
Terbelenggu cinta di Negeri Jiran 37
"Shifa...! Bangun! Ini sudah jam 10.00 siang."
Aku yang sedang main ponsel dalam selimut, indri tidak tau aku sudah bangun.
Membuka selimut "Sudah dari tadi aku bangun." Indri berdiri di pintu kamar.
"Kamu gak mau makan?"
"Iya. Tunggu aku mandi dulu baru kita keluar."
"Aku sudah masak untuk kita bertiga."
"Oh."
Keluar, mencium aroma makanan. Mengingat waktu itu, aku tidak mau memakan sebutir nasi pun di sini biarkanlah aku kelaparan seharian dari makan di rumah orang yang sudah membuang ku.
Cacing di perutku meronta minta makan. Setelah membersihkan diri lekas keluar mencari makan. Tapi...
"Shifa...! Kamu mau ke mana?"
"Mau keluar dulu, ikut?"
"Kita sudah di perintahkan jangan keluar sebelum situasinya aman?"
"Sampai kapan? Aku bodo amat." Lekas keluar membeli makanan. Tidak mau lama-lama berada di luar lekas pulang.
"Shifa...! Kamu beli makanan? Padahal aku sudah masak loh." Indri sudah seperti ibu rumah tangga menyambut ku hanya memakai daster modern, muka berminyak dan rambut acak-acakan.
"Buat kalian aja. Aku mau beli sendiri."
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa kok. Kamu mandi lah sana! Kayak ibu-ibu beranak tau gak."
"Tadi sudah mandi."
"Mandi lagi. Kita harus dress layaknya gadis biasa."
__ADS_1
Aku hanya menghabiskan waktu di kamar mulu. Sampai kapan ini akan terjadi? Lama-lama bosan juga di sini.
Aku memilih menonton drama korea hingga tidak sadar ada seseorang yang masuk ke kamar. Astaga di mana indri? Apa belum selesai mandi?
"Kamu lagi apa? Kayaknya asyik bangat tuh, sampai senyum-senyum sendiri." Khaizan sudah berdiri di pintu kamar. Sepertinya tidak ada privasi bagi Khaizan. Seperti seorang lelaki masuk ke kamar istrinya.
Kembali ke posisi semula. "Nonton Drakor."
"Boleh aku duduk di sofa ini?" Duduk di sofa? Mau apa dia? Kayak di Drakor aja. Tapi, Drakor biasa aja kumpul kebo tidur bersama tapi tidak melakukan yang lebih dari itu.
"Boleh kok. Ini kan rumah mu."
"Kenapa kamu tidak makan makanan yang di masak indri?"
"Makanannya tidak enak."
"Enak kok. Oh, ya! Sudah berapa tabunganmu?"
"Kenapa? Kamu mau menagih hutang ku?"
"Tidak kok. Hutang apa? Aku mau tanya aja."
"Berapa hutang ku ke kamu? Termasuk bayar kerugian di kos waktu itu. Biar aku ganti."
Aku mengambil uang di koper, waktu keluar tadi ke ATM. Kalau terjadi apa-apa aku punya uang cash. "Segini cukup? Hitung aja kalau kurang biar gajian nanti aku kasih lagi." Aku menyerahkan uang yang sudah ku masukkan ke amplop dan memberikannya ke Khaizan.
"Shifa...! Apa tidak ada sedikitpun maaf buat aku?" Maaf...? Sudah ku bilang kata maaf mungkin sudah ku maafkan, melupakan trauma nya itu yang susah. Seorang wanita tidak akan mudah melupakan trauma di lakukan oleh orang yang menyakitinya. Apalagi aku sudah dari bayi aku di zolimi. Tidak ada istirahat otak ini mengingatnya.
"Maaf buat apa?"
"Ah, sudahlah." Khaizan hanya duduk termenung entah apa yang di pikirkan nya. Aku kembali menonton Drakor.
"Drakor yang kamu tonton itu menceritakan apa?"
"Gak tau. Aku cuma nontonnya aja. Belum membaca sinopsisnya."
"Masa yang nontonnya gak tau? Jadi, apanya yang di tonton gak tau sinopsisnya?"
"Emang gak tau."
__ADS_1
"Kamu mau masuk? Masuk lah." Khaizan menarik nafas dalam-dalam dan keluar. Ternyata indri sudah dandan cantik. Penurut bangat indri ini.
"Kamu kemana aja?"
"Di rumah ini aja gak ke mana-mana."
"Tadi kalian ngomongin apa? Ceritain dong!"
