
TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN 9
Ternoda
Tiba-tiba aku ingin tidur, astagaa aku tidak boleh tidur. Aku harus kuat tapi semakin membuat kepalaku sakit. Tapi.
"Shifa! Ini obatnya."
"Apa masih sakit?"
"Tambah sakit pula."
Haizan memberiku obat tapi ini obat apa? Kalau sedang sakit kepala aku hafal obatnya.
"Minum aja, ini airnya."
"Ini obat apa?"
"Obat sakit kepala katamu."
"Tapi, ini bukan seperti obat sakit kepala."
"Ini yang di berikan oleh orang di apotik."
"Kita pulang aja. Aku tidak apa-apa kok."
"Loh, katanya tadi kepala mu sakit."
"Sekarang sudah mendingan."
"Yang benar?"
"Iya," Padahal rasanya semakin sakit aku tahan agar tidak pingsan. Kenapa haizan tak kunjung membawa ku pulang.
"Ayok! Ikut aku." Aku ikut aja, berdiri dengan perasan badan lebih berat dari biasanya sambil memegang kepala yang sakit. Aku kirain pulang. Haizan malah mengunci pintu dan membawa ku ke sebuah ruangan ternyata sebuah kamar. Apa? Untuk apa haizan membawa ku ke sini apakah haizan? Oh, tidak.
"Haizan? Kenapa kamu membawa ku ke sini? Aku kan minta pulang."
"Kita akan bersenang-senang di sini sampai pagi."
Mataku terbelalak, jantungku berdentum hebat. "Apa maksudmu? Jangan bertele-tele. Kamu ngajak aku ke Malaysia ini mau ngajak aku kerja kan?"
"Iya. Tapi, ada harga yang harus kamu bayar untuk mendapatkan kerjaan itu. Aku sudah bayar tiket mu lebih lagi. Aku juga sudah bayar kos mu karena uangmu hilang sebagian. Apa lagi yang harus kamu minta? Aku juga minta bayaran nya."
__ADS_1
DEG
Jantungku makin berdetak lebih kencang dari pertama kali kaki di malaka. Aku menunduk kepalaku semakin sakit. Ternyata haizan membantuku tidak tulus. Jadi, benar kata Meyra tidak semua orang itu tulus membantu kita. Benar kata Daffa, dia lelaki tau sifatnya lelaki. Sempat bertanya apakah tidak ada udang di balik batu? Justru aku tidak ngeh, sekarang apa yang harus aku lakukan? Berdiri aja tidak mampu. Sakit ini sudah merenggut kekuatanku. Aku terduduk.
"Ayo lah. Jangan egois." Haizan membantuku berdiri, ku coba untuk meronta. Tapi, tidak sanggup.
"Haizan! Jangan lakukan itu. Aku ingin pulang!"
Haizan tidak menghirau kan ucapanku. Aku lumpuh. Haizan membawaku ke jurang dosa. Mau teriak pun tidak sanggup. Aku lelah, aku ingin pulang, menyesal tidak mendengarkan kata teman. Aku lebih percaya pada diriku sendiri. Dan Allah pun tetap mengizinkan aku menginjak kaki di negara ini.
Kenapa kapal nya tidak tenggelam aja hingga aku mati di tempat pulang membawa nama. Agar ayah dan ibu menyesal telah menyia-nyiakan aku hingga sampai ke negara ini.
***
Azan subuh berkumandang. Aku bangun, kepalaku masih berat. Aku bengong, haizan ada di sebelah ku. Sedang terbuai di alam mimpi. Kami berdua sedang tidak memakai sehelai benang pun. Kecuali selimut penutup tubuh kami berdua. Ingin aku membunuh nya sekarang juga. Tapi, takut hukuman yang aku terima lebih berat hukumnya dari bayangan ku.
Ada bercak darah di sprei warna putih susu terlihat jelas warnanya. Padahal minggu lalu aku baru suci dari haid. Aku sudah tidak suci lagi.
Membersihkan diri di kamar mandi. Aku menjerit mengutuk diri sendiri terlalu bodoh percaya dengan orang yang ku kenal di sosial media.
Entah sudah berapa banyak air mata yang keluar. Tidak mau di sini terlalu lama. Aku akan pulang sendiri. Tapi, apa haizan masih mau membantuku mencari kerja? Atau akan menelantarkan aku? Oh, tidak.
Cek lek
"Sudah mandinya?"
