
Serius? Ok, Aku ingin bicara serius pada mu. Kapan kamu akan menikah? Biasanya perempuan itu lebih membutuhkan perhatian karena perempuan suka di tuntut oleh umur, keluarga dan orang lain. Apa kamu belum kunjung membuka hati pada seseorang? Apa alasannya?"
"Aku sih tidak menargetkan kapan akan menikah. Kalau ada seseorang yang menarik perhatian ku, mau menerima ku apa adanya dan mau bertanggung jawab padaku lahir dan batin aku terima dia. Tapi, kalau menikah hanya untuk main-main dan ajang berbuat dosa aku tidak akan mau menikah. Tuntutan umur dan orang lain sama sekali tidak aku gubris toh aku tidak minta makan pada dia kenapa memikirkan kata-kata orang lain?"
Kalau butuh perhatian dan sandaran, aku tidak mau bergantung ke Makhluk yang namanya Manusia karena mereka semuanya palsu banyak yang tidak berfungsi dengan baik untuk pasangannya. Jadi, aku hanya menjadikan diriku sendiri dan tuhanku saja untuk bersandar."
Kalau membuka hati dari dulu sudah melakukannya hanya saja aku bodo amat sama perasaan sama seseorang karena aku tau perasaan itu normal di alami oleh manusia tapi kecil kemungkinan untuk memilikinya karena tidak ada jaminan seseorang yang kita sukai menyukai kita juga belum tentu jodoh."
"Apa kamu merasa rendah diri? Aku rasa kamu minder menganggap dirimu tidak pantas di miliki oleh seorang yang kamu suka."
Apa yang di bilang Khaizan barusan itu benar, aku merasa rendah diri dan minder pada orang lain. Karena sudah puas di jajah oleh orang. Di rumah di jajah orangtua, di sekolah di jajah murid lain dan guru yang tidak menyukai murid miskin dan di pengajian di jajah anak pengajian lain.
Selagi di rumah bersama orangtua aku meraung tidak kenal waktu. Ikut tetangga yang suka membuatku naik darah mereka lupa memuliakan tetangga sesuai syari'at. Aku merasa semua orang di rumah membenciku entah apa kesalahan bayi kecil seperti ku.
"Kok diam lagi? Apa yang kamu pikirkan? Apa benar kamu minder?"
Aku tersentak lagi kahuzan sudah memegang tangan ku reflek reflek melepaskannya dengan kasar. "Aku tidak minder hanya saja tidak mau gegabah dalam mengambil keputusan," tentu aja bohong.
"Aku merasa hatimu masih panas karena terbelenggu oleh masa lalu. Apa aku yang membuat kamu seperti ini?" Panas? Karena situasinya sedang canggung makanya hatiku panas. Padah sudah minum air es masih tetap panas.
"Tidak kok. Aku wanita zaman sekarang yang kebanyakan memikirkan karir dari pada berumah tangga."
***
Pulang dari TMII ll ku dapati tidak ada Haura di kos. Kemana gadis itu?
Ku cek ponsel ternyata Haura sedang pulang le rumah orangtua nya untuk membahas tentang pernikahan mereka. Apa aku kecewa? Dari lubuk hati yang paling dalam aku kecewa banget. Tapi, mau di kata.
Khaizan, dia tidak tertarik pada Haura yang lebih muda dan tentu lebih cantik dariku. Entah apa dariku yang membuat dia malah mengungkapkan perasaan nya dan ingin menikahi ku.
__ADS_1
"Menikahlah denganku! Kita akan memulai kembali kehidupan dari Nol. Kita lupakan apa yang ada di masa lalu. kita sama-sama berjuang untuk menata masa depan dan insya allah dengan kehadiran anak-anak akan melengkapkan kebahagiaan kita!" Ucapnya waktu itu masih terngiang-ngilang di telinga.
"Zan, Haura menunggumu untuk melamar nya. Gadis itu baik, hatinya bersih dan sangat polos jangan abaikan perasaan."
"Aku maunya kamu."
