TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN

TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN
Belenggu konflik masa lalu


__ADS_3

Terbelenggu cinta di Negeri Jiran 29


"Shifa ... Akhirnya kita bertemu lagi. Susah payah aku mencarimu ternyata kamu masih berada di Malaysia. Sekarang ngapain kalian berada di gang sempit ini?" Terdengar suara seseorang dari samping sepertinya aku mengenali suara itu. Menoleh ke sumber suara ternyata, Khaizan sudah berada di antara kami. Sejak kapan Khaizan berdiri di situ.


Kami hanya diam tidak ada yang mau berbicara terlebih dahulu. Tidak tau apa yang harus di bicarakan. Rasanya malu bercampur rindu. Ah, Khaizan. Andaikan kamu tidak menelantarkan ku dulu, mungkin aku tidak semuak ini sama kamu. Katanya dia berusaha mencari ku, untuk apa?. Apa dia menyesal atau sudah menuai karma nya? Entahlah.


"Indri! Ngapai kalian di sini? Ayok! Kita ngobrol di tangga aja."


"Khaizan, kami mau pulang aja, besok mau kerja."


"Loh, baru saja sampai kok sudah mau pulang?"


"Khaizan, besok kami mau kerja. Sudah, ya! Kami pulang dulu. Lain kali ketemuan nya." Indri mengajakku ke luar dari gang sempit ini. Tapi, tanganku di tarik erat. Ada apa dengan lelaki ini. Kenapa dia jadi seperti ini.


Khaizan memberikan kode pada Indri tapi indrinya tidak mengerti entah kode apa yang di maksud. Shifa berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Khaizan tapi tenangan Khaizan lebih kuat.


"Shifa...! Akhirnya kita bertemu lagi. Aku mohon waktumu sebentar saja ada hal ingin aku bilang padamu. Tidak bisa bertiga ini tentang kita." Dengan berat Khaizan membilang nya dia tidak nyaman ada indri yang mendengar obrolannya.


Shifa diam, indri tidak tau tau apa yang harus dia lakukan. Satu sisi dia ingin memberikan waktu Khaizan berbicara pada shifa dulu. Di satu sisi jiwa sesama perempuannya menjerit dia tidak ingin mengecewakan temannya.


"Khaizan ...! Lepaskan tangan shifa! Ketemuannnya lain kali aja. Janjian dulu kalau mau bertemu gak terpaksa seperti ini." Khaizan diam, dia kesal sama Indri tidak seperti yang mereka janjikan tadi sore. Sedangkan Shifa risih bangat ingin segera pergi dari sini.


"Tidak bisa, kita kembali ke gang sempit tadi." Khaizan membawa Shifa ke tempat semula, sekuat apapun melepaskan cengramannya tetap aja tangan Khaizan jauh lebih kuat.


"Zan! Lepaskan aku!"


"Udah deh jangan kebanyakan drama muak gue lihatnya tau gak." Indri melepaskan paksa tangan mereka berdua setelah itu mereka pergi dengan cepat menghilang dari pandangan. Khaizan kalah cepat.


Menyusuri gang-gang yang paling jarang di lalui orang dan masuk sebuah mall keluar jalur belakang. Entah kemana mereka pergi melarikan diri mereka harus pintar-pintar mencari jalan keluar kalau tidak, jebakan siap menangkapnya.

__ADS_1


***


Sedangkan Haizan masih berputar di daerah kuil dan sekitarnya, berlari sana kemari orang yang dia cari tidak pernah bertemu. Keluar dari bukit kapur dan menunggu di persimpangan jalan walau dia tidak tau apakah akan melihatnya apakah tidak. Untung alamat aslinya sudah dia minta pada indri.


"Sial. Kemana mereka? Indri sama sekali tidak bisa di ajak kerja sama. Segitunya melindungi temannya tidak di kasih sedetik pun untuk berbicara berdua. Astaga, drama apa ini."


