TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN

TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN
Meninggalkan kuala lumpur


__ADS_3

Terbelenggu cinta di negeri jiran 19


Tahun baru lembaran baru


Puas tidur siang dan makan, malam ini aku dan indri begadang sampai jam 12 malam. Mata ini sulit terpejam, padahal aku harus memulihkan kesehatan ku.


Teman-teman banyak yang menghubungi kami. Mereka menyanyakan kenapa aki tidak masuk? Apa aku di tangkap dan di masukkan ke dalam jeruji besi, apa aku pindah kerja atau pulang? Banyak juga mengajak main ke menara kembar tidak jauh dari kos. Setelah pulang lanjut dengan acara bakar-bakar. Katanya lagi ada seseorang yang mau kenalan dengan ku.


Mereka tidak boleh tau kondisiku yang sebenarnya. Bukannya tidak mau ikut hanya kami tidak mau lagi ikut ke acara yang tidak penting. Kami hanya menyaksikan acara di menara kembar lewat televisi. Tentang seseorang itu sudah tau mereka ramai mencari pasangan untuk tahun baru dan valentine. Tujuannya tidak jauh tentang dunia malam.


Untuk apa mereka menyalakan kembang api tidak ada gunanya sama sekali hanya membuang uang mending manfaatkan uangnya ke hal yang lebih penting.


***


"Lihat deh, penuh bangat lokasinya. Jadi pengen ikut." Indri datang membawa makanan, kami saling balas budi. Ku harap, indri menjadi sahabatku selamanya. Inilah gunanya kita harus berbuat baik sama orang-orang. Walaupun kemudian orang itu menyakitkan untuk kita, entah apa yang terjadi pada kita, entah siapa pula yang bersedia menolong kita.


"Jangan tinggal kan aku sendiri, aku takut"


"Ini ayam bakar untukmu."


"Gak ada roti bakar kan?"


"Hahaha, kenapa dengan roti bakar? Enak kok. Aku aja tidak apa-apa memakannya."


"Bukan kenapa sih. Hanya saja yang membuat roti bakar itu sudah melakukan kriminal. Kita tidak tau, wanita yang sedang ngidam memakan roti bakar eh keguguran. Apa lagi mereka mereka sudah lama menanti buah hati."


"Iya juga, ya. Kalau iya, dia sudah melakukan kriminal. Nanti ada orang yang menuntutnya ke jalur hukum kok. Tenang aja."


Happy new year 1 january 2015

__ADS_1


Detik ini hari, bulan dan tahun telah berganti menjadi tahun baru. Kami sepakat membuka lembaran baru mengambil pelajaran dari setiap peristiwa masa lalu menjadi pelajaran yang sangat berharga agar tidak gampang menyerah, terus semangat meraih cita-cita. Pengalaman adalah guru yang sangat berharga dari apapun.


Indri baik bangat mau merapikan barang-barang ku. Tidak banyak sih, entah sampai kapan dia tetap seperti ini padaku. Mungkin dia malaikat penolongku di kala senang dan susah. Untung kondisiku sudah lumayan sehat. Kalau tidak, apa dia mau menggendongku heheh.


"Indri! Biar aku yang merapikan barangku sendiri. Kamu susun aja barang-barangmu!"


"Gak apa-apa. Bajunya juga gak banyak. Kamu fokus aja sama kesehatanmu. Kamu yang merawat ku sepenuh hati dulu sekarang gantian aku yang mengurus mu."


"Kayaknya kamu jarang beli baju, ya!"


"Iya, gitu lah."


Kami pindah jauh meninggalkan kuala lumpur yang penuh kenangan ke hulu langat, Selangor. Melupakan semua kenangan di masalalu membuka lembaran baru. Walaupun pikiran tidak tenang yang penting hati tenang.


Kami mencari kos di kawasan pedesaan tempat ini paling jarang di masuki police. Ku perhatikan desa ini 11 12 sama yang di kampung, aku tidak mungkin menganggur terlalu lama, juga butuh biaya hidup dan tidak enak sama indri yang bekerja sendirian. Sedangkan aku hanya makan dan tidur.


"Aku harus cepat-cepat bekerja. Bos di kampung ngamuk nanti saldonya tidak masuk."


