TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN

TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN
Janin ini benihmu, Haizan! dan murka karina


__ADS_3

TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN 13


Shifa



Haizan merangkul pingang wanita itu. Wanita seperti nya kekasih membalas rengkuhannya dengan mengapit tangan Haizan. Ada yang sakit tapi tidak berdarah di sini. Apa aku cemburu? Aku sedang hamil anaknya. Hanya dia yang menyentuh ku. Tapi, dia membantah tuduhanku dan sekarang di depan mataku sendiri mereka sedang bermesraan.


Hatiku sakit bangat. Hancur sudah masa depan ku.


"Sayang! Siapa dia? Kok, pagi-pagi buta ini dia sudah di sini? Apa kamu selingkuh?" Wanita itu menoleh ke arahku.


"Haizan memegang tangannya. "Dia sepupu jauhku dari kampung. Mau kerja disini. Selingkuh? Tidak kok sayang. Kamu tenang aja, pernah gak, kamu lihat aku selingkuh selama ini?"


"Sepupu jauhmu? Dia tinggal di sini? Walaupun kalian sepupu tapi bukan mahram loh. Ingat, banyak orang yang bukan suami istri kumpul kebo di sini."


"Dia tidak tinggal di sini hanya singgah. Kosnya ada satu atap dengan kos kamu."


"Oh, begitu ya? Maaf ya, sayang aku sudah suudzon sama kamu." Wanita yang tidak ku ketahui namanya itu menoleh ke lagi ke arahku. Aku menunduk sambil meremas dadaku perih bangat. "Pulang nanti bareng aja ya! Sambil main ke kos masing-masing."


"Malam nanti dia pulang. Dia harus mencari kerja."


"Oh, belum dapat kerja. Di tempat aku sedang..."


"Ya, sudah. Yuk! Kita berangkat nanti terlambat." Haizan memotong ucapannya. Di mana dia kerja? Aku bisa menebak ujungnya.


***


Setelah mereka pergi aku harus bagaimana? Haizan sama sekali tidak mau mengakuinya dan bertanggung jawab. Aku capek, aku lelah, Minggu ini Haizan rutin membawa wanita yang bernama Karina itu ke rumah ini. Setiap kali aku minta tanggung jawab, Haizan membentakku.


Haizan



"Shifa! Setiap kali kamu minta tanggung jawab. Aku bilang tidak ya, tidak. Jangan kamu ulangi lagi kata-kata sampah mu itu kalau masih mengulanginya lagi. Silahkan angkat kaki dari rumah ini." Aku menunduk, air mata bercucuran deras. Harus dengan cara apa lagi aku membujukknya.

__ADS_1


Ingin aku bilang pada karina tapi tidak punya kontaknya. Apa aku gugur kan saja kandunganku? Ya, Allah maafkan aku harus membunuh janinku sendiri.


Sudah banyak nanas muda yang dia makan. Sungguh tidak enak di lidah tapi demi menguburkan kandungan tetap di kunyah. Tak lupa mencampurnya dengan obat-obatan dan minuman berdoa yang ada perutnya sakit melilit, janin nya sangat kuat.


"Shifa! Ada apa denganmu! Kamu sakit?"


"Sakit biasa karena bawaan hamil. Beginilah ibu mu mengandung mu dulu. Bahaya kalau suaminya tidak menjaganya sampai bayinya lahir."


"Mana suamimu?"


"Dia pergi tidak mau bertanggung jawab. Palingan sudah besar anaknya baru datang dan mengambil hak asuh anak, mungkin tidak memiliki anak dari istri barunya." Haizan tediam cukup lama. Aku lanjut tidur, Haizan pergi.


Haizan datang lagi membawa kulit nanas muda, botol minuman bersoda dan obat sakit kepala. "Kamu makan ini? Untuk apa? Apa ini yang membuatmu sakit?"


"Iya. Aku mau membunuh janin ini. Kasihan kalau hidup di dunia orangtuanya tidak menginginkan keberadaan nya."


Tok tok tok


Karina



Karina datang secara tiba-tiba. Padahal ini sudah waktunya para pekerja pulang. Apa mereka ingin menghabiskan malam bersama di rumah ini? Dalam keadaan badan dan hatiku sedang hancur.


"Sayang! Kok tiba-tiba kamu di sini? Kenapa kamu ikuti aku kesini?"


