TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN

TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN
Firasat seorang Ibu tidak akan salah


__ADS_3

Terbelenggu Cinta di Negeri Jiran 57


[Kak, ibu mau berbicara]


[Apa ibu sudah selesai di operasi? Tunggu ibu sembuh dulu]


[Sudah kak, sekarang dalam masa pemulihan. Tapi, ibu pengen banget berbicara sama kakak]


[Tunggu ibu sembuh dulu]


[Maunya sekarang kak, ibu kepikiran soalnya.]


[Bilang aja aku baik-baik aja tidak usah khawatir]


Sejak kapan ibu memikirkan aku? Apa ibu sudah mendapatkan hidayah? Apa ibu kepikiran sama keberadaan dan pekerjaan aku di sini? Inilah putri yang ibu benci yang rela menjual dirinya demi kesebuhanmu.


Suami tersayang ibu entah berada di mana. Adanya di rumah pada saat ibu sembuh kalau sedang sakit, ayah pergi tidak tau ke mana. Apa ayah sekarang sudah pulang? Kali ini tidak akan aku izinkan menjadi sapi pernah para benalu-benalu itu lagi. Aku harus memikirkan diriku juga.


Aku punya cita-cita ingin menjadi aktifis pembela perempuan. Berapapun umurku aku harus menggapai mimpi ku. Aku akan berusaha membela para perempuan dan anak yang keberadaannya seharusnya di lindungi malah di zolimi iblis bersujud manusia.


Mereka tidak memandang bulu, baik orang lain, ayah kandung, paman, tante, kakek, nenek, ibu, saudara, tetangga dan, suami, mertua, ipar dan lainnya. Apapun masalahnya yang selalu di salahkan adalah korban dan perempuan. Itulah negeri ku tercinta.


Susah payah pahlawan tanpa tanda jasa berperang melawan penjajah tumpah darah dan air mata demi mempertahankan negeri untuk anak cucu musnah sudah oleh anak cucunya sendiri. Walaupun pikiranku berbelit-belit tapi aku yang aku ucapkan dalam hati memang benar adanya kok. Jangan munafik deh, kita selalu di bodohkan bangsa asing, ah bangsa sendiri jago membodohkan sesama bangsa apalagi bangsa lain.


***


"Kamu sudah bangun, Fa! mandilah setelah itu kita makan bersama. Khaizan masih di luar tuh," Benar-benar kami seperti sebuah keluarga. Khaizan masih terlentang dan berkutat pada ponsel. Aku menuju kamar mandi."


Hari ini aku bahagia banget. Jantungku deg degan membayangkan aktifitas kami di kamar bar semalam. Benih-benih cinta yang suka muncul dan hilang sesuka hati malam tadi aku merasakan kembali rasa itu. Tumben dia bisa menahan hasratnya? Padahal aku tidak sedang datang bulan. Ah, masa lalu itu terbayang lagi di pelupuk mata ada senang dan benci.

__ADS_1


Susah banget menerima takdir itu padahal ada hikmah di setiap cobaan yang ku terima. Ada teman yang sampai sekarang masih setia berteman denganku. Kami satu nasip, satu jalan dan satu pemikiran. Padahal tidak sedarah.


Tapi, apa yang Khaizan pikirkan tentang aku ya? Aku penasaran dan dia sedang chatingan sama siapa? Aku kepo.


Aku intip dia dari kamar mandi tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. Astagfirullahalazim, kenapa aku memikirkan dia. Ingat shifa, jangan cepat terlena dengan seorang lelaki yang berbuat baik pada kita. Perempuan memang cepat luluh.


Selesai mandi dan memakai baju, lekas keluar dengan menundukkan pandangan. Khaizan memandangi ku sampai masuk kamar. Tiba-tiba indri datang dari luar membawa makanan enak. Aku merasa indri di jadikan asisten oleh Khaizan.


Oh, ya, gimana perasaan indri ya? Apakah dia tidak cemburu? Dia kan menyukai Khaizan. Hati orang memang tidak bisa di tebak.


