TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN

TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN
Malam pertama di Malaysia


__ADS_3

TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN 8


Setelah mendapatkan kos yang cocok, aku tinggal bersama tiga perempuan lainnya. Mereka berasal dari sumatra. jawa, dan sulawesi. Sepertinya umurnya tidak jauh dariku.


Aku tidak mau memakai barang yang tidak di cuci dulu walaupun bersih. Aku beli sabun-sabun nya, di keringkan. Cuacanya sangat panas, cucianku aku cepat kering. Setelah kering mereka merebutnya. Oh, tuhan.


"Kamu sudah mencuci milikku, Shifa. Ma'af, aku ambil, ya. Pakai yang ini." Salah satu teman kos yang tidak ku ketahui namanya itu menyerahkan kasur santai nya pada ku. Kotor bangat.


Dapurnya kotor bangat, kulit nanas muda di mana-mana. Untuk apa pula memakan semua ini. Aku bersihkan semuanya mereka tinggal meikmatinya aja. Ternyata fasilitas ini punya mereka bukan fasilitas kos.


"Terima kasihan, ya! Kamu sudah membersihkan barang kami." Oh, tuhan.


Duduk di tempat tidur masing-masing, mereka sibuk masak, tidak ada satupun yang menawari aku makan. Menurut cerita mereka masuk malam aku kelaparan.


Aku putuskan membeli nasi bungkus di bawa ke kos. Aku tidak mau seperti mereka yang tidak terbiasa menawari orang makan.


"Makan kak!"


"Terusin aja."


***


[Gimana perasaanmu saat ini? Apa mereka memperlakukan mu dengan baik]


[perasaanku nano-nano. Aku sudah capek-capek membersihkan barang di kos ini ternyata milik mereka]


[Pakai aja, itu fasilitas untuk anak kos]


[Katanya punya mereka. Jadi, gimana]


[Kasur, dan kompor gas milik kos. Yang lainnya baru milik mereka]


[Jadi, aku bisa menarik meminta kembali kasur yang sudah aku bersihkan. Aneh mereka tidak menawariku makan]


[Bisa, kadang teman memang seperti itu. Beli makanan sendiri]


Haizan masuk malam, besok rencananya kami mencari kerja, sudah ku tanya teman kos. Tapi, mereka kurang mau menjawabnya. Wajahnya sangat tidak enak di pandang, bukan berarti tidak cantik, tapi judes. Sombong bangat, aku merasa tidak betah.


Aku ambil apa yang sudah aku cuci. Toh, aku ambil yang tidak di pakai.


"Kamu ambik kasur ku, Shifa? Kembalikan itu milikku" Entah jam berapa ini. Bukan ayah dan ibu aja yang kurang sopan. Orang lain juga.


Aku duduk"Ini, aku ambil di pojok sana." Kasur nya sudah tidak kalian pakai. Ini milik kos, bukan milik kamu."


"Siapa bilang ini milik kos?"


"Yang punya kos." Tentu aja aku bohong.

__ADS_1


"Aku yang duluan memakai ini, pokonya aku gak mau tau. Kembalikan." Ela nama gadis ini tidak mau kalah merasa memiliki semuanya. Aku diamin aja biarkan dia bosan sendiri.


"Kamu budek apa bego? Kembalikan milik ku!" Kami saling tarik menarik yang lainnya hanya diam aja. Aku mengalah aja. Tapi...


"Aduh, kok jadi gatal gini." Ela menggaruk badannya entah kenapa dia, padahal sudah ku cuci sampai wangi.


"Kamu kenapa, La?"


"Iya! Kamu kenapa?"


"Gatal bangat badan ku."


"Kamu alergi sabun kan? Berikan pada Shifa." Ela memberikan kembali kasur nya padaku. Aku bisa tidur lagi walaupun tidak nyenyak, mereka selalu ribut menganggu ku.


***


Pukul lima subuh aku bangun, keluar ku lihat mereka sudah siap-siap pergi kerja. Aku tanya katanya mereka tidak mau ketinggalan bus.


Badannya ela remuk bintik-bintik merah sampai ke muka. Mereka gantian mandi setelah itu berangkat kerja.


