
Tidak ku balas pesan dari orang lain bukan sombong, aku memiliki alasan sendiri tidak mau mencari panggung atas penderitaan orang. Anak-anak itu sudah berada di tempat yang aman, ibunya juga sudah berada di pengawasan pihak KBRI setelah sebulan bekerja akan di pulangkan karena di kampung banyak masyarakat yang memberikan donasi atas nama anak-anaknya.
Suami dan mertua tak luput dari caci maki netizen, entah kenapa aku yakin mereka tidak akan pernah menyerah atas hak asuh anak karena harta dan mengambil seluluh donasi yang bukan hak nya. Aku tidak mau pusing memikirkannya, itu bukan urusanku.
[Assalamualaikum, Shifa! Ini aku, Haizan. Kamu apa kabar? Di mana sekarang]
Sebuah notifikasi wa dari nomor asing, namanya Haizan. Deg, apa Haizan orang yang sama? Tapi, dari mana dia dapat nomorku? Pikiranku melayang keman-mana. Apa dari aplikasi logo biru? Apa aku lupa memprivat akun? Tiba-tiba jantungku berdetak kencang seperti habis maraton 2KM. Ingatanku kembali ke satu tahun silam sejak pertama kali kami berkomunikasi di internet.
Kami berbicara dengan lancar tidak ada yang di tutup-tutupi. Dengar suara dan fotonya seperti nya anak baik begitu sabar menungguku selama tiga bulan untuk sampai di Malaysia. Tiba di Malaysia ternyata dia hanya membantuku membeli tiket menyeberang ke Klang. Setelah itu dia menyerahkan semua nasip ku padaku sendiri. Dia dengan bejat melecehkan aku di malam kedua di Malaysia.
Katanya dia sudah membayar kos untuk aku selama mendapatkan gaji sebulan bekerja. Ternyata hanya semalam aku tinggal di kos setelah itu aku luntang-lantung di jalan dan orang di kos sama sekali tidak pernah mau menolehkan aku masuk padahal Haizan sudah bayar satu bulan penuh nyatanya mereka bilang lain, Haizan hanya membayarnya untuk semalam aja. Tega bangat mereka membiarkan aku antara hidup dan mati di jalanan di negara orang pula. Aku tidak akan melupakan itu.
[Assalamualaikum, Shifa! Ini aku Ella. Kamu di mana sekarang? Kalau masih di Malaysia apa kita boleh bertemu? Aku ingin membicarakan sesuatu yang penting padamu]
Ternyata ada Ella yang tidak mau ketinggalan untuk menghubungi ku. Mau apa dia? Dulu dengan lantang membiarkan aku luntang-lantung di jalanan. Sekarang mau bertemu aku? Tidak akan mau bertemu dengan kalian lagi.
Lekas ku blokir kontak orang yang berhubungan dengan masa lalu, aku fokus untuk bekerja demi masa depan. Kali ini sepertinya aku tidak akan mengirim ke kampung lagi. Selama sembilan bulan bekerja, aku hitung saldo ku miris bangat lebih tinggi pasak dari pada tiang. Aku butuh uang banyak untuk kuliah.
"Ada apa, shifa! Kok pandangannya kosong?"
"Gak ada apa-apa kok. Kamu lagi apa? Yuk! Kita siap-siap, nanti terlambat."
"Benar gak ada apa-apa?"
"Benar kok." Lekas membersihkan diri dan pergi kerja sebelum itu kami sempat makan di depan gang masuk.
Dari ke jauhan ku lihat ada beberapa wanita yang pernah ku lihat yang mengarahkan pandangannya pada kami. Dia menyebrang, untung padatnya penduduk menutupi tubuh wanita-wanita itu. Ella dan teman-temannya, apa dia ke sini untuk menemui ku? Untuk apa lagi? Tidak cukupkah sudah membuatku luntang lantung di jalan sendirian, sekarang datang lagi mau apa? Aku tidak akan mau melihatnya lagi.
"Indri! Kita pergi dari sini!" Indri yang sedang makan bingung dengan ku
"Kok, Cepat bangat? Habiskan dulu makanannya."
"Ayolah! aku buru-buru mau pergi."
__ADS_1
"Sebenar lagi."
"Cepatan."
"Kamu kenapa sih? Dari tadi aku lihat banyak bengong nya." Tidak bisa menunggu lebih lama lagi aku lekas pergi, menunggu indri satu jam baru selesai.