"Gak ngomongin apa kok."
"Fa...! Sadar gak, Khaizan itu ganteng banget mirip Kris wu mantan idol kpop Exo-M. Coba kamu lihat Exo pasti ada yang mirip dia!"
"Ngaco. Menurutmu ganteng menurutku biasa aja."
Ind, perasaan ku sekarang ini sendu aja. Entah aku depresi entah frustasi. Selalu mengingat masa lalu dari kecil sampai sekarang tidak pernah bahagia, orangtua dan katanya keluargaku tidak pernah melakukan ku sebagai manusia biasa. Apa salahku pada mereka?"
Di bentak, di teriaki, di hina, di caci maki, di pukul, di tendang, di siram air panas. Di sekolah di bully murid lainnya, di asingkan guru. Di ruang TU di hina lagi sama guru yang mengurus keuangan. Di hina lagi sama adik, dia sama sekali tidak melihat ku lebih tua dari dia. Di lingkuan di bully ibu-ibu. Di rumah di bully orangtua. Kenapa hidupku sangat menderita seperti ini, ind."
Aku tidak pernah mendapatkan motivasi dari orangtua. Tidak semangat melanjutkan hidup, ingin menangis, ingin teriak. Ingin terbang ke bukan agar tidak bertemu lagi orang-orang jahat."
"Astagfirullah. Kamu mengeluh? Nasip kita sama. Sepertinya kita harus ke psikiater deh. Berarti luka di hati kita itu cukup dalam dan luas. Aku tidak tau juga apa yang harus aku lakukan. Yang aku tau, aku kerja, kerja, dan kerja menabung untuk biaya pendidikan yang lebih tinggi sambil mencari ilmu lain untuk menyembuhkan luka batin."
"Apa bisa sembuh?"
"Ikhlas dan iktiar aja pasti sembuh. Aku pernah membaca sebuah buku tentang luka batin. Luka itu harus di sembuhkan dengan mendekatkan diri pada yang mahakuasa dan berusaha juga mencari obat lain agar cepat sembuh. Aku tidak sanggup membaca buku itu terlalu jauh membuat aku melampiaskan amarahku ke barang-barang."
Saran di buku itu, kita jangan menikah dulu sebelum kita benar-benar sembuh dan jangan menikah sama orang yang tempremental. Bayangkan saja kita punya luka batin dan menikah pula sama orang yang temperamen. Rumah tangga kita jadi kacau seperti perang di Suriah. Jangan pernah mengikuti omongan orang yang meremehkan kita karena orang itu tidak akan mengerti sebelum dia mengalami hal yang sama seperti kita."
"Ngeri banget, ya. Kenapa orang gemar menyakiti orang lain sampai seperti ini. Mereka tidak mandang bulu, orangtua pun jadi."
"Salah satu orang yang paling berjasa dengan kesuksesan dan menghancurkan kita, iya orang terdekat. Orangtua pun jadi."
"Apa mereka gak punya iman dan agama? Curhat di grub pun percuma. Kebanyakan zaman sekarang para korban yang di salahkan. Baik korban kecelakaan, mutilasi, perampokan, pemerkosaan dan lainnya. Mengadupun kalau tidak punya uang, percuma. Mereka orang yang zolim di negara kita di lindungi oleh hukum. Orang yang terlibat sudah di bayar dengan uang yang tidak seberapa. Hukum makin bengkok, tumpul ke atas tajam ke bawah. Jarang mendengar keluhan rakyat kecil. orang hukum memakan gaji buta."
"Itu di luar kendali kita. Mereka agamanya hanya di KTP entah setiap berbuat zolim mereka minta do'a pada tuhan agar dia tidak berdosa? Mereka anggap enteng hukum tuhan. Jadikan pelajaran untuk bangkit dan maju. Setelah maju, kita harus jadi orang jujur walaupun kita di hancurkan oleh orang seperti itu nanti."
Masalah orangtua mari kita sholat dan berdo'a agar di berikan hidayah untuk tidak semena-mena lagi sama maklum ciptaan Allah. Jadikan pelajaran juga agar kita tidak semena-mena pada anak nanti. Kita sudah pernah merasakannya rasa sakit bangat. Orangtua yang melakukan itu pada anaknya dulunya juga korban KDRT, punya luka batin dan bipolar. Tidak peduli jeritan makhluk yang tidak berdosa yang dia tau dia harus menganiaya anaknya."
"Kalau gitu kita tidak akan menikah."
__ADS_1
"Kok gitu? Hati-hati kata-kata itu do'a."
Next