TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN

TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN
Romansa di balik derita


__ADS_3

Terbelenggu cinta di Negeri Jiran 33



"Aku sudah jujur sekarang kamu mau apa?" Khaizan melepaskan cengkraman nya merasa frustasi tapi dia harus mengontrol emosinya. Mereka diam cukup lama. Shifa kalau tidak di tanya dia tidak akan berbicara.


"Shifa... Semenjak kamu menghilang tidak ada jejak, hidupku hancur. Saudara perempuan ku di perlakukan sama seperti aku memperlakukan mu sekarang dia sudah meninggal karena bunuh diri dalam keadaan hamil di singapura. Karina menguasai gaji ku selama setahun, dia juga selingkuh dan telah hamil sama lelaki lain. Kami sudah putus."


Teman kos mu yang pertama, mereka kehilangan uang tabungannya selama bekerja di sini masuk ke bank negara kita. Tidak tau apa dan siapa penyebabnya. Uang itu seharusnya untuk kuliahnya nanti dan berobat orangtuanya yang sedang sakit. Tapi, karena uangnya tidak ada, orangtuanya hanya berobat seadanya dan juga meninggal. Yang lainnya di tipu teman yang dia tolong."


Mendengar ucapan Khaizan entah aku peduli entah tidak. Salah sendiri kenapa tidak me manusia kan manusia. Setelah mendapat karma baru mengeluh. 


"Shifa...! Kamu dengarkan ulasan ku? Maafkan aku karena telah menyia-nyiakan mu di sini. Tapi, sekarang hidupmu sudah mendingan kan? Aku ingin memperbaiki semuanya mulai dari Nol lagi. Melupakan semua kenangan buruk di masa lalu fokus menciptkana masa depan yang cerah di Malaysia ini."


Entah kenapa ada yang merasa tercekik di leher ini. Dadaku kembang kempis, mata berkaca-kaca. Shifa tak kuasa menahan air matanya lolos begitu saya. Segera menghapus air matanya. "Hahaha... Kasihan deh kamu. Kamu tau berbuat jahat pada orang lain itu tidak bagus tapi kamu terlena dengan nafsu duniawi. Aku kasihan padamu."


 Setahun ini luntang-lantung aku melakukan segala cara untuk menyambung hidup kalau aku tidak punya iman sudah mengikuti cara perempuan lain untuk bertahan hidup atau bunuh diri. Aku, di kelilingi orang-orang baik dan jahat tapi setelah aku berjuang dan merasa lebih baik kamu datang lagi minta maaf karena sudah mendapatkan karma nya. Menurutku caramu itu BASI tidak jauh beda dari film yang aku tonton."


"Shifa... Kok, bicaramu kasar sekarang? Dulu kamu tidak begini?" Tajam nya tutur kata shifa membuat Khaizan tersentak dia merasa shifa sudah jauh berubah tidak seperti dulu lagi.


"Iya, caramu untuk meminta maaf padaku itu BASI. Tidak ada gunanya sama sekali."


"Apa kamu tidak mau memaafkan aku?"

__ADS_1


"Memaafkan itu mudah, dari dulu mungkin aku sudah memaafkanmu karena aku juga tidak mau memberatkan akhiratmu nanti. Tapi, melupakannya itu yang susah cukup membuatku trauma lahir dan batin. Dan alhamdulillah kamu dan dan yang lainnya sudah mendapatkan karma nya. Itu sudah membuatku tenang. Maaf, mungkin tutur kataku tajam, tapi bagiku lebih tajam dari pada apa yang kamu lakukan pada ku. Sekarang nikmati saja hidupmu yang nelangsa itu. Aku ingin melupakan semua kenangan itu dan juga tidak ingin bertemu kamu lagi."


"Kamu belum ikhlas memaafkan aku."


"Terserah kamu menganggapnya bagaimana."


"Oke, aku terima. Tapi, kamu belum jawab di mana bayi kita? Katanya dulu kamu sedang hamil kan?"


"Bayi kita? Kapan aku hamil?" Lagi-lagi kata-katanya shifa membuat Khaizan frustasi melampiaskan dengan menghancurkan barang. Dia tidak tau ulahnya makin membuat Shifa membencinya. Ulah ayahnya dulu yang suka merusakkan barang yang ibunya beli kenangan itu menari-nari kembali di pelupuk mata. Shifa pikir kasihan bangat sama istrinya Khaizan nanti mendapatkan suami yang temprement.


