kos yang mengunci di luar itu? Padahal kosnya sudah bayar membuatku luntang-lantung di jalanan.


Mengingat itu hatiku kembali sakit sesama perempuan paling jago menzolimi perempuan lain. Aku hanya diam dan bekerja seperti biasa. Kemanapun aku melarikan diri selalu bertemu dengan orang-orang di masa lalu.


"Oh, Ya! Masalah waktu itu, itu di luar kendali ku. Aku tulus minta maaf banget sama kamu. Sebenarnya Khaizan sudah membayar kami dengan uang yang tidak seberapa entah apa alasannya. Karena waktu itu kami sedang butuh uang, kami terpaksa mengikuti kata-katanya dan membuatmu kesusahan di jalan."


Aku diam aja mendengarnya, percuma juga di jelaskan toh semua sudah berlalu. Selama ini aku mati-matian melakukan apapun untuk bertahan hidup di sini. Ternyata demi uang mereka rela melakukan apapun termasuk menelantarkan sesama perempuan atas perintah dari orang yang tidak di kenal.


"Aku juga melihat kamu waktu itu. Sekali lagi maafkan aku, ya! Maaf banget. Kami juga sudah mendapatkan karma nya. Khaizan kecelakaan uangnya di rampas pacarnya. Uangku hilang di ATM padahal itu untuk biaya berobat ayahku. Teman-temanku yang lain juga mengalami hal yang sama beda nya uang nya di ambil teman kerja. Kakak perempuan Khaizan juga di perlakukan lebih dari kamu menyebabkan dia stress dan bunuh diri dalam keadaan hamil sebelum menikah."

__ADS_1


Setelah puas melakukannya dia dengan mudah minta maaf? Kata maaf harganya sangat rendah di mata orang zolim. Dia tau hukum tabur tuai itu ada. Tapi, mereka tetap melakukannya. Setelah minta maaf mungkin suatu saat mereka akan melakukannya lagi.


Next


__ADS_2