TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN

TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN
Kemana uangku?


__ADS_3

TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN 7


Kemana uangku?


Kapal Ferry sudah siap berangkat, mengantri nya tak kalah banyak dari yang di loket. Jam keberangkatan tetap seperti yang di tiket, cuma setengah jam dari itu kita harus sudah sampai dalam kapal.


Baru kali ini aku naik kapal, mewah dan besar lagi. Baru kali ini juga aku melakukan perjalanan jauh, lewat lautan dan negara tetangga.


Entah kenapa perasaan ku orang-orang di kapal ini seram-seram. Tidak ada ramahnya sama sekali. Jangan sampai karena ini mental ku jadi down.


[Haizan! Aku sudah berangkat. Jangan lupa tunggu aku di pelabuhan]


Sejam baru dia balas, karena signal nya putus-putus butuh waktu lama pesannya sampai.


[Tenang aja]


Selama perjalanan, aku tidak berhenti berdo'a agar sampai tujuan dengan selamat tidak banyak drama seperti yang orang bilang.


Bosan rasanya aku ingin keluar tapi tidak berani karena di luar kebanyakan yang lalu lalang itu lelaki. Setiap jam awak kapal mempromosikan dagangannya. Astagfirullah, mahal bangat. Aku putuskan untuk beli. Tapi, kemana uangku?


"Astagfirullah, uangku di mana? Perasaan dalam tas deh? Duduk berdiri, cek kantong celana dan tas tidak ada sama sekali. Padahal uang itu untuk jaga-jaga nanti." Batin Shifa.


"Ada apa, dek."


"Uangku gak ada."


"Hah, yang benar? Coba cek lagi. Siapa tau nyalip."


Sampai tiba di pelabuhan Melaka, uang itu tidak pernah ku temukan. Kalau jatuh, pasti sudah di ambil orang. Untung gak ku masukin semuanya ke kantong celana. Kata Haizan, siapkan uang tunjuk sekian ringgit untuk di perlihatkan ke pihak imigrasi ketika tiba di pelabuhan Melaka nanti.


perasaan ku tadi yang merayap-rayap ke pahaku siapa ya? Karena sekeliling ku perempuan, tidak mungkin mereka melecehkan aku. Jadi, aku biarkan aja. aku malah sibuk dengan pikiran ku sendiri.


Apa jangan-jangan mereka mengambil uangku? Ceroboh, ceroboh, ceroboh. Seharusnya aku ngeh dengan tangan-tangan jahil itu.


***


"Dek! Kamu mau keluar apa tetap di sini."

__ADS_1


Awak kapal menegurku. Matanya seperti ingin menerkam ku hidup-hidup. Astagfirullah. Tapi, kemana ibu tadi? Kok, tidak menyapaku? Hilang sendirinya di kapal ini.


Ku keluar, padat bangat semua muka orang itu sama aja. Jadi, aku sepertinya tidak bisa mengingat muka ibu tadi. Aku yakin, ibu itu yang mengambil uangku. Huh, ciri-ciri mertua yang tidak baik nih.


Menurut cerita ada lima orang yang gagal masuk, mereka protes. Orang asing yang ku lihat itu seperti nya pegawai di kantor ini. Pegawainya pintar ngeles, sering pula mencuekkan orang.


Aku belum masuk ke kantor transmigrasi. Aku hendak menghubungi haizan lewat DM aplikasi logo biru dan instagram. Ternyata signal nya tidak ada. Jadi, aku harus kemana?


Aku tidak tau lorongan mana yang ku masuki. Aku perhatikan dari luar, tutorial yang ku cari di internet kemaren tidak banyak yang masuk ke otak.


Aku hanya duduk seperti nya tidak akan ada yang mau menyapaku. Aku tanya orang lain, mudahan dia tidak bohong. Aku harus sukses masuk. Sebelum memperlihatkan paspor dan mendapat kan visa, aku terus berdo'a membaca ayat apapun yang aku tau. Mudahan tidak ada halangan aku lulus murni. Amiin.


Kalau di blacklist, seram juga aku harus menunggu di kapal sampai berangkat. Ih, amit-amit mudah-mudahan jangan, nanti aku jadi santapan mereka lagi. Ih, amit-amit.


