TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN

TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN
POV Khaizan


__ADS_3

Terbelenggu cinta di Negeri Jiran 65


Kami bahas bisnis aja. Oh, ya! Sudah sejauh mana hubungan kalian sama Khaizan]


Deg


Kok pak daffa malah membahas hubunganku sama Haizan? Apa dia curiga sama hubungan kami?


***


Minggu ini moodku sudah lebih bagus dari yang biasanya tapi pertanyaan pak daffa merusaknya kembali. Pak daffa curiga dengan gerak gerik kami tapi enggan untuk bertanya lebih dalam lagi. Apa mereka sempat membahas itu kemaren?


POV khaizan


Sudah menjadi resiko para imigran ilegal bekerja disini kalau libur sehari sudah di berhenti kan. Aku coba mencari pekerjaan yang baru mereka malah kabur karena tidak mau satu ruangan sama orang asing terutama dari Asia selatan.


Mereka mencari pekerjaan yang baru di restoran aku biarkan saja agar mereka mencoba sesuatu yang baru dan menyerap ilmunya juga ternyata jauh dari harapan. Hanya dua bulan mereka bertahan karena tindakan bos dan karyawan lain yang tidak manusiawi.


Akhirnya mereka lamar lagi ke tempat lama tempat kami berkerja lagi-lagi ikut campur pacar mereka bisa bekerja dengan baik. Duel dengan atasan dari asing tidak mudah bagiku untung aku memiliki enis yang sama dengan ya itukah yang membuat mereka mau menerima gadis itu kembali.


Biasanya aku tidak mau ikut campur pada urusan orang lain tapi ini setiap waktu aku harus berhadapan dengan dua gadis yang tidak jelas asal usulnya.


"Zan! Kapan pulang ke Jakarta?" Karina datang setiap harinya ke kos aku. Aku risih sama dia yang suka berbicara apa aja tanpa pernah Habi kata-kata pada teman-teman aku.


Aku yang sedang menonton televisi menjadi tidak mood dan mengganti chanelnya sampai dia pulang. "Belum tau kenapa itu?"


"Kita barengan aja pulangnya sekaligus membicarakan tentang pernikahan kita."


"Apa kamu mencintai ku dengan tulus atau ada maksud lain?"

__ADS_1


"Aku mencintaimu dengan tulus banget zan. Tidak ada maksud apa-apa kok. Kita sudah bersama sekitar 7 tahun. Usia kita sama-sama 26 tahun. Apa lagi yang kita nanti kalau tidak menikah?"


Untuk sekarang ini sudah tidak memiliki perasaan apa-apa lagi sama gadis itu. Aku suruh dia pergi, intropeksi diri hanya dua hari dia tidak muncul di hadapanku setelah itu dia datang lagi dengan tampang sok polos tanpa dosa.


"Nanti aku pikirkan."


"Jangan lama-lama, Zan. Aku akan membicarakannya pada orang tuaku."


"Hallo, Ma! Ini Khaizan calon aku," karina mengarahkan ponselnya padaku nampak ibu kakak dan adik tirinya sedang berkumpul. "Zan! Ini ibu aku."


"Hallo tante! Apa kabar? Senang berkenalan dengan kalian."


"Hallo, ini Khaizan yang sering di ceritakan sama karina itu, ya? Ganteng banget pantesan karina tergila-gila padamu."


"Biasa aja tente."


"Nanti ada saatnya tante."


"Pulang lebaran nanti kita membicarakannya, Ma." Karina ini sama seperti Shifa dan indri di jadikan tulang punggung keluarga. Padahal karina ini punya kakak tiri dan adik tiri yang harus dia hidupkan. Kakaknya sudah menikah sudah pula bercerai, mantan suaminya abai terhadap tanggung jawabnya sebagi seorang ayah. Menurut cerita karina harta gono gini di ambil semuanya.


Ibunya memiliki 4 anak dari suami yang berbeda. Dua adik tirinya masih sekolah dan ayah tirinya menuntut dia berbakti membiayai sekolah adik-adiknya.