"Maaf shifa aku emosi."


"Ok, kalau kamu tidak mau menjawab sekarang tidak apa-apa. Mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakannya. Aku tunggu kamu siap dulu. Oh, ya. Aku juga bekerja di sini di bagian operator produksi di lantai tiga."


"Ayok! Kita keluar, ngapain di gudang ini? Apa mau tidur di sini?" Kami keluar ribuan pasang mata memandangi kami. Aku risih bangat hanya menunduk sedangkan Khaizan bodo amat sama gunjingan orang.


"Shifa...! Kenapa kalian bisa bersama? Kalian kemana aja? Dia tidak ngapa-ngapain kamu kan? Aku nungguin kamu dari tadi, loh? Aku hubungi kamu tidak aktif." Indri datang tergopoh-gopoh membawa tasku.


"Aku terkunci di gudang. Aku gak tau entah dia yang menguncinya entah bukan. Aku teriak minta tolong gak ada yang dengar setelah itu Khaizan datang dan menguncinya kembali kami berbicara panjang lebar. Alhamdulillah aku sudah lega sekarang."


"Cieee... Cinta lama bersemi kembali."


"Apaan sih, kami sama sekali tidak pernah berpacaran. Mendengar ceritanya mereka sudah mendapat karma nya entah benar entah tidak. Tapi, yang ku tau sekarang aku sudah tenang. Aku yakin, dia yang mengajak kita kerja di sini. Sekarang aku bisa menjalani hari-hariku seperti orang lainnya."

__ADS_1


"Nah, gitu dong. Ayok, kita pulang!"


"Ok." Di perjalanan pulang Khaizan memperhatikannya. Sekarang mereka sudah bisa bernafas dengan lega. Masalah bayi Khaizan yakin shifa sudah menggugurkannya karena dia berteman dengan banyak wanita yang juga sering hamil di luar pernikahan dan melakukan hal yang sama.


***


Hari demi hari, minggu demi minggu dan bulan  pun telah berganti. Shifa kecanduan bekerja rasanya tidak ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi hanya menghabiskan waktu dan uang. 


Tapi, gabung di sebuah komunitas mengubah pikirannya pendirian itu wajib sama hukumnya seperti bekerja dan beribadah. Kuliah itu banyak manfaatnya bisa mencari pekerjaan dan pasangan yang lebih baik walaupun ujungnya hanya menjadi IRT biasa karena suami tidak mengizinkannya. 


Tapi, ilmunya berguna untuk dunia dan akhirat. Untuk menjadi ibu yang cerdas berwawasan luas.


"Indri...! Apa kamu tidak ingin kuliah? Sekarang ini kita sudah bukan gadis yang utuh lagi. Aku tidak mau di rendahkan pasangan nanti, aku ingin kuliah." Shifa dan indri sedang duduk di blankon kontrakannya.


"Ya, pengen dong. Kamu kapan memulainya?"


"Kalau dananya sudah cukup aku akan pulang tahun ini juga."


"Sabar aja dulu cepat atau lambat kita pasti kuliah." Kalau di pikirkan waktu terasa berjalan lebih lama. Bekerja pun rasanya sudah bosan, banyak gadis-gadis mengeluh capek bekerja maunya menikah biar ada yang menafkahinnya ternyata setelah menikah malah lebih berat pekerjaannya. Mengurus rumah, suami, anak mertua di caci maki suami, mertua dan ipar dan juga harus bekerja kesana kemari untuk memenuhi kebutuhan hidup yang serba mahal ini. 


Jadi, pernikahan bukanlah satu-satunya jalan agar ada yang menafkahinya justru 1000 pekerjaan yang di lakukan nanti curhat pun ke orang tidak ada yang peduli palingan mereka bilang "sabar" Niatkan menikah karena ibadah bukan karena ada yang menafkahi huh. BASI Kucing aja tertawa melihatnya.


"Fa...! Menurut informasi di grub. Menjelang akhir tahun ini akan ada razia besar-besaran untuk menyapu pendatang haram di sini. Razia terbesar sepanjang sejarah." Mendengar kata razia tiba-tiba rasa takut menghampiriku, aku tidak mau di angkut ke sana kemari seperti yang biasa ku lihat lelaki dan perempuan bercampur aduk seperti di kandang ayam. Mereka berteriak menangis minta di lepaskan. Kalau mereka di tangkap anak-anak mereka mau makan apa.

__ADS_1


__ADS_2