
TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN 14
"Karina! Kita kan sama-sama perempuan. Kamu harus percaya kata-kataku. Aku bersumpah, aku tidak bohong, aku tidak memfitah Haizan. Dia yang telah menghamiliku disini. Aku tidak hamil sebelum kesini...."
"Diam kamu! Memangnya kamu siapa? Berharap aku akan mempercayai kamu. Aku kenal Haizan sudah lama. Aku sudah kenal keluarganya. Aku sudah sering mendengar ucapan ibunya tentang dia. Aku percaya tidak mungkin dia mabuk. Tidak mungkin menghamili wanita lain. Aku percaya penuh pada haizan. Sekarang, pergi kamu dari rumah ini! Rumah ini milik orangtuanya. Kamu, harusnya bersyukur Haizan sudah mau membantumu malah ngelunjak. Dasar lac*r tidak tau diri."
PRANK
Kata-katanya tajam bangat seperti pedang menancap dada menusuk sampai ulu hati, leher ku terasa tercekat, air mata lolos deras. Aku bukan la pelac*r, aku tidak pernah menjual diri. Aku tidak pernah neko-neko. Aku bukan, pelac*r, aku bukan pelac*r. Haizan hanya diam menyaksikan pertengkaran kami berdua.
"Ternyata kamu juga tertipu sama sifat polosnya. Karina! Jangan fitnah aku. Kamu mencemar kan nama baik ku. Aku bukan pelac*r seperti yang kamu tuduhkan. Toh, kamu tidak punya bukti kalau aku pernah menjual diri. Kata-katamu cerminan dari dirimu sendiri. Mungkin kamu yang seperti itu. Haizan, kamu punya saudara perempuan, bagaimana perasaan mu saudaramu di buat seperti ini oleh lelakinya kelak? Karma berlaku, camkan itu."
Mendengar itu Haizan terperanjat tidak nyangka kata-kata itu lolos dari mulutku. Karina geram tidak terima dengan tuduhanku. Dia sendiri yang mulai dia pula yang meradang. Dengan dada yang baik turun, mata tanjam seperti mata elang yang siap menerkam mangsanya.
"Pergi kamu dari sini!" Karina mendorong aku keluar dari rumah tengah malam ini. Aku harus kemana?
"Gue gak peduli kata-kata, Lo. Lo*te seperti lo cocok tidur di manapun. Di sini, orang seperti lo bertebaran di mana-mana. Kenapa Gue harus percaya pada orang seperti, Lo. Bisa saja kamu rela tidur dengan orang asing demi ringgit. Sekarang aku antar, Lo sampai teras. Pagi dari sini." karina melembar aku dan barang-barangku keluar padahal dia tau aku sedang sakit sedangkan Haizan diam aja.
"Sayang mana bajunya?"
"Di lemari nya."
"Silahkan kamu pergi kemanapun yang kamu mau. Ini tasmu."
"Haizan! Kamu sudah janji padaku dan temanku untuk menjagaku mungkin sudah kesekian kalinya aku bilang itu. Mana tanggung jawabmu?"
"Silahkan pergi dari sini."
BUG
Karina menutup pintu dengan kencang. Aku sedang sakit. Aku harus kemana? Tidak pernah malam-malam begini berada di luar. Ternyata Haizan sangat tidak manusiawi tega melakukan ini pada wanita. Apa ibunya bukan wanita? Apa tidak punya saudara perempuan? Bagaimana karma menghampiri saudaranya, bagaimana perasaannya?
Orang yang melihatku hanya diam aja.
Lelah berperang dengan hati aku putuskan untuk tidur di sini.
__ADS_1
***
"Eh, kamu belum pulang? Nekat juga tidur di sini, benar, wanita ****** seperti mu rela melakukan apapun demi simpati laki-laki."
"Sayang! Ayok kita pergi."
"Haizan! Mana pasporku!"
"Ini."
"Sayang kok paspor nya ada di kamu?"
"Sudahlah ayok kita pergi." Aku tidak tau mau pergi kemana. Astaga, kenapa aku tidak pulang ke kos aja.
