
Terbelenggu Cinta di Negeri Jiran 49
Setiap waktu aku memikirkan khaizan hingga teman kerja melihat aku melamun. Sedang apa Khaizan sekarang? Sudah makan kah? Bersama siapa saja? Bagaimana hubungannya dengan karina?
Waktu istirahat aku menstalking sosial medianya benar-benar tampan sayangnya kelakuannya juga tampan. Ah, masih banyak foto dia bersama karina di galeri Facebooknya. Aku cemburu ingin merebutnya.
Tapi, mengingat bagaimana mereka memperlakukan aku waktu itu muncul lagi perasaan benci ingin meracuninya hari ini juga. Aku terbelenggu rasa benci, cinta dan cemburu.
Sayangnya dia semenjak di langkawi kemaren, sudah sebulan lamanya dia tidak pernah menghubungi ku lagi. Kemana dia? Aku rindu.
Aku coba melihat di ponsel indri siapa tau mereka masih sering berkomunikasi. Sayangnya ponselnya di gembok, sejak kapan indri menggembok ponselnya?
Aku coba pola dari berbagai gambar bintang tidak bisa. Sidik jari menjadi harapan terakhirku. Kalau aku tanya, aku tidak mau di curigai yang tidak-tidak oleh gadis itu.
Sampai jam 02.00 dini hari aku terjaga ingin mengecek ponselnya, aku ingin tau mereka membahas apa saja.
Butuh 5 kali percobaan menggunakan jari telunjuknya baru terbuka, alhamdulillah.
Ternyata yang mereka bahas sudah terlalu jauh. Khaizan suka menanyakan kabar aku, apa aku sudah baikan apa belum, kerja di mana, dekat sama siapa aja, pernah ke mana aja sama teman barunya.
Ternyata khaizan menyukaiku sejak setahun belakangan ini ingin mengungkapkan perasaannya tapi dia melihat aku masih marah terhadap perlakukan nya di masa lalu dia ingin aku segera memaafkan nya dan memulai dari Nol lagi.
Hubungan dia dengan karina hanya sekedar teman dekat, dia tidak suka sama wanita pencicilan seperti karina. Di waktu yang sama Indri mengungkapkan perasaannya tapi Khaizan bilang dia hanya menganggap indri hanya teman biasa.
[Khaizan, aku mau jujur, aku tidak mau memendam perasaan ku lagi setiap kamu menghubungi ku membahas tentang shifa, hatiku sakit banget. Khaizan, sejak pertama kali bertemu aku sudah merasakan getaran yang aneh semakin lama semakin memuncak. Aku menyukaimu, zan. Mungkin bagi shifa kamu menakutkan. Tapi, menurutku berada di samping mu aku nyaman banget. Apa kamu belum bisa melupakan shifa]
[Kamu menyukai ku? Aku sudah menganggap kamu hanya teman dekat aja tidak lebih. Aku sudah hafal setiap wanita yang dekat denganku pasti merasakan perasaan yang sama seperti mu. Karena jarang persahabatan antar lawan jenis tampa melibatkan perasaan. Perasaan mu itu hanya sementara nanti hilang seiring berjalannya waktu. Maaf, ya! Karena aku sudah membuat perasaan mu porak-poranda. Kalau shifa, kamu tau aku yang membawanya ke sini jadi aku harus pastikan dia berada di sini baik-baik aja]
[Apa kamu mencintai shifa? Apa kamu perhatian sama shifa karena kamu yang membawanya ke sini aja? Kalau tidak, siapa pacar aslimu sekarang]
[Iya, semakin ke sini aku sadar aku mencintainya bukan karena aku yang membawanya ke Malaysia ini. Pacar asli ku tidak ada]
[Karina? Sebab sering banget aku lihat kamu sama dia]
__ADS_1
[Hanya sekedar teman dekat sama seperti kamu]
[Aku lihat shifa sepertinya tidak akan mau membahas tentangmu katanya dia tidak mau kenal sama orang yang sudah menyakitinya. Tidak usah hubungi dia dulu seperti kataku kemaren hubungi aja aku]
[Iya. Terima kasih ya, sudah perhatian sama shifa. Kalau tidak ada kamu entah bagaimana shifa sekarang]
Indri melarang Khaizan menghubungi ku, tapi mereka saling mengirimkan pesan. Cinta kadang merusak segalanya. Apa pertemanan kita selama ini akan rusak hanya gara-gara seorang lelaki? Dan melihat di galerinya, Indri menyimpan foto-foto Khaizan mungkin di ambil dari sosial media nya dan juga diam-diam memotretnya.
***
Subuh dini hari sudah ramai orang-orang lalu lalang untuk menjemput rezeki. Aku harus cepat-cepat agar tidak ketinggalan bus. Indri masih bekerja di tempat lama yang di bantu oleh Khaizan, biasanya dia suka pindah-pindah mungkin kali ini karena seseorang yang membuat dia bertahan.
Indri masih rebahan sambil memainkan ponselnya. Pagi-pagi ini dia sudah terbiasa merapikan barang-barangnya dari pada melihat ponsel. "Indri, aku pergi dulu."