"Lantas dua minggu lagi aku ngapain? Sekarang ini aku juga udah merasa baik-baik aja."


Hidup di kota kejam tidak kerja tidak makan. Aku juga butuh biaya hidup, bulan depan bayar kos. Gak mungkin aku menggantungkan hidup sampai dapat gaji lagi pada kamu."


Kami mencari pekerjaan apa aja yang penting halal. Untuk saat ini bekerja di toko, walaupun tidak memiliki jiwa dagang, aku akan berusaha bekerja sebaik mungkin agar kinerja ku baik di mata pelanggan. Tidak akan membiarkan pelanggan pergi. Pulang dari malaysia aku bisa berdagang.


Rata-rata yang bekerja di kawasan ini pemuda dan pemudi dari Indonesia. Lihat di sosial media, hidup mereka sangat bahagia di sini. Bisa kerja cari uang sendiri bisa membeli barang yang mereka mau. Tidak mengharapkan uang pada orangtua dan suami yang tidak seberapa. Orangtua dan suami juga banyak yang keberatan menghidupi anak dan istri. Tidak semuanya hanya sebagian aja.


Namun, jangan tertipu seperti aku sama dunia maya. Walau bagaimanapun kalau bukan karena Haizan, aku tidak akan sampai ke negara ini. Ambil hikmahnya aja.


"Gimana toko ini? Kamu suka gak?"

__ADS_1


"Tergantung."


"Nanti kalau tidak cocok bisa pindah." Indri pekerjaannya tidak pernah menetap, sebulan bekerja, berhenti dan pindah lagi. Kalau bisa bertahan gaji kita bisa naik. Tapi, hati tidak bisa di paksa kalau orang tidak suka, dari pada terjadi apa-apa mending berhenti.


Mereka yang punya toko suka berbicara memakai bahasa inggris dan china. Kami sama sekali tidak mengerti, tapi bisa menangkap dari gerak-geriknya mereka sedang membicarakan kami. Aku cukup peka dengan seseorang menyebut namaku.


Susah juga kalau hati cepat tersinggung kata indri cuekkin aja. Itu juga yang membuat dia tidak betah kerja lama-lama.


"Indri! Sepertinya mereka ngomongin kita."


"Cuekkin aja. Kerjakan apa yang menjadi pekerjaan kita. Layani pelanggan dengan baik."


Pelanggan yang datang kebanyakan anak-anak muda. Bekerja tidak mudah dan menghabiskan uang untuk Negera ini. Jadi, menciptakan lapangan kerja untuk meramaikan pusat perbelanjaan. Jatuhnya mentok di tempat. Aku akan berusaha untuk tidak tergiur dengan membeli barang yang tidak penting. Menabung untuk masa depan.


Dari banyak pelanggan entah kenapa mataku tertuju pada sosok yang mirip Haizan bersama seorang wanita. Apa Haizan di sini?


Ku perhatikan sampai sosok itu menghilang tidak sadar ada beberapa barang yang hilang alhasil aku di marahi bos dan gajiku di potong.


"Kamu serius mau kerja apa melamun? Kalau tidak serius bekerja tinggalkan toko ini cari yang lain. Kalau tetap bekerja di sini jangan melamun, gajimu di potong."


Madam Veronica nama bosku ini berbicara lantang memekik telinga, karyawan lain dan pelanggan memandangi ku, bos sama sekali tidak menjaga kata-katanya yang membuat pelanggan tidak enak. Pelanggan yang kebanyakan dari Indonesia itu pergi. Mungkin tidak enak hati melihat teman se negaranya di marahi seperti ini.


Aku malu bangat ingin menangis tapi tidak enak dengan karyawan lainnya.


"Iya, Ce."


"Kamu kenapa? Bukankah kita sudah sepakat untuk melupakan masa lalu, Serius bekerja demi masa depan dan membuka lembaran baru?"


"Mengucapkan kata melupakan itu mudah. Tapi, prakteknya tidak semudah mengucapkan teori. Susah, Ind."

__ADS_1


"Pelan-pelan aja. Praktek memang tidak semudah mengucapkan teorinya."


__ADS_2