"Aku curiga sama kamu. Tidak ada tanda-tanda Shifa pulang ke kosnya. Aku sudah menunggunya sejak waktu itu. Ternyata dia masih di sini. Coba jelaskan, siapa yang memakan ini? Untuk apa? Apa shifa yang memakannya? Apa shifa hamil? Aneh bangat yang di makan."


Karena sejak waktu itu firasat ku sudah tidak enak. Setiap aku tanya kenapa shifa tidak pulang ke kos kamu mengalihkan pembicaraan. Maksud nya apa? Jangan anggap aku orang bodoh yang tidak di haruskan tau apa-apa di sini." Karina memandangi kami satu persatu. Sedangkan Haizan diam aja berpikir kata-kata apa yang harus dia utarakan."


Karina mulai curiga dengan hubungan kami. Apa saatnya aku bilang aja? Tapi, nanti Haizan mengusirku. Apapun yang terjadi, aku harus kuat tidak akan membiarkan diriku menderita.


"Karina." Aku duduk mengajak Karina berbicara.


"Sudah! Shifa tidur aja. Karina aku antar kamu pulang."

__ADS_1


"Tunggu! Kenapa kamu ada berdua di kamar ini? Apa kalian pernah macam-macam? Kalau shifa sakit, aku juga pernah sakit, aku urus diriku sendiri tidak ada yang membantu ku. Kok, shifa masih manja. Kebiasaan di kampung kalau sakit masih di bawa ke daerah lain."


Haizan! Shifa! Jawab." Karina berteriak mengagetkan kami. Kali ini aku tidak akan diam lagi.


"Aku hamil anak Haizan. Haizan yang menghamili ku dalam keadaan mabuk."


"Apa?"


"Shifa! Jaga mulutmu. Karina! Jangan percaya kata-katanya dia bohong. Sekarang, biar aku antar kamu pulang."


"Apa? Aku tidak salah dengar? Shifa hamil anak mu zan! Benar itu? Kamu menghamili nya sedang mabuk."


"Iya, benar Karina. Sayangnya dia tidak mau mengakuinya."


"Karina! Dengar aku. Sejak pertama kali kita bertemu tidak pernah sama sekali aku neko-neko. Kamu tau itu. Sebenarnya, Shifa datang ke sini dua minggu yang lalu dalam keadaan hamil. Ini buktinya. Dia kekasih aslinya Shifa. Waktu kesini shifa tidak tau dirinya hamil."


Deg


"Haizan bohong. Dia yang menghamili ku. Bukan orang yang di foto. Karina kamu harus percaya Haizan sudah bohong."


"Shifa! Jaga mulut mu. Aku sudah muak dengan tuduhan mu selama di sini. Sekarang, waktu dan tempat aku persilahkan angkat kaki dari rumah ini."


"Haizan! Kenapa kamu menghancurkan aku seperti ini? Kamu yang membawaku kesini? Kamu sudah janji mau membantu aku sampai mendapatkan pekerjaan. Tapi, sampai sekarang semuanya hanya kebohongan belaka. Aku sudah kamu tipu mentah-mentah."


Kamu yang melecehkan aku di karoke dan kemaren dalam keadaan mabuk. Aku hancur bangat. Pada saat hamil, kamu tidak mau bertanggung jawab. Mau kamu apa? Kenapa menghancurkan aku seperti ini."


"Benar itu sayang?"


"Tidak benar sama sekali. Kan sudah aku bilang dia bohong. Pertama kali ke malaysia, dia sudah hamil. Aku sendiri yang melihat alat tes kehamilan di tasnya. Sekarang dia menunduh aku. Aku tidak bisa membantunya mencarinya pekerjaan resikonya besar untuk kehamilannya."


Sekarang, aku sudah sangat lelah di tuduh mulu. Maaf, ya dia bukan sepupu aku. Tapi, teman lamaku yang minta di bawa kesini untuk kerja. Aku terpaksa bohong tidak mungkin aku bilang yang sebenarnya. Sekarang, kamu percaya aku apa dia?"


Apa? Haizan sangat pintar bersilat lidah. Tidak terpikir sama sekali ujungnya akan seperti ini. Ya, Allah. Kenapa miris sekali nasib aku selama ini. Aku di fitnah sudah hamil duluan sebelum ke sini. Ya, Allah. Baru aku tau ada manusia seperti. Kenapa engkau restui aku kesini dulu ya, Allah. Sekarang, aku menyesal tidak mengikuti kata-kata teman dan tidak pula minta restu pada ayah dan ibu. Sekarang hamba harus kemana ya, allah.


Next

__ADS_1


__ADS_2