Indri menyimpan ponselnya dan menoleh. "Iya, hati-hati di jalan," Pagi-pagi ini wajahnya ceria banget.
"Iya, oh ya, selama 5 tahun di Malaysia ini aku jomblo kan? Semoga secepatnya mendapatkan cinta sejati, amiin."
Indri tersentak mendengar ucapan ku.
"Apa-apaan kamu, Fa? Amiin, aja."
"Pagi, Fa! Biar aku antarin kamu kerja," Ajak Khaizan.
Berhenti sejenak. "Tidak usah, bus sudah berhenti di seberang sana," Tolakku dan mendahuluinya begitu saja.
"Bus itu sudah penuh, kamu telat 5 menit."
"Ada bus lain kok bukan itu aja. Antarkan saja indri, aku sudah terbiasa kesana kemari sendirian."
Dia mengikutiku. "Menjawab terus. Ayo, naik jangan ngebantah," Sebenarnya hati ini kegirangan melihat dia sudah ada di depan mata. Tapi, aku tidak mau lemah, ini taktik seorang lelaki untuk meluluhkan hati wanita yang lemah.
"Tidak usah, antarkan saja, Indri!"
"Indri sudah ada yang jemput."
__ADS_1
"Aku pergi naik taksi aja." Untung ada taksi kosong yang lewat lekas menyetopnya dan meninggalkannya begitu saja. Khaizan hanya melongo melihat tindakanku barusan. Dari jauh aku memperhatikan Indri dengan rambut yang masih acak-acak keluar menghampiri Khaizan.
Dalam taksi aku termenung. Jujur, dalam hati yang paling dalam aku mencintainya, aku tidak mau ada wanita lain mengalihkan perhatiannya. Karina aja cukup membuat aku cemburu apa lagi Khaizan sudah bosan dan tidak peduli denganku lagi?
Apa aku gengsi? bisa di bilang seperti itu. Cinta, benci, rindu, malu dan gengsi. Tuhan, hapus perasaan ini padanya, aku tidak boleh mencintainya.
"Berhenti, pak."
Keluar dari taksi aku kejar-kejaran dengan waktu. Lima detik lagi aku terlambat, security akan mengunci pagarnya.
Perasaan aku setiap akhir bulan pasti ada karyawan baru yang sifatnya sama seperti yang lainnya. Mendekatiku, kepo tentang aku dan karyawan lain setelah itu dia menjelekkan aku. Aku lagi yang menjadi sasaran karyawan lain.
Sekarang ini aku bodo amat, tidak mau terpancing lagi oleh manusia ingusan seperti mereka fokus bekerja untuk masa depan.
"Kak, aku karyawan baru, sudah lama kerja di sini?"
"Sudah setahun ini."
"Ada saudara di sini? apa sudah menikah?
"Ada, belum. Kamu?"
"Punya, aku sudah menikah setahun yang lalu. Karena kami belum punya. anak, suami menganggur, mertuaku menyuruhku menjadi TKW di sini. Uangnya di kirim ke rekening suami untuk membuat usaha dan rumah."
"Mertuamu yang nyuruh? apa kamu percaya begitu saja?"
"Iya, suamiku juga mengizinkannya kok."
"Bagiku, seorang istri itu tanggung jawab suami. kalau ujungnya istri harus terjun kelapangan karena permintaan suami dan mertua lalu apa gunanya punya suami? gak ada gunanya sama sekali hanya menjadi beban kita yang lemah aja. Apa kamu yakin mereka itu tulus?"
"Pasrah kan aja sama yang maha kuasa. Aku ikhlas melakukannya berbuah pahala untukku."
"Jangan terlalu polos jadi seorang istri nanti d kibulin. Manusia itu tidak ada yang tulus kecuali tuhan, sekarang boleh bilang ikhlas, apa nanti kamu bisa ikhlas? Banyak di zaman sekarang istri yang banting tulang menjadi TKW karena suami minim tanggung jawab, kirim uang tiap bulan bangun rumah di tanah dan rumah di kampung suami dan di tanah mertua, ujungnya suami selingkuh menikah lagi mertua dukung anaknya selingkuh dan istri pulang malah di usir anak-anaknya juga di usir. Akhirnya suami dan istri baru yang menikmati jerih payah kita. Mending kamu bangun rumah di tanah di kampung aku aja jangan bangun di tanah orangtua.
"Korban sinetron indosiar kamu ini."
__ADS_1
"Justru sinetron itu di adopsi dari kisah nyata. Penulis dan produser juga tidak membuat cerita dengan mengada-ngada. Taat wajib, bodoh jangan, mending banyak-banyak baca cerita tentang rumah tangga di sebuah grub dan Platfrom berbayar. Di situ kita juga belajar agar tidak menjadi perempuan yang polos. Biarlah orang membiarkan kita apa toh kita tidak minta makan pada dia. kalau dia nasihatin kita kita nasihatin balik. Rata-rata wanita yang ku jumpai di sini juga di kibulin sama suami dan mertua. Bukan semua suami dan mertua itu jahat tapi sebaik-baiknya mertua dan suami mereka tetap ada bekas nya di masa depan. Percaya deh sama aku.
"Nanti aku pikirkan kembali.