
TERBELENGGU CINTA DI NEGRI JIRAN 6
Perjalanan masih jauh, lihat ke belakang sepertinya penumpang sudah tidur. Tinggal aku yang belum tidur. Tidak ada lagi teman sopir ngobrol. Aku jadi risih.
Sopirnya hanya diam aja sampai tiba di dumai. Semua penumpang sudah keluar. Aku harap, kapalnya berangkat nanti, hingga aku tidak jadi nginap di dumai.
Semua orang ke kota ini tujuannya sama untuk ke malaysia. Celingak celinguk memandang. Ternyata sudah banyak calon penumpang membeli tiket, aku tidak tau akan berapa lama mengantri. Yang sudah dapat tiket, mereka duduk sambil memandangi panorama alam di pelabuhan.
"Dek! Ini tiket mu." Tiba-tiba sopir mengantarkan tiket untukku. Yang benar ini? Dia membeli tiket ku.
"Ini tiket buat nyeberang? Cepat amat?"
"Sudah daffa pesan semalam." Oh, daffa yang memesannya? Kenapa daffa sebaik itu?
"Aku, ambil uang di ATM dulu."
"Iya, saya tunggu di loket." Aku pergi mengambil uang di ATM, lagi-lagi mengantri. Menunggu satu jam aku mengambil uangnya. Ternyata benar, Haizan mengirim uang satu juta untuk beli tiket. Ku lihat harganya hanya lima ratus ribu lebih.
"Ini, uangnya." Aku menyodorkan uang beli tiket dan ongkos. " Maaf ya, lama nunggu, soalnya ngantri."
Sopir yang tidak di ketahui namanya itu mengambil uangnya. Aku perhatikan lumayan sih. 11 12 sama Haizan. "Iya, gak apa-apa. Kalau kamu mau makan, makan aja dulu, biar gak mual di kapal nanti. Ingat, tiketnya jangan sampai hilang."
"Iya."
"Oh, ya. Sebelum masuk ke Ferry. Nanti harus melalui imigrasi dulu, ya! Ikuti aja orang banyak jangan celingak celinguk santai saja. Nanti, paspor dan tiket di periksa dan di cap imigrasi."
Aku hanya menunduk
"Oh, ya. Kalau seandainya kamu di blacklist. Kalau mau ke Jambi, jangan lupa hubungi nomor yang tertera di kaca mobil, ya!" Di blacklist? Oh, no. Aku tidak minta di blacklist. Malu sama meyra, daffa dan tentu sopirnya juga. Aku tidak mau pulang ke belakang. Aku tulus ingin mengadu nasib ke negara tetangga.
"Iya.
__ADS_1
Dari tadi cacing di perutku meronta minta makan. Aku mencari restoran cepat saji. Makan nasi padang enak bangat. Tak lupa beli cemilan dan minuman untuk di makan di kapal nanti.
***
Tidak lama lagi aku akan meninggal kan negara tercinta. Kalau sukses tiba di sana nanti, aku janji pada diriku sendiri untuk bekerja dengan rajin agar pulang membawa nasip yang lebih baik lagi, bawa banyak uang, bisa kuliah dan di sayang ayah dan ibu.
Teman sekolah yang menjauhi ku dulu merapat tanpa minta maaf. Atau mereka pura-pura amnesia karena telah pembully ku.
Guru yang pernah mencaci maki ku dulu karena terlambat terus bayar uang SPP karena tidak punya uang, segera di beri hidayah agar tidak mudah mencaci murid lainnya karena hal yang sama seperti ku. Di caci oleh guru itu sakit bangat.
Tidak etis rasanya berpendidikan tinggi, punya jabatan, doyan mencaci anak murid yang menurutnya miskin. Itu sungguh orang yang berilmu tapi adab zonk.
Bukan kehendak anak yang lahir dari orangtua miskin, cuma keadaan lah yang mereka harus terima. Ucapan dari orang, setiap anak memiliki rezeki masing-masing. Udah lahir tetap miskin sampai dewasa, orang pikir itu ujian untuk mereka. Hei, kata-kata itu hanya sampah belaka.
