
Terbelenggu cinta di Negeri Jiran 34
"Lalu kita harus bagaimana?"
"Ya, gimana lagi, kita pergi dari sini atau pasrah aja."
"Pergi kemana?"
"Pulang kampung atau masuk ke hutan tidak mungkin sama aja dengan bunuh diri. "
"Selama dua tahun ini kita masih beruntung selamat mulu dari incaran police. Aku juga tidak mau di pulangkan begitu aja aku mau mengumpulkan uang banyak-banyak dulu baru pulang."
Tok tok tok
"Siapa yang mengetok pintu. Apa police?"
Deg
Jantung mereka berdetak tak karuan, keringat bercucuran begitu aja. Mereka harus hati-hati mengintip dulu baru membuka pintu.
"Tenang aja aku mau ngintip dulu."
"Shifa ...! Indri ...! Bukain pintunya ini aku Khaizan."
Huh, ternyata Khaizan membuat mereka lega. Ada apa Khaizan datang malam-malam begini? Apa mau mengajak malam minggu? Walaupun satu tempat pekerjaan, setelah di gudang itu mereka tidak lagi bertemu dan shifa juga malas mengingatnya.
"Masuk aja, zan. Ada apa malam-malam ke sini?"
"Aku mau mengajak kalian ke rumahku. Tempat ini akan di periksa oleh police gak tau kapan pokoknya pergi aja dari sini dulu."
"Apa yakin ke rumahmu kita akan selamat?"
"Ikhtiar aja."
"Shifa ayo kumpulkan bajumu kita pergi dari sini."
"Aku tidak mau. aku akan tetap di sini aja."
"Tapi, ini darurat."
"Biarkan aku di sini, kalian pergi aja biar ku tanggung resikonya sendiri."
"Shifa ...ayolah. Jangan egois, kalian sudah bersama dalam dua tahun. Susah senang harus bersama, ayok!" Setelah mengatakannya Khaizan pergi begitu saja meninggal dua gadis itu yang masih brdebat.
"Fa! Sudahlah. Lupakan lah masa lalu gak ada gunanya lagi mengingatnya! Itu sebenarnya ujian atas izin dari Allah untuk menguji umatnya dengan cara seperti ini. Khaizan juga."
"Kamu salah, ndri!"
"Apapun alasannya untuk saat ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan nya walaupun ujungnya kita tidak selamat yang penting yang penting kita berusaha."
__ADS_1
"MAU PERGI APA TIDAK?"
"Tuh, Khaizan sudah teriak." Malam ini kami berangkat meninggalkan kos entah kemana Khaizan membawa kami. Aku sama sekali tidak tau jalan Malaysia ini. Di dalam mobil tidak ada yang kami bicarakan. Aku fokus dengan ponselku. Aku merasa Khaizan memperhatikan ku lewat kaca mobil.
Hingga pukul 04.00 waktu setempat kami sudah tiba di KL. Kota pertama kali yang ku singgahi semenjak tiba d Malaysia. Kota ini mengingatkan ku pada kenangan itu lagi. Aku terbelenggu entah trauma atau hanya sugesti.
Sungguh indah ciptaan tuhan. Tuhan mengaruniakan manusia akal dan pikiran untuk menciptakan suatu bangsa dan negara beserta isinya. Aku takjub melihat pandangan ini hingga azan subuh berkumandang mobil berhenti di masjid megah bangat.
Apa Khaizan mau sholat? Sudah lama aku tidak sholat karena terbatasnya waktu, majikan asing jarang yang mengizinkan karyawannya sholat membuang-buang waktu. Padahal menurut agama islam waktu yang paling berharga itu waktu beribadah.
"Kalian sholat tidak?"
"Aku sedang tidak sholat, zan."
"Kamu, Fa?" Aku hanya menggelengkan kepala pertanda tidak. Perasaan ku entah kenapa indri memandangi Khaizan sampai tubuhnya hilang dari pandangan. Apa indri menaruh hati pada Khaizan? Kok, aku kurang terima, ya?
"Fa ... Aku ke bilik termenung dulu/ Toilet."
"Iya, jangan lama." 10 menit berlalu indri belum datang. Khaizan sudah keluar dari mesjid. Aku tidak mungkin berdua dengan Khaizan di dalam mobil. Duh, indri kemana, ya?
