TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN

TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN
Luka tidak berdarah


__ADS_3

Terbelenggu cinta di Negeri Jiran 38


"Kalau gitu kita tidak akan menikah."


"Kok gitu? Hati-hati kata-kata itu do'a."


"Iya, gak apa-apa jadi do'a. Toh, belum tentu semua orang dapat jodoh. Yang aku takutkan menikah itu banyak banget. Salah satunya trauma karena orangtua toxic sama anak, tidak bisa menjadi istri dan ibu yang baik, takut menjadi orangtua yang tidak bertanggung jawab, tidak mendapatkan suami dan mertua yang baik, suka KDRT, selingkuh, pelit, mertua dan ipar ikut campur ke dalam rumah tangga kami."


Takut melahirkan anak yang ujungnya akan menjadi sampah masyarakat bagi laki-laki, yang perempuan tidak bisa berabkti pada orangtua dan suami, takut juga dia menjadi korban pelecehan seperti ibunya."


Hidupku ini sudah kosong sejak kecil, tidak punya sandaran, takut juga punya suami yang tidak ada fungsinya sama sekali untuk istri. Hanya menghalalkan yang haram, menganggap sexs lebih tinggi derajatnya dari pada manusia. Hewan pun lebih jago sexs, bedanya manusia berlindung di balik akad di saksikan oleh Allah, sedangkan hewan tidak. Para perempuan juga suka membully dan menzolimi perempuan terutama mertua, mereka yang lebih dewasa jarang ada hukum wajib untuk menyayangi yang muda. Ah, curhatku sudah ngaco banget."


"Tidak apa-apa, aku ngerti kok. Keluarkan saja semua unek-unek nya. Tapi, menurutku kalau berpikir negatif mulu ujungnya yang terjadi juga negatif. Coba, tarik nafas dalam-dalam, keluarkan dengan kasar lalu teriak di kala sepi. Dengan cara seperti itu emosimu sedikit reda. Kapan perlu ke psikiater biar dokter memberimu obat. Jangan bilang ke siapa-siapa yang ada orang itu bilang nanti kamu gila."


"Oh, ya. Ini, uangmu?"


"Iya."


"Simpan aja uangnya. Khaizan bilang tidak usah di ganti kerugian waktu itu di kos."


"Aku tidak mau termakan hutang budi lagi sama orang sudah capek aku."


"Sebenarnya tidak ada yang namanya hutang budi. Orang mau menolong kita itu murni dari naluri sebagai manusia. Kalau hutang budi minta di bayar, resikonya dia menyusahkan kita dan dirinya juga. Ada balasan dari yang maha kuasa berupa karma dan dosa besar untuk orang meminta membayar hutang budi yang sudah di beri."


POVPuzan


Mungkin karakternya Shifa seperti itu.Tidak bisa berbincang dengan orang lain yang tidak nyaman menurutnya tapi bisa berbincang panjang lebar dengan temannya.


Waktu dalam kamar tadi berbicara dengannya membuatku kehabisan kata-kata tapi setelah keluar dan mendengar obrolannya aku jadi mengerti sekarang. Apakah benar sesadis itu nasip mereka di kampung? Sialnya aku termasuk orang yang mereka sebut.

__ADS_1


Apa benar Shifa tidak akan menikah? Sulit ku percaya. Ah, sudahlah.


***


Selama sebulan ini aku memilih tidak dulu pulang ke rumah. Suasana Malaysia sudah sedikit mendingan dari pada kemaren. Kedua gadis itu sudah bisa beraktivitas seperti biasa. Rencananya mereka akan mencari pekerjaan baru karena sudah tidak masuk selama sebulan lebih karena razia imigran gelap ini.


Lagi-lagi aku membantu mereka agar bisa bekerja lagi di kilang ini. Usahakan kilang ini tempat terakhir mereka bekerja sampai tampa batas waktu. Kalau pindah-pindah mulu mereka tidak bisa memiliki tabungan.


Banyak teman yang entah dari mana asalnya minta bantu. Selagi bisa, aku akan bantu tapi setelah itu mereka banyak yang menghilang dan tidak tau diri. Anggap aja hanya hiburan.


"Indri! Mulai besok, kalian sudah di bolehkan bekerja kembali. Tenang aja serahkan urusan ini sama aku."


"Benar, zan? Terimakasih banyak. Maaf, ya! Kami merepotkan kamu. Kami janji tidak akan merepotkan mu lagi,"


"Tidak apa-apa, tidak ada yang namanya hutang budi di hidup saya." Aku merasa lebih banyak berkomunikasi dengan indri dari pada shifa. Aku tidak mau ada perasaan pada gadis itu, begitupun sebaliknya.


"Hei! Bro! Ngelamunin apa?" Tiba-tiba rizki datang entah dari mana.


"Alhamdulillah baik-baik aja. Oh, ya! Minggu depan kemana?"


"Gak ada kemana-mana. Ada apa tuh?"


"Ikut gue, yuk! Ke kos yang kemaren."


"Ke kos kemaren? Apa gadis itu masih di sana?"


"Masih kok."


" Oh, ya. Gue heran sama kalian kok kaku bangat. Gadis yang lo cari tidak mau bertemu dengan lo. Tapi, lo masih ngejar-ngejar dia. Ada apa coba. Menurut gue kita itu harus terlihat misterius dan cool di mata cewek nanti dia yang mengejar kita."

__ADS_1


Jangan terlalu menampakkan diri lo itu ngejar dia. Perasaan gue ada sesuatu yang kalian sembunyikan ada apa coba?"


"Enggak ada apa-apa kok."


"Ah, gak asyik lo." Apa yang di bilang rizki gue jauh lebih tau. Tapi, iyakan aja. Rizki tidak boleh tau kisah kami."


"Oh, ya. Gue juga heran sama lo. Setiap gue lihat, lo itu melamun aja. Gue capek menanyakannya lo sama sekali tidak mau jawab. Jadi, gue harus apa?"


"Dengarin aja. Kita itu laki-laki. Apa-apa curhat apa bedanya kita sama perempuan?"


"Beda fisiknya doang. Laki-laki juga curhat sama emak paling semangat bangat membongkar aib istri di saat dia di tuntut untuk menutupi aib suami."


"Ketahuan lo suka ngerumpi."


"Gue banyak punya teman laki yang kayak gitu."


"Apa lo gitu juga pas udah nikah?"


"Enggak tau. Lihat aja nanti."


"Kasihan istrimu."


"Kasihan gimana? Gue belum punya istri."


"Ah, terserah lo deh."


"Ada apa sih, cerita dong!"


"Lo, penasaran amat sih? Apa lo penulis?"

__ADS_1


"Penulis gimana? Sekolah aja sering bolos."


__ADS_2