"Shifa ...! Tunggu ...belum selesai."
Masuk bis menjadi langganan ku, dari jauh aku melihat Ella sama teman-temannya. Apapun alasannya aku tidak akan pernah menemui orang seperti mereka lagi. Tidak ada maaf untuk kalian yang ikut menghancurkan masa depanku.
"Kamu kenapa, sih? Ayo, cerita sama aku. Dari semalam kamu itu aneh tau gak."
"Indri, saat ini kamu satu-satunya sahabatku. Aku tidak punya teman lagi selain kamu. Apa kamu bisa ku percaya seratus persen? Aku ingin cerita lebih jauh padamu tapi, karena aku selalu berada di sekeliling yang salah. Kepercayaan ku sama orang lain pudar." Batin shifa.
"Indri! Malan nanti aku ceritakan, ya!"
"Gitu terus."
"Ya, maaf."
Selama di Malaysia ini entah sudah berapa kali kami pindah kos. Mudahan kos kali ini aman.
"Indri! Yakin? Mau kos di sini?"
"Lihat aja dulu."
"Di sini kita kosnya berempat. Kita berdua dan ibu-ibu yang seperti dia." Indri menunjuk ke arah ibu-ibu seperti nya aku ingat wajahnya. Astaga, apakah dia ibu-ibu di rumah sakit itu?
Mengitari kamar ini berantakan bangat. Di bawah ada sosok ibu-ibu sepertinya ku mengenali ibu itu. "Oh, begitu. Sepertinya aku kenal sama ibu-ibu itu." Menunjuk ke bawah.
Indri mengikuti arah telunjukku. "Kenal di mana?"
"Di rumah sakit waktu itu, aku pernah cerita padamu." Kami mengunjungi ibu itu. Dia keget tidak nyangka kita akan bertemu lagi.
__ADS_1
"Apa kabar, dik! Namamu siapa? Maaf, kemaren lupa menanyakan nama."
Menyodorkan tangan dengan takzim. "Namaku shifa, Bu! Kabar ku baik-baik aja. Ibu apa kabar! Gimana sama anak-anaknya?"
"Namaku, indri. Teman shifa."
"Namamu indri? Kabar ibu alhamdulillah, Baik. Tinggal di sini ibu merasa menemukan perubahan. anak-anak, insyaallah baik-baik aja. Sudah di ****** oleh keluarga ibu yang di banten."
"Alhamdulillah. Saya ikut senang mendengarnya, Bu. Kerja di mana?"
"Di rumah sakit itu sebagi tukang sapu-sapu."
"Alhamdulillah, yang penting halal. Apa ibu tidak pulang ke kampung dalam waktu dekat ini?"
"Iya, insya allah. Sekali lagi terima kasih bangat dik! Berkat kamu, anak-anak ibu sudah berada di tempat yang aman. Coba kalau tidak ada kamu, entah bagaimana keadaan anak-anak Ibu."
***
Kami masuk kerja tidak di jam yang sama. Aku ingin mencari pekerjaan sampingan agar uang yang ku kumpul kan lebih banyak. Ku lakukan itu semua demi masa depan yang cerah. Kuliah selama empat tahun, dan biaya hidup di kota. Kalau ku hitung tabungan semenjak pertama kali bekerja miris bangat.
Apa aku harus pangkas uang untuk ibu? Semenjak ku di Malaysia, teman-teman dan keluarga yang membully dan menjauhi ku dulu berebutan menghubungi ku minta bantu mencari pekerjaan di Malaysia. Minta maaf aja tidak.
"Dik!" Sapa ibu satu kos kami.
Aku yang sedang menyusun barang, dia duduk di sebelahku. "Iya!"
"Dari mana?" Pandangannya membuatku risih. Ada apa dengan orang ini?
"Aku dari Jambi." Lanjut memasukan baju ke lemari dan menguncinya. Perasaan ku tidak enak.
"Jambi mana?"
Melihat gerak gerik ibu ini entah kenapa perasaan ku menjadi tidak enak. Pandangannya seperti ada sesuatu yang dia incar, aku sama sekali tidak nyaman dengan pandangan seperti itu. Duh, ku kirain pindah kos demi menghindari police akan aman ternyata masih jauh dari harapan.
__ADS_1
Next