
Terbelenggu Cinta di Negeri Jiran 68
Kalau sudah tiada baru terasa
Bahwa kehadirannya sungguh berharga ...
Itu bait lagu kehilangan persis seperti yang aku rasakan sekarang. Sudah lima kali aku memutar nya, air mata ini luruh begitu saja.
Setiap sendirian aku menangis tanpa mengeluarkan suara. Bayangan dirinya muncul menyesakkan dada. Setelah itu cuci muka dan memakai make up.
Kisah tragis ini ku tulis ke catatan diary tidak peduli indri membacanya toh dia sudah tau rahasia kami.
Hingga saatnya indri pulang ke jawa karena ibunya meninggal dan adik-adiknya tidak ada yang mengurus jadilah aku sendirian di kota ini. Walaupun ada royan tapi tidak dekat.
Tuhan, kini aku sendirian di kala karamaian.
Setelah mengantar indri ke bandara muncul sesesok yang aku kenal selama hampir 4 tahun.
Seseorang itu berjalan memakai payung di bawah terik matahari bersama seorang wanita yang sedang hamil besar.
Pas aku dekati mereka ternyata Khaizan sama wanita lain bukan karina. Khaizan masih berada di sini dan sudah menikah? Artinya sebelum Khaizan pergi dia sudah menikah atau menghamili perempuan lain tanpa sepengetahuanku dan Karina. Hebat Khaizan berhasil menutupi tabiat aslinya.
Lekas aku temui royan dan mengatakan ingin pulang secepatnya. "Kamu lagi apa?" ujarku melihat ryan sedang membaca buku self invrovement sebuah buku motivasi sukses yang mengajarkan kita untuk meraih mimpi. Bagus banget bukunya.
"Apa kakak tidak lihat aku sedang baca buku?"
Aku duduk melihat sekitarnya kumuh banget. Kalau anak laki-laki yang tumbuh di lingkungan yang orangtuanya berpendidikan rendah ya seperti ini jadinya. Abai terhadap kebersihan. Beda sama anak yang di besarkan di lingkungan yang orangtuanya berpendidikan tinggi dan berpikiran maju rata-rata mereka mendidik anak-anaknya sama rata aja tanpa memandang gender.
__ADS_1
"Lihat sih, sejak kapan kamu suka baca buku?"
"Sudah lama aku kan sekolah kak. Buku-buku ini di berikan oleh Khaizan. Dia baik banget memberikan aku buku-bukunya dan menyuruhku untuk mempraktekkan apa yang aku baca."
"Khaizan menemui mu? Cuma memberikan buku doang kamu mengira dia orang baik."
"Kadang-kadang. Kalau laki-laki suka membaca buku seperti ini aku yakin banget dia itu orang yang baik. Sudahlah, aku mau tiduran dulu malam nanti mau kerja."
"Ya,s udah. Oh, ya, Dalam bulan ini rencananya aku mau pulang."
"Kenapa?"
"Mau kuliah. Sayang umurnya tidak di gunakan menuntut ilmu. Kamu sendiri baik-baik aja di Malaysia."
"Tau lah aku."
***
Di perjalanan pikiranku masih seputar Malaysia. Khaizan dan indri sudah pergi meninggalkan aku. Apalagi yang membuat aku bertahan di sana? aku susah mencari teman. Lebih baik aku kuliah sambil kerja aja di Indonesia.
***
Sampai di rumah banyak tetangga dan orang yang mengaku keluarga datang minta oleh-oleh dan membujuk anaknya minta THR dariku. Entah apa itu THR.
Mereka memujiku makin cantik, dewasa dan punya banyak uang sayangnya tidak bisa membeli rumah untuk kami jadi sekarang kami mengontrak. Sayangnya ayahku hanya mau uangku saja dan menyuruh kembali ke Malaysia.
