
Terbelenggu cinta di Negeri Jiran 73
Tahun 2022 ini umurku menginjak angka ke 32 tahun. Di mana umur yang sudah cukup matang untuk membina rumah tangga. Banyak orangtua yang datang ingin menyerahkan anak gadisnya untuk ku. Aku bisa memilih tapi jatuhnya jadi memilih selir.
Dalam hatiku masih terlukis nama seorang wanita lain di mana saksi hidup kehidupan ketika berada di bawah sampai puncak walaupun tidak semuanya dia tau tentang aku.
Kelakuan ku di masa lalu yang masih membekas di hatinya membuat dia mengunci hati pada orang lain. Wanita itu tidak percaya dengan benci yang bisa berubah menjadi cinta. Hatinya sungguh keras sekeras batu.
"Shifa! Apa orangtua mu tidak pernah menanyakan siapa kekasih mu?" ujarku ketika sedang berkumpul pada jamuan makan malam di sebuah restoran yang sudah aku sewa untuk malam ini bersama karyawan perusahaan.
Shifa melirik kiri kanan, aku tau gadis ini sedang canggung dan memilih memisahkan diri dari yang lainnya sedangkan aku mengikuti jalan dia mengundang penasaran karyawan lain.
"Tidak pernah sama sekali. Mereka tidak sama dengan orangtua wanita lain yang ngebet ingin anak perempuannya segera menikah."
"Kok gitu?"
"Karena mereka tau menikah itu tidak seindah di khayalan anak gadis."
"Apa mereka tidak pernah di tanyai sama tetangga biasa budaya kuno di Negara kira masih erat dengan pertanyaan "Kapan nikah?"
"Awalnya mereka risih tapi semakin lama mereka semakin kebal dan tidak merespon pertanyaan itu."
"Apa alasan mu sampai sekarang belum menikah?"
"Lalu apa alasan mu belum juga menikah sampai sekarang?" kami berdiri di bawah pohon mangga yang tidak jauh dari tempat parkir.
__ADS_1
"Alasanku masih menunggu seorang wanita yang hatinya masih terkunci oleh kisah masa lalu."
"Siapa wanita itu? Di luar sana banyak wanita yang mengantri menjadi istrimu. Kenapa menunggu seorang yang tidak pasti menyukaimu entah tidak."
"Itu yang aku sukai wanita itu, sok jual mahal padahal dalam hatinya mau."
"Dari mana kamu tau dia mau? 1000 wanita 1 di antaranya yang tidak gampang jatuh cinta dan juga tidak membutuhkan adanya laki-laki dalam hidupnya. Sedangkan kalian laki-laki sangat membutuhkan wanita, entah sanggup menghidupi dia entah tidak pokoknya kalian sangat membutuhkan wanita."
"Apa alasan ada wanita yang tidak membutuhkan laki-laki?"
"Menurut pengalamanku yang pertama dia sudah mandiri, bisa mencari uang sendiri, punya trauma di masa lalu hidup di lingkungan toxic, ayah yang tidak bertanggung jawab tidak memperhatikan tumbuh kembang dari bayi sampai dewasa."
"Ada lagi?"
"Terlalu sering melihat pengalaman wanita lain yang sudah menikah di negara ini di jadikan pembantu gratis, suami selingkuh tidak bertanggung jawab, mertua dan ipar jahat, KDRT dan mendua. Jadi, masa wanita cerdas mau berada di lingkungan yang seperti itu. Wanita di lahirkan oleh ibunya, dibesarkan penuh cinta, di sekolahkan sampai sarjana belum sempat bekerja membalas orangtua datang lelaki yang melamar dan menikahinya. Sopan gak lelaki yang seperti itu?"
"Aku yakin orang seperti itu punya luka batin yang belum sebuh. Lebih baik di bawa ke psikiater, di berikan perawatan elektroterapi untuk menghilangkan depresi kalau tidak di hilangkan, bisa-bisa jadi gila."
"Ilmu mu terlalu jauh, pelajaran ku tidak sampai ke situ."
"Aku juga tidak punya ilmu tapi aku aku belajar pelajaran apapun yang aku suka."
"Kamu merendahkan dirimu sendiri?"
"Aku tidak merendahkan diri ku sendiri tapi aku membantah kamu menyebut ilmuku terlalu jauh padahal aku sama sekali tidak berilmu."
"Lalu apa yang kamu pelajari di sembah dan kuliah selama lima tahun jika kamu bilang masih tidak berilmu?"
__ADS_1
"Aku hanya belajar, mencari jati diri dan mengasah skill itu aja."
"Fix, kamu sedang depresi, kamu butuh psikiater. Kapan kamu mau konsul biar aku bantu kamu konsul pada temanku."
***
Shifa
Pada jamuan makan malam di malam minggu di adakan di sebuah restoran bintang lima di kota Jakarta. Setelah makan mereka berkencan dengan pasangannya masing-masing. Sedangkan aku menyendiri dan merasa tertekan karena tidak memiliki teman ngobrol.
Lalu, kahizan datang membawa minuman berwarna, sekarang aku tidak mau sembarangan meminum minuman dari siapapun. Takut hal-hal seperti di Malaysia terulang kembali membuatku hancur sampai sekarang.
"Minum dulu." Haizan menyerahkan segelas jus mangga untukku.
"Gak usah terima kasih." Tolak ku.
"Santai aja jus ini gak ada racunnya kok. Jangan takut."
"Berikan pada orang lain."
Kami mengobrol panjang lebar membicarakan pernikahan. Dewasa ini aku sudah tidak ada niat untuk menikah ingin melajang seumur hidup. Aku tidak mau di sakiti lagi sudah cukup ayah dan laki-laki di sekolah dulu yang menyakiti ku lahir dan batin, jangan sampai ada lelaki dan perempuan lain lagi yang menyakiti ku aku sudah capek ingin mati saja. Tapi, mati juga butuh perjuangan agar pergi dengan cara yang baik-baik dan sudah siap.
Khaizan membilang aku depresi butuh berobat ke psikiater. Aku tersinggung dengan ucapannya. Aku sih sudah tau kalau diri ini sedang depresi itu sudah lama sejak kecil sampai umur 27 aku memendam sendiri penyakitku. Ingin aku ke psikiater tapi belum sempat karena sibuk kuliah dan kerja. Juga tidak mau di anggap gila kata orang Indonesia.
Samapi di kontrakan aku selalu terbayang dengan omongan Khaizan tadi. Apa aku harus ke psikiater? Kalau di pikir-pikir aku harus ke psikiater dan melakukan elektroterapi untuk menghilangkan depresi.
__ADS_1
Kata orang kalau kita sedang banyak pikiran dan stress bawa sholat, baca Al-Quran dan berdoa pada Allah agar di berikan ketengan hati. Hellow, kalau seperti itu semua orang bisa melakukannya. Tapi, kita membutuhkan cara baru untuk menyembuhkan luka hati. Tidak akan aku ikuti kata-kata orang yang belum tentu benar. Aku ikuti jalan ku sendiri aja.
Bersambung...