
Terbelenggu Cinta di Negeri Jiran 48
"Shifa, kamu kok keras banget di bilangin?" Tanpa membalas ucapannya aku lekas menyetop taksi dan pulang. Sebenarnya ada getaran aneh di dada ini. Di satu sisi aku benci padanya, di satu sisi aku tertarik padanya, di satu sisi lagi ada wanita lain di sampingnya. Apa yang harus aku lakukan?
***
[Shifa, apa kamu sudah sampai di rumah. Temanmu masih ada di sini]
Apa? Indri masih di cafe? Apa Khaizan bohong?
[Yang benar? Kirimkan foto kalian]
Sebuah foto di kirim oleh Khaizan benar indri masih ada di sana. Apa aku putar lagi atau meninggalkan mereka berdua? Biarlah, aku pulang aja.
[Aku sudah sampai kok. Jangan lupa antar kan indri pulang]
***
"Khaizan, shifa sudah pulang?" Aku lupa, aku yang mengajak indri untuk membantuku bertemu shifa dan membiarkan mereka bersenang-senang dulu. Awalnya indri keberatan aku suruh duduk di belakang dan menikmati wifi gratis akhirnya dia mau.
Entah sejak kapan gadis itu berada di belakangku. Apa dia melihat perseteruan kami?
"Sudah kok. Kamu tidak apa-apa kan, duduk di pojok sendirian?"
"Risih tauk, dari jauh aku perhatikan kalian canggung banget."
"Iya, ternyata orangnya keras banget susah di taklukkan."
"Apa kamu menyukai, Shifa? Apa kamu hanya kasihan aja padanya?" Menyukai shifa? Entahlah sepertinya antara kasihan, merasa bersalah, dan sedikit tertarik dengannya.
"Awalnya aku hanya kasihan padanya. Setelah itu seperti ada getaran yang tak biasa yang tidak pernah ku temui bersama karina dulu."
"Lalu bagaimana dengan hubunganmu sama karina?"
"Kami hanya berteman biasa. Dia memang terobsesi untuk memilikiku karena ada sesuatu yang dia kejar. Setelah tau tabiat aslinya perasaan ku padanya mulai memudar."
"Kalau gitu aku pulang dulu."
"Biar aku antarkan kamu pulang."
"Iya."
***
Tit
Bunyi klakson motor berhenti pasti itu mereka. Diam-diam mengintip melihat pandangan mereka ada rasa yang aneh di dada ini. Kenapa dadaku perih ya? Apa aku cemburu?
"Aku masuk dulu."
"Iya, aku pulang dulu." Sebelum pulang Khaizan menoleh ke kos kami jangan sampai dia tau aku sedang mengintipnya. Aku lekas masuk kamar dan memainkan ponselku.
"Belum tidur, Fa!"
"Belum, lagi nungguin kamu. Benar-benar kalian ini, entah berapa kali kamu menipu aku sudah aku bilang jangan mengajakku main di ajak lagi bodohnya mau aja aku di ajak olehmu ujungnya bertemu Khaizan lagi. Berapa Khaizan membayar mu?"
"Maksud mu? Khaizan memang mengajak aku, katanya dia mengajakmu pasti kamu tidak mau. Siapa lagi yang dia ajak kalau bukan aku? Aku tidak pernah di bayar oleh Khaizan, berapa sih gajinya dia? Kok, main bayar-bayar aja.
Mending kasih emaknya di kampung."
__ADS_1
"Gimana aku gak curiga kamu menerima bayaran untuk mempertemukan kami coba. Aku lihat kamu itu tunduk banget sama dia. Saudara bukan, suami juga bukan."
Riset...
Terbelenggu Cinta di Negeri Jiran 48
POV Indri
Sejak pertama kali melihat Khaizan sudah ada getaran aneh di dada ini. Setiap kali melihatnya jantungku berdebar tak karuan tapi cepat mengontrol perasaanku. Apa aku menyukainya? Setelah dia tau masa laluku, aku jadi minder dan down.
Kami sering berkomunikasi menanyakan shifa mulu tidak ada yang lain kalau bukan tentang shifa. Sesekali juga menanyakan kabar ku dan dia hanya menganggap aku temannya karena aku teman shifa aja.
[Indri, malam minggu kalian kemana] Sebuah notifikasi wa masuk ternyata masih dari Khaizan. Aku berharap sesekali Khaizan menanyakan tentang ku bukan tentang shifa. Aku juga pengen di perhatikan.
[Gak ada kemana-mana, kenapa tuh]
[Mau ngajak kalian Langkawi, kita naik kereta gantung. Tau tempatnya kan? biar aku kirim lokasinya]
[Tau kok, kalau shifa mau]
[Iya, ajak dia juga. Jangan bilang aku yang ngajak kalian. Ada yang aku omongin sama dia]
[Kenapa tidak hubungi dia aja]
[Sudah dia angkat telpon ku]
[Ya, sudah. Mudahan dia mau] Tidak butuh waktu lama untuk mengajak shifa keluar, untung dia tidak banyak nanya. Tiba di tempat kami naik sesuatu yang belum pernah kami coba. Satu jam lamanya sudah cukup untuk kami bersenang-senang, hilang juga beban berat yang di pikul di pikiran ini.
Ah, seharusnya kita tidak boleh banyak pikiran entar cepat tua. Waktu gadis banyak pikiran sesudah menikah tambah banyak pikiran karena lebih banyak yang di urus dan di perhatikan, sesudah mati juga lebih banyak mempertanggungjawabkan perbuatan kita di dunia dulu.
Setelah naik wahana, kami mual ingin mengeluarkan semua isi perut ini. Nampak bangat diri ini masih kampungan.