Memang anak punya rezeki masing-masing. Perlu di catat, rezeki datang untuk orang yang rajin bekerja. Berusaha apapun itu tidak kenal patah semangat. Kalau duduk manis nunggu uang jatuh dari langit ya tidak akan. Tuhan pun memerintah kan umatnya untuk bekerja. Masa manusianya tidak.
Seperti ayah yang tidak pernah bekerja semenjak aku di lahirkan. Padahal sebelum melamar ibu melalui kakek dari ibuku. Ayah, janji akan membahagiakan dan bertangggung jawab penuh sama istri dan anaknya nanti. Nyatanya zonk.
Jadi, setelah aku lahir, tidak pernah lagi kerja. Hanya duduk manis melebihi ratu di rumah. Sering pula berantam suara mereka melebihi petir di siang hari. Aku sering kaget.
Ayah sering melampiaskan amarahnya pada aku dan ibu. Sering pula menganiayaku tampa ampun. Ibu juga sering melampiaskan nya pada aku.
Jadi, aku menderitanya double. Tidak trauma aja sudah syukur. Bahkan selama lima tahun ini aku merasakan ketakutan luar biasa ada ayah. Sering pula minta tuhan, agar ayah cepat mati dan ibu di berikan hidayah. Amiin.
Jahat bangat do'a nya
Entah apa yang membuat ibu bertahan padahal mereka di jodohkan dulu. Bisa saja mereka cerai, sering aku bilang seperti itu. Lalu, ibu bilang, bagaimana dengan kalian berdua? Sebaik-baiknya anak yang tidak punya ayah lebih baik mereka punya ayah.
Miris mendengar nya, ibu tidak tau. Anak akan lebih sakit lagi jika bertahan dengan rumah tangga orangtua yang tidak harmonis. Perlakukan mereka pada kami juga beda.
Sering kena amukan masa mereka. Sekolah memakai seragam sedekah dari orang lain udah bolong pula. Tas yang ku pakai, tas untuk ke kebun. Jajan hampir tidak ada. Tapi, untuk royan ada lebih lagi. Uang sekolah nunggak terus jadi langganan caci maki guru.
__ADS_1
Di tuntut mulu untuk juara, kalau tidak, aku akan di marahi sampai berbulan-bulan di jelekkan habis-habisan pada saudara nya. Pada saudara ibu, tetangga dan siapapun itu.
Padahal aku sama sekali tidak di berikan waktu untuk belajar di rumah dan ibu, tidak bisa menjadi ibu yang cerdas untuk anaknya karena harus bekerja demi ayah yang pemalas anak yang sekolah.
Ibu rela melakukan apapun untuk menafkahi keluarga. Jualan gorengan keliling, buruh cuci gosok, sampai perutnya bengkak, menanam sayuran di kebun. Ayah minta rokok tiga kali sehari. Aku sudah cukup menahan sakit hati selama ini.
Catat anak bisa menjadi cerdas asal ayahnya bertanggung jawab.
***
"Dek! Kamu mau ke malaysia kan? Saya lihat kamu melamun aja. Sudah beli tiket" Ternyata seorang ibu-ibu membangun kan aku dari lamunan.
Sejam lagi kapal nya berangkat."
"Iya, aku mau ke malaysia. Sudah, Bu."
"Sama siapa ke seberang?"
"Sendiri. Aku menyusul orangtua ku di sana."
"Kok, tidak sama kakak atau adik? Kenapa tidak tunggu aja mereka pulang lalu kalian pergi bersama ke sana."
"Adikku masih sekolah. Aku gak punya kakak."
"Sama tekong gak juga?"
Tekong? Tekong itu orang yang menyalurkan TKI ke luar negri. Kata ibu ini, banyak orang bekerja ke malaysia memakai jasa tekong. .Untungnya, tekong yang jujur akan mempermudah urusan kita masuk malaysia. Ruginya biayanya lebih mahal. Jadi, apa aku tidak akan sampai nanti? Aku hanya menggelengkan kepala.
"Ya, sudah bareng saya aja duduknya."
Sejam lagi kapal nya berangkat, mending aku ke toilet umum dulu mau bersih-bersih diri dan ganti baju. Ngantri lagi hingga tiga puluh menit. Alhamdulillah selesai juga. Aku cari ibu itu entah kemana. Itu dia.
__ADS_1
Next