Aku mengintip dari kamar, mendekatkan telinga ke pintu entah apa yang mereka bisikkan.


"Apa sih yang mereka bisikan? Serius banget. Aku tidak mendengarnya sama sekali." Lekas beres-beres, pelan-pelan keluar melihatku mereka kaget. Aku makin curiga ada sesuatu yang mereka sembunyikan.


"Kita makan bersama, Fa! Lauknya kepiting saos padang. Cumi-cumi bakar sama pecel ayam," ujar indri.


"Anggap aja kita keluarga," ujar Khaizan.


***


Sebulan berlalu dari peristiwa itu, ibuku sudah sembuh dan aku memberikan ibu modal untuk membuka usaha kecil-kecilan. Tidak usah ikut menjadi buruh harian lagi di kebun orang. Ingin mengajak royan merantau juga untuk membayar hutang pada Khaizan. Tapi, siapa yang menemani ibu di rumah? Aku hanya punya satu saudara kandung.


Aku banyak mengambil lembur hingga gajinya menyentuh angka kalau di rupiahkan sekitar 10 jutaan. Aku akan mengumpulkan uangnya selama setahun.


Ibu calling


"Hallo, Bu! Apa kabar?"


"Hallo, Alhamdulillah baik. Kamu apa kabar?" sapa ibu di seberang sana.

__ADS_1


"Kabar ku baik juga, Bu. Aku udah kirim uang ke rekening royan untuk usaha kecil-kecilan ibu. Apa ibu mau buka warung silahkan yang penting itu tidak usah lagi menjadi buruh harian di kebun orang."


"Iya, ini mau nya begitu. Tapi, ayahmu pulang begitu aja dan mengambil semua uang yang royan kasih dari ibu," ayah lagi, ayah lagi, apa maunya itu orangtua selalu menjadi benalu pada kami.


"Ayah sudah pulang dan barulah lagi?"


"Iya, begitulah. Sebelum itu ibu mau tanya, berapa gajimu sebulan dan berapa pula tabunganmu selama di Malaysia? Ibu tanya ke orang dan biaya hidup di sana mustahil kamu bisa mengumpulkan uang sebanyak itu dalam waktu tiga tahun tahun."


jangan sampai ibu tau seperti apa kehidupan ku di sini bisa shock, jantungan, pingsan dan masuk ke RS lagi. Tapi, apa ibu sudah sadar dengan kelakuannya?


"Ibu ragu padaku? Apa ibu tidak lihat tetangga-tetangga kita banyak yang ke Malaysia dan pulang membeli tanah dan rumah yang bagus, Bu?"


"Itu mereka sudah puluhan tahun merantau. Gajinya sudah besar. Jujur aja, apa kamu tidak menjual dirimu?"


"Apanya yang di jual, Bu?"


"Kalau aku jual diri uangnya tidak halal, Ibu yang sedang sakit mungkin sudah mati. Tidak perlu tau aku dapat uang dari mana, sebagai anak aku kan harus berbakti pada, ibu. Udah lah. Aku kerja dulu." Ku matikan sambungan telponnya, berangkat kerja.


"Shifa ...! Kamu datang juga. Ini hampir terlambat loh. Apa kamu sering lembur, kesiangan lalu datang terakhir terus?" Ella datang menghampiri ku.


"Enggak juga kok. Banyak pekerjaan rumah yang aku lakukan. Pagi subuh sebagai ibu rumah tangga tanpa gaji, siang sebagai wanita karir menghidupkan anak sepuluh."


"Oh, ya, sebulan yang lalu aku lihat kamu sama Khaizan keluar dari, Bar. Kalian ngapain, hayoo?"


"Apaan sih kamu. Ngapain kamu ngunjungi, Bar?"


"Cuma lewat aja. Aku tidak tau masalah kalian di masa lalu, di masa sekarang apalagi masa depan. Setelah peristiwa tiga tahun yang lalu sekarang kalian sudah baikan dan ke Bar. Aku seperti tetangga selalu melihat suami istri bertengkar setelah itu baikan lagi."


"Terserah kamu berpendapat seperti apa. Aku pergi dulu."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2