Aku memilih keluar dari mobil diam-diam menyusul indri ke toilet. Dari jauh aku memperhatikannya, indri tidak kunjung keluar.
Huh, lega bangat. Indri sudah sampai ke mobil pasti mereka menanyakan aku.
"Kamu kemana, Fa...!"
"Aku menyusul mu tadi, tapi kehilangan jejak."
"Iya juga sih. Ya, sudah ayo masuk!" Membuka pintu mobil dan melanjutkan perjalanan.
Indri berbisik "Fa ...!"
"Iya, ada apa?"
"Mobilnya Khaizan kena darah haid."
"Waduh, gimana dong?"
"Kita pinjam mobilnya nanti buat ngelap kursinya."
"Apa alasannya nanti? Kalau dia tidak bawa mobil."
"Kenapa kalian berbisik?" Khaizan memperhatikan kami dari kaca mobil.
"Kalian mau mobil, apa kalian bisa bawa mobil? Mau kemana? Biar saya antar."
"Ah, enggak ada kemana-mana, kok. Kami hanya anak rumahan."
"Katanya nanti mau minjam mobil."
__ADS_1
"Tidak kok, mungkin kamu salah dengar."
"Oh."
"Oh, ya, zan! Umurmu berapa?"
"25 tahun, kalian?"
"23? Wah, masih cukup muda. Umurku 21 umur shifa 20 tahun.
"Udah mau dua tahun di Malaysia umurnya masih 20? Apa kamu kesini dulu masih berumur 18-19 tahun?"
"Iya. Tapi, aku sudah tamat SMA."
"Pintar, ya?"
"Ah, tidak juga," Sebenarnya Khaizan sudah tau identitas aslinya Shifa tapi Khaizan mau berbasa-basi mencairkan susanana yang beku.
"Oh." Tak terasa 10 menit berlalu sudah sampai tempat tujuan. Kami keluar kalau gak salah ini rumah Khaizan yang waktu itu. Pertama kali aku di bawa ke sini dan malamnya Khaizan pulang dalam keadaan mabuk dan malam laknat itu terjadi lagi ada yang terasa tercekik di leher ini dan dada ini panas seperti terbakar api dan besoknya datang karina dengan gaya manjanya dan lusa nya malam aku sakit, kami berantam hebat Khaizan tidak mau mengakui janin yang ku kandung ini benihnya.
Kami berantam hebat dan datang Karina dia tidak percaya aku mengandung benih Khaizan. Tepat di jam dua belas malam, aku di usir tanpa ampun seperti anjing. Tega kamu Khaizan. Dan sesama perempuan Karina tanpa ampun ikut mengusirku juga.
"Ayo, masuk! Anggap aja rumah ini rumah kalian."
"Zan! Aku mencari ponselku di sekitar ini."
"Baiklah."
Ceklek
"Fa! Khaizan pakai nyalain lampu lagi."
"Biarin aja cepat bersihkan."
"Airnya gak ada."
"Itu ada air di kursi sopir."
"Ambil aja jangan sampai ketahuan. Malu juga hal kayak gini ketahuan oleh sopir."
"Alhamdulillah beres juga. Apalagi yang kamu pikirkan?"
"Di rumah ini Khaizan dan pacarnya mengusirku tengah malam seperti sampah dalam keadaan sakit dan hamil."
"Astagfirullah. Yang penting sekarang dia sudah sadar dan juga sudah mendapat kan karma nya. Kakak perempuan nya juga di perlakuan sama sampai stres dan bunuh diri. Ambil pelajaran nya aja agar tidak sembarangan mengikuti orang asing."
Masuk sepertinya fasilitas di rumah ini sudah berubah semuanya serba baru. Setiap akhir tahun, orang yang berdokumen asli Malaysia suka mengganti barang lamanya walaupun tidak di pakai dengan barang baru.
Pernah ku lihat orang-orang membuang kain-kain mereka dan membakarnya walaupun tidak pernah memakainya di ganti dengan barang baru. Seharusnya kalau sudah tidak perlu, kasih ke mereka yang lebih membutuhkan bukan di bakar.
__ADS_1
Menurutku itu sayang bangat, di luar sana masih banyak orang yang tinggal di gubuk kekurangan kain. Mereka hanya memakai baju bekas, bolong di mana-mana dan itu-itu aja. Tapi, kembali lagi budaya orang itu berbeda-beda.
Next