
Terbelenggu Cinta di Negeri Jiran 63
Malam pukul 00.00 setempat kami pulang. Khaizan dan rizki menawarkan kami pulang. Tapi, kami tolak karena tidak mau merepotkan mereka lagi. Indri setuju karena malam seperti ini angkutan umum sudah tidak aman.
"Naiklah! Kami antarkan kalian pulang. Bahaya gadis pulang malam hampir dini hari." Dua laki-laki dengan membawa motornya masing-masing menghampiri kami yang hendak mencari angkutan umum.
"Tidak usah, Zan. Kami naik angkutan umum aja," tolak ku.
"Angkutan umum sudah tidak ada. Indri sama Rizki, kamu sama aku."
"Tidak apa-apa. Setidaknya kita tidak mengantri." Indri naik begitu saja ke motornya rizki. Mereka membuatku curiga.
"Baiklah."
***
Hari minggu tiba saatnya libur. Biasanya bangun pagi-pagi bersiap-siap pergi bekerja. Ini bangun pagi untuk membersihkan kontrakan dan seisinya. Aku dan indri kompak melakukannya, aku tidak peduli pekerjaan temanku bersih apa tidak yang penting dia mau bekerja.
Selesai melakukannya kami membersihkan diri Skinceran dan menurut indri, Khaizan mengajak kami ke suatu tempat yang belum pernah kita kunjungi. Aku sebenarnya malas ingin rebahan sampai sore. Tapi, indri memaksa katanya jangan pikirkan soal biaya. Biar mereka yang membayarnya.
"Aku tidak mau, ndri. Kalau kamu mau pergi sama mereka pergi aja. Aku banyak hutang gak mau memakai uang dia lagi." Indri menyetrika bajunya dan siap untuk pergi. Sedangkan aku masih berkutat dengan skincare ku.
"Khaizan bilang tidak apa-apa kok. Khaizan punya tujuh bisnis di bandung yang royaltinya masuk ke rekeningnya. Uang yang dia keluarkan untuk membawa kita berlibur tidak seberapa baginya."
"Apapun alasannya tetap tidak mau."
"Apalagi alasannya membuat kamu tidak mau? Aku akan membawamu menemui seseorang." Suara itu selalu mengagetkan aku. Entah berapa Khaizan membayar indri untuk menghubungkan aku dengan dia.
"Siapa? Perasaan aku tidak punya teman."
"Ada deh. Ayo ikutlah dengan kami. Jangan pikirkan apapun." Bertemu siapa ya? Orangtuanya? Atau karina? Tidak mau memikirkan macam-macam, aku lekas siap-siap. Di luar ada rizki juga.
"Ini namanya shifa? Padahal sudah lama bertemu tapi baru tau namanya."
"Iya. Kamu yang akan membonceng indri ya? Jangan kencang-kencang. Dia fobhia banget."
"Tenang aja."
__ADS_1
"Sejak kapan aku fobhia?"
"Hush, diam aja lah."
***
Hari minggu jalanan kota padat banget. Polusi sepanjang jalan, kami berhenti di supermarket membeli minuman, cemilan dan masker. Aku merasa orang oon yang tidak tau apa-apa. Sedangkan indri biasa aja mengikuti rizki entah kemana.
"Ayo, kita masuk. Apa kamu mau berdiri di luar seorang diri?"
"Masuk aja sendiri. Aku mau panas lagi."
"Masuk aja. Ambil cemilan yang kamu suka. Jangan lagi banget. Aku tidak suka."
"Tidak suka kok mau membawa aku keluar." Masuk ke sebuah supermarket, aku membeli makanan yang aku suka. Awalnya aku pakai yang pribadi ternyata Khaizan sudah membayarnya.
"Biar aku aja yang membayar punya belanjaan aku."
"Tidak usah."
Oh, tuhan. Khaizan ini membuat aku gila.
"Zan, biasa aja lah. Jangan suruh aku memegang tanganmu. Tanganmu penuh keringat."
"Tidak ada keringat apapun di tanganku." Sialnya Khaizan melakukan motornya dengan kencang membuat aku takut dan reflek memeluknya. Aku jadi jengkel sama kelakuannya yang tidak pernah berubah. Melihat di kaca spion Khaizan tersenyum aja.
Karena aku tidak memakai helm takut terjadi razia Khaizan memasuki gang-gang sempit, "Zan. Sebenarnya kalian membawa kami ke mana? Kok, menempuh jangan yang aneh ini."
