
TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN
Marry Christmas and happy new year
Hari ini tanggal 24 desember 2014, Dimana sehari lagi masyarakat yang beragama nasrani merayakan natal. Musim hujan di penghujung tahun membuatku malas keluar untuk bekerja, enaknya berpelukan dengan bantal guling dan selimut.
Pohon-pohon natal sudah berdiri rata di rumah, di tempat kerja, mall, kafe, Club malam, tempat wisata, jalan, pantai dan lainnya. Kerlip lampu nuansa natal di malam hari memanjakan mata.
Banyak turis asing datang ke Negera ini untuk merayakan natal dan tahun baru. Kedai semakin ramai pengunjung. Walaupun yang memiliki kedai seorang muslim aceh asal Indonesia, tetap aja toleransi mereka jalankan dengan meletakkan pohon dan nuansa natal di sekitar ini.
Aku memasang buah-buah pohon natal dengan baik. Walaupun belum pernah mengerjakan ini sebelumnya. Tapi, sering ku lihat di televisi cantik bangat. Walaupun aku muslim tapi aku manut aja yang penting aku tidak di suruh melakukan sesuatu di luar persetujuan agama. Masyarakat di sini toleransi beragamanya juga tinggi, menurut cerita apapun agama, ras dan di manapun mereka berasal, kalau sudah menjadi warga negara malaysia, mereka bersatu membangun negara yang maju.
Aku sama sekali tidak nyaman bekerja, perutku sering keram serasa ada yang menekan di bawah pusar ini. Riuh suara pengunjung semakin membuat kepala ku pusing. Aku minum obat penenang dan obat masuk angin agar sakit kepala dan perut sembuh. Aku tidak tau obat itu aman untuk janin entah tidak.
"Kenapa kamu? Aku lihat kamu lesu bangat kerjanya. Hei, jangan gitu! Nanti di gunjing atasan dan di tegur bos!" Ujar shelin salah satu karyawan kedai aceh.
"Kepala dan perutku sakit bangat," Ujarku memijit pelipis dan perut.
"Kamu masuk angin? itu seperti nya kamu sudah minum obat."
"Iya,"
"Ya, sudah. Istirahat dulu di belakang! jangan sampai ketahuan karyawan lain! Mereka sensitif, suka mengadu yang tidak-tidak. Setelah mendingan, baru lanjutin kerjanya!" Shelin salah satu atasan yang bisa di bilang perhatian. Kalau aku sedang tidak hamil, pasti sekarang sedang semangat bekerja. Haizan, lelaki itu memang brengsek.
***
Sudah agak mendingan rasanya aku keluar, kulihat pekerjaan nya belum selesai. Mereka masih memasang kerlip lampu di kafe. Sedikit terlambat tapi tidak apa-apa, kata bos dari pada tidak sama sekali.
"Shifa! Ambil lampu yang seperti ini di gudang, ya! bawa semuanya!"
"Iya! Bu," Ibu bos menyuruhku mengambil lagi lampu hias di gudang. Tiba di sana, gudangnya lebih bersih dari pada kos ku. Aku cek satu persatu dapat juga. Bawa ke depan menyerahkan pada bos.
"Ini! Bu!" Aku menyerahkan lampu hias pada bu bos. Tapi, bu bos mengambilnya dengan kasar, aku menyerahkannya baik-baik. Ada apa gerangan?
__ADS_1
"Hei! Bu bos memang begitu. Jangan ambil hati," Ujar shelin.
"Aku tidak apa-apa kok. Orang seperti mereka menjamur di luar sana."
Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari aku sudah mengantuk bangat, padahal jam dua belas sudah pulang. Ingin aku kabur tapi, tidak mau menanggung resiko.
"Shelin! Jam berapa pulang?"
"Bentar lagi."
"Ya, jam berapa?"
"Sabar aja bentar lagi." Shelin menjauh dari ku pada siapa aku bertanya? Orang yang natal dan tahun baru, kita yang muslim yang sibuk, tenaga dan waktu kita di peralat. Gaji sebanyak itu aja.