"Sudah." Haizan pergi ke kamar mandi pria. Kembali ke kamar, mau aku apakan sprei ini. Aku cuci tapi, di mana tempatnya?
Aku memutuskan membawa sprei ini ke kamar mandi. Tapi...
"Itu bukan urusanmu."
"Bukan urusanku gimana? Ini noda punya ku."
"Iya, itu darah menstruasi mu."
Apa maksunya ini darah menstruasi? Enak bangat dia bilang seperti itu. Sudah menjamahku lalu bilang darah menstruasi. Itu artinya dia tidak percaya aku masih suci sebelum dia jamah?
"Mungkin sebentar lagi aku akan terkena kangker rahim karena kamu melakukannya dalam keadaan aku sedang haid."
"Aku melakukannya karena kamu harus membayar semua kerugian yang aku keluarkan sebelum kamu berangkat sampai sekarang."
"Aku tidak minta ke sini. Kamu yang ngajak."
__ADS_1
"Kamu mau aja di ajak orang asing."
"Ku kira orang itu tulus, baik, tidak semua orang itu jahat. Ternyata kamu salah satu predator sama seperti yang viral itu."
"Saya rasa kamu sudah beranjak dewasa bukan anak yang masih di bawah umur lagi. Kamu seharusnya sudah bisa berpikir secara dewasa agar tidak menyesatkan diri di kemudian hari."
"Aku kesini karena sedang kalut. Aku, tidak seberuntung mereka yang baik-baik aja. Aku butuh perhatian. Ternyata bukan perhatian yang ku dapat. Ah, sudah lah aku mau pulang."
Haizan tidak menjawab kata-kataku malah memeriksa tas dan mengambil pasporku. Padahal aku butuh itu Apakah Haizan berniat akan menelantarkan ku di negara ini?
Aku merebut kembali pasport ku. Tapi, Haizan cepat untuk mengamankannya, aku kalah cepat. "Haizan! Kenapa kamu ambil pasporku."
"Karena kamu sudah tidak suci lagi. Aku ambil paspor mu."
"Kata-katamu bertele-tele membosankan. Kembalikan pasporku!"
"Ambil nanti di kos ku."
Haizan meninggal kan aku seorang diri, sekarang aku merasa gelandang di negara tetangga. Haizan sudah merampas mahkotaku tampa izin, dan juga paspor ku juga dia ambil.
Memangnya dia tidak tau bedanya tamu bulanan wanita dengan yang bukan? Aku hancur seperti kaca pecah di satukan tidak akan sama lagi seperti semula.
"Mau pulang apa tidak?" Haizan kembali ke ruang karoke
"Pulang aja sendiri."
"Aku sudah berjanji pada teman wanita dan lelakimu untuk menjagamu di sini. Aku tidak mau di salahkan oleh mereka nanti. Seharusnya teman lelakiku itu menikahimu saja."
"Katanya udah janji menjagku nyatanya kamu mahkotaku. mana paspor ku?"
"Mahkota seperti apa yang ku rampas? Aku merasa tidak mendapatkan itu. Kamu gak mau pulang? Ya, sudah." Haizan meninggal kan aku sendiri
"Haizan! Tunggu pasporku! Brengsek, cepat bangat orang itu hilang. Kemana aku harus mencarinya?"
Aku pulang sendiri, entah kemana taksi ini membawa ku. Apa aku salah memberikan alamat? Apa aku yang tidak memperhatikan jalan. Kadang sopirnya berbicara memakai bahasa inggris, karena aku kurang mengerti, aku tuliskan saja sebuah kata-kata memakai bahasa melayu padanya. Untung dia ngerti.
Masuk ke kos ternyata terkunci, aku lupa minta kunci. Jadi, aku harus kemana? Apa mencari kerja aja?
Tapi, pasporku. Ya, Allah, kenapa jadi seperti ini. Sekarang aku harus gimana? Apa pulang aja. Yang penting tidak terlantar di negara orang. Uangnya tidak cukup.
Mending aku pergi aja sambil nyari kerja. Tidak peduli bertemu police, kalau di tangkap aku harap di pulang ka ke tanah air dalam keadaan baik-baik aja. Haizan ternyata brengsek. Dia yang telah membujuk ku kesini, dia hanya membayar tiket dan kos itu pun dia yang bilang bukan aku. Aku manut aja. Padahal aku sudah janji akan mengganti semuanya kalau sudah bekerja nyata apa? Dia mengambil mahkotaku itu jauh lebih mahal tidak ternilai harganya dari pada uang.
Next
__ADS_1