***


Jantungku deg degan seperti habis maraton dua kilo meter. Hatiku tetap berdoa agar lulus tampa drama. Aku merasa keselamatan ku terancam. Aku lihat mereka yang gagal itu sibuk menghubungi entah kerabat nya. Entah siapa itu, pula yang menangis.


"Silahkan." Terjemahan dari bahasa melayu.


Entah jalan mana lagi yang harus ku lewati, sebab area ini sangat luas. Orang pun keluar di jalan yang berbeda. Lagi-lagi tidak ada jaringan. Aku cepat-cepat mencari konter agar bisa menghubungi haizan. Apa haizan sudah di pelabuhan?


Plak


"Astagfirullah. Siapa yang menepuk pundakku?" lihat kebelakang. Ternyata haizan. Benarkah ini haizan? Jauh berbeda dari yang di foto dia sangat ganteng dan manis, fisiknya bagus. "Haizan, ya?"


"Iya, ini aku, Haizan. Akhirnya datang juga kamu. Aku kirain tidak."


"Aku memang ragu sih. Untung lolos, bayangkan kalau tidak, aku te terpaksa mendekam di balik jeruji besi. Ups, kapal ferry."


"Iya, kalau tidak lulus, balik ke belakang bikin paspor baru dan masuk lagi."


"BTW, kita belum salim."


"Iya. Yuk, aku antarin kamu mencari kos dekat kos aku aja."


"Iya."

__ADS_1


Masya allah bagusnya kota ini padat lagi. Aku ingin mengunjungi tempat wisata yang sering orang pamer di sosial media.


"Bagus, ya? Sekarang ini statusmu di sini sebagai pelancong. Karena kamu memakai visa touris kan?"


"Iya, lalu?"


"Sebelum masa berlaku visa mu habis, waktu itu aja kamu bisa menjelajahi Malaysia ini. Setelah itu tidak bisa lagi. Besar resikonya kalau tertangkap. Tapi, jangan khawatir. Jangan pernah keluar kalau tidak bekerja dan mencari kerja."


"Aku jadi takut."


"Tidak usah takut, selama aku duduk di sini. Alhamdulillah tidak pernah di tangkap police."


Walaupun haizan membilang seperti itu, tetap aja dia telah mengganggu mental ku. Aku kena mental.


"Coba, biasa aja. Tidak menunjukkan kita itu takut. Tidak sok berani juga. Biasa aja. Intinya, jangan pernah keluar kalau tidak bekerja dan mencari kerja itu aja."


"Makan?"


"Ya, boleh. Belanja aja di warung dekat kos semua ada di situ.


Sampai juga kami di daerah bangunannya menjulang tinggi. Aku sudah banyak melihat kawasan negara ini di internet. Itu juga yang membuatku yakin untuk pergi ke sini. Tapi, melihat tajam nya jari-jari manusia, dan berita tentang kehidupan orang di negara ini. Membuatku ragu, ku bawa berdo'a di sepertiga malam. Akhirnya aku sampai juga. Aku harus pandai menjaga diri di sini.


"Ini, kos-kosan. Sebelah kanan kos cewek, sebelah kiri kos cowok. Kos aku, bukan disini, aku tinggal di rumah orangtua ku tidak jauh dari sini. Kita cari kos kamu dulu. Sewa kos, harus di bayar tepat perbulannya. Kalau tidak, detik itu juga mereka akan mengusirmu. Cari kos yang sudah banyak orangnya aja, biar bayarnya lebih murah, tapi sering cek-cok dan memanfaatkan kamu. Apapun yang mereka lakukan nanti ku harap kamu bisa dewasa menyikapinya."


"Terus apa lagi?"


"Besok, kamu mencari kerja."


"Iya, tadi di kapal aku kehilangan uang. Mungkin ibu-ibu yang meraba tempat duduk, dan tas aku yang mengambil uangku. Aku sebenarnya merasa sih. Tapi, tidak terpikir kalau tangannya akan maling."


"Semua uang mu hilang?"


"Hanya sebagian."


"Ya, sudah. Yuk! Kita cari kos!"


Next

__ADS_1


__ADS_2