"ini kopi buat mu! biar ngantuk mu hilang!" Shelin menyerahkan secangkir kopi untukku. "Kita akan tetap di sini sampai pagi."
"Hah! yang benar? Oh, aku tidak minum kopi." Di sini sampai pagi? Artinya aku tidak akan tidur malam ini? Aku merasa tersiksa lagi.
"Minum aja sedikit aja, itu akan mencegah rasa ngantuk mu. Rasanya enak, manis cobain deh nanti kamu juga terbiasa."
"Kamu kayak orang hamil muda aja."
Deg, di mana shelin tau aku sedang hamil muda? Jangn sampai siapapun tau kondisiku yang sebenarnya.
"Ah, kamu ini ada-ada aja. Aku memang tidak meminum yang berwarna, tidak pernah mencobanya, karena tidak pernah memiliki uang untuk membelinya."
"Baru kali ini aku dengar ada orang yang mual mencium bau kopi."
***
"Huek, Apaan ini?" Shelin memaksa aku meminum kopi buatannya. Rasanya aneh bikin perut aku mual lagi. Aku pergi ke toilet memuntahkan semua isi perutku. Shelin mengikuti ku ke belakang. Karyawan lain memperhatikan kami ada yang bertanya kami kenapa? Aku kenapa?
"Shifa kenapa? Kayak orang hamil aja." Ujar shelin.
"Kalian kenapa? kok tegang gitu?"
__ADS_1
"Eh, shifa! kamu tidak hamil kan?" Ujar salah satu karyawan membuat karyawan lain kaget bertanya-tanya apa benar aku hamil? gawat kalau ketahuan iya, aku bisa-bisa di pecat.
"Apa! Shifa hamil?"
"Yang benar?"
"Shifa! Jawab dong!"
"Aku enggak hamil. Aku kena asam lambung tidak cocok minum kopi."
"Oh, gitu." Mereka ada yang percaya ada yang tidak, ada yang ingin mengadu ke bos untuk bos sudah pulang."
"Shelin! Kamu apa-apaan. Sudah ku bilang aku gak suka minum kopi, aku tidak bisa di paksa minum itu," Hal ini ingat malam laknat itu, Haizan memaksaku minum alkohol yang membuat kepalaku sakit dan ambruk.
***
Kata siapa kita akan di sini sampai pagi, nyatanya sejam lagi pulang. Shelin bohong. Hal ini mengingat kan aku tentang malam dan hari itu, Ella dan teman-temannya mengunci pintu sama sekali tidak membolehkan aku masuk. Bagaimana kalau bertemu mereka lagi? Entah apa yang harus ku lakukan.
Aku harap indri tidak melakukan yang seperti itu pada ku. Nekat meninggalkan aku di luar di malam hari tidak terpikir oleh mereka kita sama-sama perempuan. Bayangkan aja malam-malam tinggal sendiri di luar bahayanya seperti apa. Untung aku masih selamat.
Tok tok tok
"Indri!" Hei, indri belum pulang. Kemana itu anak? Apa masih kerja. Ku telpon indri tidak di angkat, wa tidak di balas.
Ku lepaskan sepatu dan kaos kaki, membersihkan diri entah virus apa yang di bawa dari luar. Merebahkan diri melihat langit-langit kamar pikiranku traveling ke Jambi. Apa kabar ibu, ayah, dan royan. Kenapa sampai sekarang mereka tidak pernah menghubungi ku? Apa mereka tidak merasa kehilangan aku? Apa keluarga yang lain tidak pernah menanyakan keberadaan ku?
Jangan-jangan mereka bersyukur karena aku tidak memberatkan mereka lagi. Oh, ayah, ibu, aku tidak pernah minta di lahirkan oleh kalian. Jika aku bisa memilih, aku mau di lahirkan dari keluarga yang kaya raya dan terpandang.
"Shifa! Kamu melamun aja, aku panggil berkali-kali tidak nyaut."
"Eh, indri! kamu sudah pulang!" Aku duduk di atas kasur. "Kok lama pulangnya?"
"Bos nyuruh kami menyiapkan pohon natal di tempat kerja."
"Oh."
__ADS_1
Next