[Kalian kemana]
[Aku tunggu di luar]
[Gak usah tunggu aja di situ]
[Iya] Setelah keluar dari toilet ternyata Khaizan mengikuti kami. Lelaki itu mengajak kami nongkrong di Cafe tapi hanya mereka berdua aja aku di suruh duduk di belakang. Padahal aku ingin gabung.
[Indri, aku ingin berbicara berdua aja dengan shifa, kamu gak apa-apa kan, duduk di pojok sana?" Khaizan menunjuk sebuah kursi kosong di belakang. "Tenang aja tidak lama kok. Kamu juga bisa menikmati wifi gratis di cafe ini."
[Baiklah]
[Shifa, aku ke belakang dulu]
[Ngapain? Jangan lama-lama. Eh, ikut] Shifa berdiri dan mengikuti ku langsing di tarik oleh Khaizan. Aku diam aja sampai tiba di belakang.
Aku risih duduk sendirian menonton Drakor sambil menyimak mereka ngobrol. Mereka kaku banget, saling pandang terlalu dalam membuat dada ini panas.
Dari jauh aku merekam percakapan mereka ternyata tidak terdengar sama sekali apa yang mereka bahas. Allah, aku cemburu.
***
Keluar dari cafe ternyata shifa sudah tidak ada. Apa mereka berantam kembali? Ini kesempatan emas ku untuk berdua dengan Khaizan. Aku mendekatinya dan Khaizan kaget tak karuan.
"Apa shifa sudah pulang? Kok cepat banget."
Khaizan menoleh. "Dia kirain kamu sudah pulang makanya dia pulang."
"Apa kalian masih berantam?"
__ADS_1
"Gitu lah, dari dulu seperti itu mulu. Ternyata dia susah di taklukkan."
"Apa kamu menyukai shifa? Apa hanya kasihan padanya?"
Khaizan berpikir sejenak. "Awalnya hanya kasihan tapi semakin ke sini perasaan ini semakin aneh. Entah aku menyukai dia entah tidak." Jadi, aku bisa meliahat sudah tumbuh benih-benih cinta di hati mereka.
"Rumit kalian, ya? Lalu alasan lain apa yang membuatmu begitu kekeh mendekatinya?"
"Karena aku yang membawanya ke sini."
"Oh. Zan, perempuan itu selalu ingat sama orang yang menyakiti nya tapi lupa dengan dirinya pernah menyakiti orang juga. Biasanya memori perempuan itu abadi, bisa menyimpan rekaman kehidupan seumur hidup."
"Iya lalu bagimana denganku? Apa dia juga akan seperti ini terus denganku?"
"Tergantung orangnya juga hanya soal waktu aja. Menjauh lah dari dia dulu. Kalau kamu ingin melihat dia tenang, hubungi aja aku."
"Baiklah."
"Kalau gitu aku pulang dulu."
"Aku antar kan kamu pulang."
Di perjalanan pulang aku ingin memeluknya tapi takut dia risih dan tidak mau menghubungi ku lagi. Apalagi setelah tau masa lalu ku di Malaysia ini.
Dia juga melakukan hal yanh sama dengan beberapa wanita. Tapi, bagi lelaki itu normal tidak ada jejaknya sama sekali yang perempuan lah paling di rugikan dalam kasus ini.
"Indri! Sesudah pertemuan kita di cafe dulu, apa sampai sekarang kamu tidak kunjung dekat dengan seseorang? Umurmu hampir mendekati 23 tahun."
"Belum, Zan, aku hanya memperbaiki diri sambil menunggu orang yang tepat aja datang."
"Ta'aruf gitu?"
"Bisa jadi."
"Apa kamu tidak ada niat untuk menyeleksi lelaki yang dekat denganmu? Boleh aja kamu dekat dengan beberapa orang lalu dari situ kamu memilih yang sreg di hatimu gitu?"
"Belum tentu jodoh juga, zan. Biarlah aku jalani hidup ini apa adanya aja. Kalau kamu bagaimana? Dekat sama siapa aja sekarang?"
"Tidak ada dekat dengan siapa-siapa."
"Bagaimana dengan karina?"
"Hubungan kami hanya sebatas teman dekat aja." Aku berharap kami membahas hal yang lebih dari ini ternyata tidak. Khaizan sedang terbelenggu oleh dua wanita.
"Apa kamu tidak ada niat mencari wanita lain yang menjanjikan masa depannya bersamamu?"
"Masih menyeleksinya."
"Dari pada mendekati orang yang tidak jelas masa depannya lebih cari yang lain aja. Di Malaysia ini banyak gadis-gadis Indonesia bekerja di sini merrka cantik-canti pula."
"Mereka cantik-cantik karena menggunakan uangnya berfoya-foya. Aku tidak suka perempuan seperti itu."
"Bukannya yang kelak lihat dari perempuan itu kecantikannya? Biasanya sudah menikah lelaki selingkuh karena istrinya sudah tidak cantik lagi seperti waktu gadis. Karena waktu gadis orangtua nya sukses merawatnya dan bekerja juga untuk mencari uang tambahan."
"Cantik itu relatif. Merawat diri itu wajib tapi berfoya-foya itu tidak ada untungnya."
"Waktu gadis aja mereka berfoya, sesudah menikah perempuan juga berpikir lebih mementingkan kebutuhan dapur dari pada skincare. Jadi, rugi lah mereka tidak merawat diri sewaktu gadis."
"Ada benarnya juga," Sukses, ini langkah pertama untuk mendekatinya. Batin Indri.
"Aku masuk dulu," Khaizan meliahat ke arah kos kami siapa lagi kalau bukan melihat shifa.
__ADS_1
"Iya, aku pulang dulu."