"Urusi dulu hubungan mu sama Haura. Aku tidak mau menjadi setan penggoda manusia untuk beribadah di antara kalian. Kalau gitu aku pulang dulu."
***
Malam ini aku tidak bisa tidur karena memikirkan ucapannya Khaizan.
Keluar membeli indomie dan telur untuk di masak. Makan mie satu kurang, masak lagi kebanyakan. Huh.
Ke esokan harinya Haura muncul dengan wajah yang berbunga-bunga. Aku tau dia sedang bahagia karena memikirkan pernikahan nya akan di lakukan di waktu dekat.
"Cieee yang sedang berbunga-bunga bagi dong bunganya."
"Itu ada bunga di luar tingal tempelkan di muka aja."
Hahah
"Gimana urusannya malam tadi?"
"Rumit. Awalnya aku dan sekeluarga ke rumah Khaizan dia tidak ada di rumah. Hanya ada ibunya saja. Kami kecewa banget, jam 11 malam baru Khaizan pulang mendapatkan kami yang sudah lelah menunggu dia."
"Lalu?"
"Hari itu juga kami membahas pernikahan kami awalnya Khaizan minta waktu satu bulan lagi untuk pendekatan. Ibunya melarang sudah terlalu lelah karena anaknya masih menjadi gunjingan tetangga dan ibu-ibu arisan yang menginginkan anaknya menjadi istri Khaizan."
__ADS_1
Ibunya mendesak ijab kabul kami di percepat 3 hari lagi katanya tidak baik menunda pernikahan."
"Apa? 3 hari lagi?" Merasa mendengar petir di siang bolong Haura bilang mereka akan menikah dalam waktu dekat ini.
"Iya. Kamu tenang aja. Khaizan punya banyak teman-teman yang masih lajang. Kamu hanya tinggal memilih siapa yang menarik hatimu untuk di jadikan pacar."
"Menarik hati belum tentu aku menarik di matanya."
"Lelaki itu yang namanya wanita pasti dia mau."
3 hari lagi mereka akan menikah tambah sakit lah hati ini. Ya allah, apa yang harus hamba lakukan? Apa aku mencari orang baru yang tidak ada hubungan apapun di masa lalu?
Hati ini kenapa susah sekali berkompromi. Kalau Khaizan bukan jodohku ya sudah lah. Biar aku cari orang lain yang membuatku nyaman berkeluh kesah padanya.
Terbelenggu Cinta di Negeri Jiran 79
Hati ini kenapa susah sekali berkompromi. Kalau Khaizan bukan jodohku ya sudah lah. Biar aku cari orang lain yang membuatku nyaman berkeluh kesah padanya.
***
Khaizan
Semenjak obrolan terakhir sama Haura dan gagal berbicara sama Shifa di kantor hari ini aku ingin menemui keduanya di Kos. Sayangnya hanya ada Haura di sana tidak ada shifa.
Diam-diam menghubungi shifa nomornya tidak aktif. Terakhir aktif jam 3 sore tadi. Kemana anak itu? Pas aku lacak ternyata dia berada di desa terpencil kota Jakarta. Entah sedang apa gadis itu sekarang.
Lalu aku menyusul Shifa menurut lokasi yang tertera di google map. Ternyata dia mengunjungi teman lamanya. Mereka berbincang cukup lama.
Pulang dari sana aku mengunjungi apartemen dekat perusahaan yang aku rintis. Aku lihat apartemen ini sudah penuh debu walaupun aku laki-laki aku tidak segan untuk membersihkan ini semuanya. Ah, sebenarnya tugas membersihkan rumah dan seksinya ini menurut hadist dan ceramah ustadz yang aku ikuti itu tugas laki-laki termasuh di luar Negeri malah ramai laki-laki yang melakukannya.
__ADS_1
Sangat malu melihat di Negeri sendiri semua pekerjaan rumah di serahkan ke perempuan yang mayoritas muslim malah tidak melakukan sesuatu sesuai syari'at. Seorang ibu dari pada melakukan pekerjaan rumah yang bukan tugasnya lebih baik menggunakan waktunya untuk menjadi ibu yang cerdas dan guru privat untuk anak-anak.
Bersambung