TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN

TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN
Harga diriku ku korbankan untukmu, Ibu.


__ADS_3

Terbelenggu Cinta di Negeri Jiran 53


[Royan, minta bantu saudara ibu untuk membuatkan Ibu BPJS setidaknya bisa meringankan biayanya. Kamu harus berani, kamu itu laki-laki jangan pasrah aja. Kamu harus belajar menjadi laki-laki yang bertanggung jawab]


[Akan aku usahakan, kak]


Pulang dari bekerja aku mengelilingi kota ini. Netraku memandangi Bar, apa ini tempat orang untuk mendapatkan uang lebih? Apa aku harus masuk kesini demi uang yang tidak seberapa? Aku aja takut menghadapi laki-laki.


Aku perhatikan tempat ini kebanyakan orang yang berkulit hitam dan bermata sipit yang memboking wanita panggilan. Apa aku harus menyerahkan diriku di sini? Tapi, bagaimana dengan kondisi psikisku? Bagaimana dengan dosaku?


Aku hubungi keluarga di kampung awalnya mereka mau mengangkat tapi tau aku mau minta bantuan mereka matikan dan blokir.


Tidak mau setan menggoda ku atau di goda setan wujud manusia aku pulang, sampai di kos ternyata indri belum pulang. Kemana gadis itu?


"Hallo, indri! Kamu di mana?"


"Sebentar lagi pulang."


[Kak, tidak ada yang mau membantuku untuk membiarkan ibu BPJS. Gimana dong]


Susahnya minta bantu saudara. Aku akan balas dendam dengan harus menjadi orang yang sukses di masa depan. Biar mereka tau sampah yang mereka buang ini berlian yang di tutupi lumpur.


[Coba minta lagi warisan ibu yang di rebut kakaknya ayah sepertinya kalau di nilai dengan uang cukup untuk biaya berobat]

__ADS_1


[Sudah mereka pakai berfoya-foya, kak. Sudah ratusan kali aku kesana minta haknya ibu yang mereka rampas ratusan kali juga mereka mencaci maki dan mengusir aku]


Ya, Allah, ada orang seperti mereka? Apa kalian masih membela orang yang seperti mereka dan menyalahkan kami lagi? Saking ikhlas dan bersyukurnya hidup hingga sakit tidak ada orang yang peduli?


Aku harus korbankan harga diriku untuk ibu. Soal kondisi psikis dan dosa nanti aku pikirkan. Mumpung indri belum pulang aku lekas pergi ke tempat itu. Awalnya supir taksi menanyakan kemana aku pergi aku bilang ke rumah teman hingga aku harus berjalan 2 KM.


***


Tidak butuh waktu lama mucikari sudah mendapatkan orang yang akan membokingku. Awalnya mereka keberatan dan mencaci makiku dengan harga yang aku tawarkan. Tapi, setelah aku jelaskan ini untuk pertama kalinya dan untuk biaya pengobatan ibu mereka tidak ada yang peduli.


Tapi, entah siapa yang membokingku dan sudah mengirimkan uang sebanyak yang aku butuhkan ke rekening royan membuat royan curiga dari mana aku mendapatkan uang sebanyak itu secepat ini? Dia bilang akan mengurus sendiri BPJS nya sampai kapanpun yang penting dia berusaha sampai ibu sembuh. Lekas aku bilang pinjam ke bos juga tidak membuatnya percaya.


Dalam sibilangseperti ini aku tidak bisa menunda dan bersantai-santai. Andaikan aku dendam dengan melakukan mereka padaku? Mungkin aku tidak akan mengirimkan sepersen pun uang biarlah ibu mendapatkan karma nya atas kelakuannya. Apa yang orang tanam itulah yang mereka tuai.


***


Mucikari membawa ku ke kamar yang ada di tempat ini. Jantung ku meronta tak karuan, keringat dingin bercucuran padahal aku tidak sedang berolahraga. Jantungku yang sedang berolahraga.


Pelan-pelan jalan mucikarinya mendesak aku naik lift tiba di sebuah kamar. Kamarnya VVIP, orang yang mengantarku mengunci pintu. Jantungku berdebar lebih kenacang dari tadi. Gara-gara seorang ibu aku harus seperti ini. Aku takut aku di bunuh mati masuk ke neraka dan ibuku tidak sembuh-sembuh.


Ku perhatikan sekelilingnya belum ada lelaki itu. Apa dia belum datang? Aku ingin kabur tapi pintu sudah di kunci. Aku cari jalan keluarnya tidak ada jendela yang bisa ku buka kuncinya.


Aku yakin masuk ke tempat seperti ini mempertaruhkan nyawa dan keluar juga mempertaruhkan nyawa dan tubuhku sudah tidak suci lagi masa depanku rusak menjadi manusia hina dan penuh dosa.

__ADS_1


Menjelang lelaki hidung belang itu datang aku berdo'a pada tuhan agar lelaki itu tidak menyentuhku. Lelaki itu melepaskan aku seperti yang di Novel-novel itu.


[Kak, do'a in ibu, dini hari ini juga ibu akan di operasi. Ini foto dan vidionya]


Sebuah notifikasi menunjukkan kondisi ibu di ruang operasi. Aku yakin ibu adalah ibu yang paling kuat. Kalau seandainya besok aku pulang, aku akan mencoba hal yang baru memanfaatkan skill yang sudah ku asah selama di Malaysia ini. Aku di sini tidak hanya kerja dan mendapatkan uang, juga kursus apapun yang aku suka. Gunanya untuk menambah penghasilan di masa depan kelak.


[Iya, mudahan ibu cepat sembuh]


[Shifa, kamu di mana? Katanya kamu sudah pulang, kamu baik-baik aja kan]


[Shifa, kamu di mana]


[Shifa, kirim lokasinya biar Khaizan menjemputmu ke sana]


[Shifa, jangan diam aja, kamu sedang aktif, jangan buat aku cemas]


Banyak wa yang di kirim oleh indri, tidak ada satupun yang aku jawab, aku bingung harus menjawab apa. Kalau aku bilang mau nginap di rumah teman, apa gadis itu percaya? Sebab selama di sini aku tidak punya teman selain dirinya.


"Apa sudah siap?"


DEG DEG DEG


Suara seorang lelaki mengagetkan aku, sejak kapan lelaki itu di sini? Tapi, kayaknya aku kenal dengan suara yang seperti itu. Apa jangan-jangan?

__ADS_1


Next


__ADS_2