Tiba di kos ternyata pintunya sudah di kunci. Lagi-lagi aku gagal masuk ke kos, kenapa mereka menzolimiku?
Perutku sangat lapar, ku cek dompet masih ada uang yang ku ambil di rumah Haizan tadi untuk menyambung hidup. Sebelum masa berlaku visaku habis, aku harus sudah bekerja. Aku harus berani demi janin di rahimku. Entah bagaimana nasionha janin ini. Aku harus kerja tentu tidak boleh capek.
Mahalnya hidup di negeri ini. Ke toilet umum harus bayar mahal. Dalam keadaan hamil, aku sering ingin buang air kecil, mual dan muntah.
Satu jam hingga tiga jam menunggu tidak kunjung nampak seorang pun. Rasa lapar yang menghantuiku.
Hingga tidak sadar mereka sudah pulang, aku lekas pergi agar keburu di kunci. Ternyata mereka telah menguncinya. Aku teriak sambil menggedor pintu memaki-maki merek yang tidak membolehkan masuk ke kos sendiri sampai tetangga merasa risih.
Tok tok tok
"Ella! Ani! Andin! Buka pintunya!"
Tok tok tok
"Buka pintunya!"
TOK TOK TOK
"BUKA PINTUNYA! ELLA! ANDIN, ANI. AKU JUGA SUDAH MEMBAYAR KOS INI SATU BULAN PENUH SAMA SEPERTI KALIAN. TAPI, KENAPA KALIAN SAMA SEKALI TIDAK MEMBERKAN AKU MASUK KE KOSKU SENDIRI? SETIDAKNYA BERIKAN AKU MASUK SAMPAI HABIS BULAN INI. AKU TIDAK RIDHO KALIAN MENZOLIMI AKU SEPERTI INI."
__ADS_1
"Ada apa dek!"
"Mereka tidak membuka pintu padahal aku sudah bayar penuh."
"Kok sampai segitunya mereka!"
Tok tok tok
"Buka pintunya! Kasihan adik ini tidak kalian bolehkan masuk padahal dia sudah membayarnya penuh. Apa kalian kami adukan ke ibu kos?"
Cek lek
"Justru dia tidak membayar sepersen pun, ibu kos tidak menyuruhnya dia masuk. Katanya tunggu gajian baru bayar.
Astagfirullah, ternyata ada tukang bohong lagi. Kata Haizan sudah membayarnya satu bulan penuh, kata Ella lain lagi. Haizan tidak membayarnya? Lalu, kemaren kenapa aku bisa masuk ke kos ini waktu itu.
"Iya! Ella benar. Ibu kos sudah mengusirnya berkali-kali dianya yang keras." Ujar andin.
"Dia boleh aja masuk asal bayar dulu." Ujar Ani.
Benarkah begitu? Haizan membohongiku? Di mana aku ambil uang untuk bayar kos? Keterlaluan kamu Haizan.
"Benar itu dek! Kamu belum membayar uang kos? Pantesan aja mereka tidak memberimu masuk ke kos, asal kamu tau ya, hidup di negara ini kejam. Tidak kerja tidak makan, telat bayar kos detik ini pun orang mengusir kita. Jadi, bayar dulu kosnya baru boleh masuk. Kami sudah suudzon sama mereka bertiga."
"Sudah bersama lama kamu di sini? Masa tidak tau kehidupan orang di sini? Kamu punya saudara? Tinggal aja di sana dulu sudah dapat gaji baru pindah. Hidup di rumah saudara memang seperti itu. Cocok tidak cocok sabar aja"
Aku harus ngomong apa
"Apa di tempat kalian ada lowongan kerja? Apapun itu yang penting halal. Bantu aku masuk. Aku butuh bangat."
"Kamu ke sini sama siapa? Hidup di sini keras loh. Kok orangtua kamu mengizinkan kamu ke sini? Memangnya orang yang membawamu kesini tidak membantu mencari kerja?"
"Iya, gitu lah."
"Malam ini tidur aja di kos saya dulu. Dari pada kamu luntang lantung di jalan, bahaya untuk gadis seperti mu." Aku hanya mengangguk.
__ADS_1