Tinggallah aku sendiri memandangi kota di atas ketinggian yang sudah ramai orang lalu lalang dan macet.


[Apa kamu sudah bangun? Ayo kita keluar] Haizan mengajakku keluar, saat ini rencananya mau cari kerja.


[Aku mau mandi dulu]


[Iya]


Siap membersihkan diri aku keluar, haizan sudah menunggu di bawah. Itu mau mencari kerja apa mau kencan?


[Ayok]


Ternyata Haizan punya motor di sini. Aku tidak tau di bawa ke mana aja. Aku takut tidak tau jalan pulang. Kata Haizan kan ada taksi.


"Tenang aja, ada taksi yang mengantar kita sampai alamat yang penting hafal alamatnya."


Haizan hanya membantuku mencari kerja aja. Kenapa tidak minta tolong sama teman wanitanya siapa tau ada. Untung aku sudah berpengalaman sebelumnya.


"Ada gak teman wanita mu kerja di sini? Ada gak lowongan kerja di tempat dia?"


"Aku gak punya teman wanita. Tenang aja, nanti dapat juga kok."


"Masa gak punya?"


"Emang gak punya."


Kami sampai ke kuala lumpur dekat twins tower banyak touris asing di sini. Seharian ini aku di bawa jalan-jalan sampai ke baru caves. Ada patung Budha yang di jadikan objek wisata. Aku tak lupa mengambil gambar di sini.

__ADS_1


Aku menoleh pada haizan yang asyik memotret ku. "Ini yang sering ku lihat di sosial media itu aslinya bagus bangat."


Haizan memberikan ponselnya padaku. "Kamu suka?"


"Suka bangat."


"Aku mau kerja apa aja dulu yang penting halal. Menjelang aku hafal kawasan ini."


"Tenang aja."


Hingga malam harinya aku tidak kunjung dapat kerjaan. Saatnya aku pulang, karena malam ini malam minggu, Haizan membawaku main ke suatu tempat. Aku sebenarnya tidak mau main, aku ingin mencari kerja. Dari tadi haizan tenang aja belum 24 jam disini.


Haizan membawa ku ke tempat karaoke, memesan minuman dan cemilan lainnya. Aku tidak mau meminum minuman yang berwarna. Haizan bujuk aku agar aku meminumnya. Katanya itu air jeruk, aku tidak suka selain air putih.


Baru mencicipinya ku semburkan masam bangat, menoleh, aku tanya "apakah ini minuman haram?"


Dia jawab "Ini air jeruk biasa." Kamu gak suka air jeruk?"


"Kok rasanya aneh."


"Memang seperti itu rasanya. Kamu tidak pernah meminum sirup jeruk?"


"Gak pernah."


"Waktu berbuka puasa juga tidak pernah?"


"Tidak pernah sama sekali. Aku hanya minum air putih."


Tiba-tiba kepalaku sakit, ada apa ini? Apa ada kaitannya dengan minuman ini. Ya, Allah. Aku harus bagaimana? Haizan tetap melanjutkan menyanyinya makin membuat kepalaku sakit. Semakin lama sakitnya semakin parah. Aku ingin pulang.


"Zan! Kita pulang, yuk! Kepalaku sakit bangat."


"Sakit kenapa?"


"Gak tau tiba-tiba aja sakit."


"Apa kamu sering sakit kepala sebelum nya?"


"Sering tapi tidak separah ini. Ayo, kita pulang."


"Biar aku beli obatnya, setelah reda sedikit baru pulang. Bahaya kalau kepala sakit nanti tambah sakit kena angin malam."


"Iya." Haizan keluar, aku berusaha kuat agar tidak jatuh. Kenapa aku bisa sakit, dia tidak. Padahal kami sama-sama minum air jeruk. Apa aku mabuk? Apa itu minuman haram? Oh, tidak. Haizan kemana lagi sudah satu jam lewat aku di sini, aku risih bangat.


Tiba-tiba aku ingin tidur, astagaa aku tidak boleh tidur. Aku harus kuat tapi semakin membuat kepalaku sakit. Tapi.


"Shifa! Ini obatnya."

__ADS_1


Next


__ADS_2