Kelaurga yang tidak beres di mana perempuan di jadikan tulang punggung dan sapi perah masa aku harus masuk pada keluarga yang seperti itu.


Pikiran ku melayang pada Shifa dia juga juga termasuk orang yang aku bicarakan. Ada apa dengan para wanita di kota ini? Aku seharusnya mencari perempuan yang berpendidikan tinggi, berprestasi, berasal dari universitas bergengsi, berasal dari keluarga yang baik-baik, memiliki pengetahuan dan ilmu agama yang luas agar nyambung jadi istri, menantu dan ibu yang baik untuk anak-anak, bisa berbisnis dan menjadi kolega bisnis juga.


Kalau aku mau sama wanita yang pekerjaannya hanya di rumah mending aku nikahi pembantu rumah tangga.


***

__ADS_1


Sebuah notifikasi aku terima dari Daffa guru sekaligus temanmu shifa di kampung. Katanya dia mau liburan ke sini bersama teman-teman termasuk adiknya shifa. Katanya keluarganya shifa tidak bisa berkomunikasi denhan Shifa karena kontaknya di blokir oleh Shifa. Ada apa lagi itu anak?


Kalau masalah keluarga aku tidak mau ikut campur kalau masalah pekerjaan menyangkut aku boleh lah. Katanya adiknya mau kerja di sini seharusnya aku menagih hutang itu pada royan. Ibunya setuju karena tidak mau anak gadisnya terjerumus ke lembah hitam. Kemaren hampir saja masuk.


Shifa aku suruh dia fokus aja bekerja demi masa depan nya tidak usah memikirkan uang itu. Malam ini rencananya mau mengajak mereka keluar sayangnya karina mengikutiku jadinya aku mengalihkan perhatiannya hingga aku memasuki gang-gang sempit yang di lewati oleh imigran gelap.


Tak lupa aku ajak rizki untuk menemani indri untung rizki mau sampai sayangnya ketahuan lagi oleh karina dan teman-teman jadilah aku menghabiskan malam minggu sama karina biar besok aku mengajak shifa liburan.


Tidak ada yang spesial malam ini karina terlalu percaya diri memperkenalkan aku pada teman-temannya mereka lantas memujuku. Pikiranku menuju pada shifa sedang apa shifa malam ini?


"Zan! Ini kenalkan teman-teman aku." Kami mengenalkan diri mereka ribut banget entah apa yang mereka bicarakan.


"Ini calon suamimu? Ganteng banget. Tapi, perasaan sering melihat dia bersama beberapa wanita," Ujar seorang wanita. Siapa wanita ini? Kok bisa tau aku pernah jalan sama beberapa wanita? Aku anggap tidak mendengarnya dengan jelas fokus sama minumanku.


"Iya, kah? Siapa?" ujar karina menoleh ke arahku.


"Mereka sering menginap bersama entah apa yang mereka lakukan. Pernah keluar dari bar juga. Kalau tidak salah wanita itu bekerja di satu perusahaan yang sama dengan ku tapi sekarang sudah tidak nampak lagi.


"Mungkin kamu salah lihat. Banyak orang yang fisiknya mirip mungkin yang kamu lihat itu orang lain."


"Aku tidak salah lihat. Pertama dia kerja di tempatku karena dia anak baru kami kerjain. Kami kirain dia gadis yang polos ternyata dalam sekejap dia hampir menghilangkan nyawa kami. Besoknya dia pergi ke bar dan subuh keluar dengan sosok yang mirip pacarmu. Wanita itu namanya shifa rahmadini."


"STOP! Kalian membicarakan apa? Kebiasaan ngerumpi." Aku ambil barang-barang ku berangkat pulang."


"Sayang! Kok cepat banget pulangnya? Tunggui aku." Tanpa menghirau teriakan karina yang menarik perhatian pengunjung lekas pergi meninggalkan mereka.


Gadis-gadis itu makin tua makin rajin mengganggu orang makin rajin pula ngerumpi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2