Dulu mereka kenyang mencaci makiku sekarang datang menanyai uang. Dulu saat ibu sakit ayah pergi entah kemana dalam keadaan tanah dan rumah itu sudah di gadaikan untuk berjudi. Mereka kata ibu keluarga tidak ada yang mau membantu membayar biaya pengobatan ibu padahal memburu warisan nomor satu. Sekarang aku paham orang yang suka ribut soal warisan tabiat aslinya seperti itu.
Mereka ambil warisan ibu yang bukan haknya setelah itu kami di buang bagai sampah. Tenang aja sampah ini besok juga akan pergi lagi.
__ADS_1
Ketika harta pribadinya seorang perempuan itu harta bersama dan menjadi rebutan pihak laki-laki. Sedangkan harta laki-laki itu harta pribadi walaupun ada istri yang sudah bersedia membantu dengan tenaga dan do'a. Entah dari mana mereka mendapatkan pengajian yang seperti itu pantesan orang di negara ini di bodohi mulu sama orang asing melihat sifat aslinya aja seperti ini.
Maaf ya tidak ada warisan lagi untuk kalian.
***
Aku hubungi indri bilang aku sudah pulang dan mau ke Jakarta. Indri kaget dan menyediakan tempat tinggal untuk sementara sebelum aku mendapatkan pekerjaan lagi dan kos baru.
Tidak mau membuang waktu lekas berangkat dengan sisa uang sebesar 3 juta rupiah. Sudah 10 universitas yang aku kunjungi belum ada yang cocok. Hingga dapatkan universitas Esa unggul dengan jurusan psikologi.
Aku harus mencari pekerjaan. Sudah 10 pabrik pula yang aku kunjungi tidak ada satupun yang menerima aku karena menurut cerita masuk kerja itu butuh uang dan orang dalam. Ini kita mau cari uang apa mau buang uang? Dan juga butuh sarjana yang memiliki nilai terbaik.
Setelah 1 minggu lamanya uang sudah menipis. Alhamdulillah ada satu pabrik tekstil yang mau menerima ku.
Hari pertama mulai bekerja ternyata orang-orang lebih banyak berbicara dari pada bekerja. Beda di Malaysia banyak bekerja dari pada berbicara karena majikan asing melarang berbicara terlalu banyak nanti bisa mengganggu pekerjaan.
Banyak pula karyawan biasa yang seperti bos karena sudah biasa menghadapi ribuan orang dengan karakter berbeda aku anggap hanya kicauan burung semata.
***
Aku bekerja paruh waktu tidak ku hiraukan kesehatanku. Tidur pun hanya 4 jam betapa lelahnya kehidupan ku sedangkan ayah minta uang mulu sebab dia tidak mendapatkan uang selama aku di jakarta dan royan pun juga mengirimkan uang seadanya karena harus menabung membayar hutang ibu.
Untung Allah adil selama kuliah aku tidak pernah sakit. Sayangnya perjuangan perempuan seperti ini tidak ada harganya sama sekali di mata kaum patriarki yang tau hanya lelaki yang di lahirkan dan di besarkan oleh orangtuanya.
Sudah dewasa mereka di tuntut wajib berbakti alda orangtuanya, mengambil semua uang anaknya mengesampingkan anaknya sudah berkeluarga ada tanggung yang lebih utama setelah orangtua. Karena membesarkan anak itu kewajibannya orangtua dosa besar jika menekan anak untuk wajib memberi tidak sesuai kemampuan.
Di lain sisi para wanita yang sudah di lahirkan dan di besarkan juga oleh orangtuanya harus di tuntut sabar. Hellow, sabar itu ada batasnya, kalau tidak rela anak lelakimu menikahi anak perempuan orang, ya sudah jangan biarkan anaknya menikah.
Heran sama orang seperti itu yang membicarakan kebanyakan perempuan pula. Apa perempuan itu tidak lahir dari rahim seorang ibu? Perempuan menyusahkan perempuan. Tapi, aku tidak mau ambil pusing tentang itu aku harus serius menuntut ilmu agar pintar, cerdas dan memiliki public speaking yang bagus agar tidak di bodohi kaum patriarki.
__ADS_1
Bersambung...