"Sadarlah kamu dan indri tidak memakai helm."
"Padahal aku ingin mengajak jalannya."
"Hafal kan sendiri lewat googel maps. Kalau seandainya kita kena razia kamu juga yang rugi."
"Iya, deh. Apa kita akan ke kuala lumpur lagi ke rumahmu?"
"Iya. Tapi tidak ke rumah ku. Kami membawamu ke twins tower setelah itu kita ke mesjid terbesar di Malaysia yang telaknya di tepi laut.
"Wah, bagus tuh."
__ADS_1
"Kamu pernah ke sana?"
"Belum. Tapi, orang yang ingin kamu kenalkan padaku itu siapa? Apa orangtuamu atau karina?
"Ada deh." Tidak mau bertanya terlalu banyak kami tuba di twins tower. Tempatnya sudah di penuhi oleh pengunjung. Lumayan cuci mata. Entah di mana indri. Aku tanya katanya indri berada di sekitar ini. Mereka sedang menikmati waktu kencannya. Itu artinya indri dan rizki sedang berpacaran. Pantesan serius amat komunikasinya.
"Nah, itu dia. Yuk, kita ke sana." Khaizan menunjuk ke sebuah restoran seafood di sekitar ini dan menuju sebuah bangku yang sudah di isi oleh dua orang lelaki. Siap dia.
"Hai, sudah lama menunggu?"
"Tidak kok. Karena kami juga menikmati me time kami." Aku duduk sepertinya orang itu aku pernah mengenalnya tapi di mana? Aku perhatikan, Astagfirullahalazim, Pak Daffa? Royan? dan di sebelahhnya ada tas wanita. Mereka sedang berada di Malaysia? Kok, aku tidak mereka ke sini.
"Royan ...! Pak Daffa ...! Ngapain kalian ke sini?" Memandangi mereka satu persatu sedangkan Khaizan diam aja melihat kami.
"Aku ke sini mau kerja juga kak. Mau mencari uang untuk membayar hutang perngobatan ibu. Kakak blokir mulu semua kontak kami capek ganti kartu terus mending datang aja ke sini diam-diam."
"Aku ke sini mau liburan aja sekaligus mau bertemu teman lama, kamu apa kabar? Apa Khaizan memperlakukan mu dengan baik?" ujar pak daffa.
Sudah tiga tahun tidak bertemu badannya royan bertambah tinggi dan pak Daffa makin berisi. "Ya, aku memblokir kalian tentu ada sebabnya. Lalu bagaimana dengan ibu? Rencananya kamu meu berkerja di mana dan dan di bidang apa?"
Khaizan memperlakukanku dengan baik kok. Oh, ya, turut berduka cita atas kematian Meyra ya. Sayang banget umur masih muda sudah di panggil sang pencipta."
"Iya, begitulah nyawa tidak ada yang tau," Daffa menoleh pada Khaizan. Apa Shifa pernah menyebalkan kamu, Zan!"
"Sering banget. Tapi, aslinya dia jinak-jinak merpati kok. Oh, ya sukses bisnis di bidang Travelling ya? Jadi pengusaha muda nih.
"Sebagai laki-laki kita harus mandiri tidak boleh berpangku tangan pada orangtua dan gaji ku sebagai guru honor tidak seberapa beli quota aja tidak dapat mencari jalan lain untuk menambah pemasukan. Jadi, ada pekerjaan untuk menghidupi anak gadis orang nanti."
"Oh, jadi kamu belum menikah tuh."
"Belum. Masih mencari orang yang tepat yang bisa di ajak bekerja sama."
"Oh, ya kak. Ini tas yang berisi buku-buku diary kakak. Kakak doyan banget menjelekkan kami ya. Di luarnya bisa aja ternyata di dalamnya meronta. Ayah marah banget tau gak kak."
"Ku kira itu tas perempuan mana yang mengikuti kalian ke sini. Lalu kalau kami ke sini bagaimana dengan ibu? Kepo juga kalian membaca buku-buku aku. Lalu sekarang apa ayah ada di rumah?" Aku mengambil tas itu dan memeriksa isinya. Entah untuk apa royan membawa ini semua dan memebrikannya padaku hanya membuat beban aja.
Sedangkan Khaizan hanya memperhatikan kami dan sesekali menjawab pertanyaan daffa.
"Ada kak."
Bersambung...
__ADS_1