"Shifa...! Akan aku cari kamu ke lubang semutpun. Aku harus tau kabarmu selama ini dan bayi itu. Kalau benar kamu hamil waktu itu, lalu di mana bayi itu sekarang? Apa keguguran di gugur kan? Mustahil kamu melahirkan di negara ini sendirian."


"Shifa ... Selama ini aku gampang di bodohi orang lain. Aku ingin minta maaf padamu susah bangat, aku ingin memperbaiki semuanya dari awal." Keluh Khaizan.


"Kamu berbicara sama siapa?" Seseorang pejalan kaki seumuran Khaizan itu memperhatikan dirinya yang berputar sana sini seperti frustasi dan berbicara sendirian.


Khaizan menoleh "Oh, tidak apa-apa kok."


"Tadi kamu menyebut seorang perempuan. Kalau sudah putus cari yang baru yang baru gak usah gila kayak gitu."


"Saya kerja membawa alat berat tinggal di petaling jaya."


Khaizan berpura-putar seperti orang bingung dan peria bernama rizki itu hanya memperhatikannya. Dia tidak Hanis pikir ada apa dengan lelaki ini? "Oh, ku rasa tidak jauh dari sini."


Mereka berbicara cukup lama, pria yang bernama Rizki itu cepat mengakrabkan diri pada orang baru. Tapi, netranya Khaizan menangkap dua orang gadis yang dia cari.


Tidak mau kehilangan jejak mumpung gadis-gadis itu masih dapat di pandang mata dia akan berusaha agar bisa berbicara secara langsung dengan shifa.


"Ki...! Gue cabut dulu, ya! Kapan-kapan kita touring bareng."


"Ada apa! Kok cepat banget perginya?"


"Ada hal yang penting soalnya. Udah dulu, ya!" Pria bernama Rizki itu melongo aja melihat tingkah laku orang yang baru dia kenal itu. Dia melihat ada sesuatu yang Khaizan sembunyikan. Jiwa kepo nya meronta pergi mengikuti kemana Khaizan pergi.

__ADS_1


"Khaizan ...! Tunggu ...!"


***


"Indri! Kita mau kemana? Dari keluar dari kuil masuk ke pusat berbelanjaan dan keluar lewat jalan belakang, berputar kesana kemari mencari jalan keluar tapi membuat kita tersesat tidak tau arah pulang."


"Enggak tau, aku aja tidak tau sama sekali tempat ini. Ayolah kita kembali ke Mall aja." Melangkah kembali ke Mall


"Gak tau tempat ini kok bisa-bisa kita mengelilingi tempat ini. Nanti kita di tangkap gimana? Bisa-bisa Khaizan tertawa melihat kemalangan kita."


"Hahahaha...bagus banget drama kalian. Kayak nonton series Indonesia tauk."


"Kok malah ketawa gak ada yang lucu."


"Tapi, bagi aku lucu aja. Dia ngajak kamu ketemuan aku yang malu kelihat kalian. Jujur aja, kamu sebenarnya merindukan dia kan?"


"Apaan sih. Dia itu kan sudah membuat hidup gue hancur berkeping-keping dalam satu bulan. Selagi aku tidak terikat sama dia, untuk apa aku merindukan orang yang sudah menghancurkan aku? Entah apa yang terjadi sama dia, hingga dia mencari ku."


"Iya, karena merasa bersalah sudah membuatmu luntang lantung. Seandainya gak ada dia mungkin kamu tidak akan sampai di sini. Ya, memang cara dia memperlakukan mu salah bangat."


"Terus?"


"Mungkin dia sudah menerima karma nya, entah saudara perempuan dia yang di perlakukan sama seperti dia memperlakukan mu. Tapi, gak tau juga sih."


"Oh, ya. Aku lupa. Dia orang yang kecelakaan kemaren. Karena gak ada orang yang menolongnya, aku yang membawanya ke rumah sakit. Di rumah sakit, aku bertemu sama ibu yang ku ceritakan itu."


"Oh, gitu! Mungkin dengan cara itu tuhan mempertemukan kalian kembali."


"Udah ah. Ayok! Kita kembali ke Mall lagi setelah kita pulang."

__ADS_1


__ADS_2