
TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN 10
Mending aku pergi aja sambil nyari kerja. Tidak peduli bertemu police, kalau di tangkap aku harap di pulang ke tanah air dalam keadaan baik-baik aja. Haizan ternyata brengsek. Dia yang telah membujuk ku kesini, dia hanya membayar tiket dan kos.
Aku manut aja. Padahal aku sudah janji akan mengganti semuanya kalau sudah bekerja nyata apa? Dia mengambil mahkotaku itu jauh lebih mahal tidak ternilai harganya dari pada uang.
***
Tidak ada tempat yang berani aku tanya. Aku berusaha untuk menghilangkan rasa malu dan gugup. Semua orang nampaknya judes, membuatku takut bertanya. Meyra mengirim pasan lewat aplikasi logo biru. Aku bilang di sini baik-baik aja jangan khawatir.
Kalau aku bisa meramal masa depan. Aku tidak akan pergi ke sini. Hanya dalam keadaan pikiran kosong, kacau, dan cemas terhadap masa depan. Aku mau aja ikut orang asing di iming-iming dengan pekerjaan bagus dan gaji yang banyak.
Semua itu tipuan belaka sekarang aku sudah kehilangan satu-satunya mahkotaku yang harus ku jaga sampai menikah. Mudahnya Haizan bilang aku sudah tidak suci sebelum dia jamah. Keterlaluan.
Seharian aku berada di kawasan ini. Aku capek, aku lelah. Aku ingin pulang ke kos. Aku akan minta kunci duplikatnya ke mereka kalau tidak, minta aja pada yang punya kos.
Tok tok tok
"Buka pintunya!"
Satu kali, dua kali, tiga kali merek tidak kunjung membuka pintu. Aku intip mereka hanya tidur a sambil main HP. Tega bangat tidak membuka pintu untukku. Padahal aku juga bayar sama seperti mereka. Kalau seperti ini, aku harus cari kos untuk aku sendiri.
Satu jam, dua jam, tiga jam merrka tidur. Ya, Allah jahatnya mereka meninggal kan aku sendirian di luar malam-malam lagi. Di mana hati nurani mereka. Apa aku harus tidur di luar?
Aku minta bantu tetangga sebelah untuk membangunnya, mareka masih abai. Kebak bangat telinganya. Aku minta lapor yang punya kos ternyata mereka sedang tidak ada di Malaysia. Aku numpang tidur di sebelah.
Pagi terbangun uangku hilang lagi. Ya, Allah malangnya nasib aku. Lagi-lagi aku ceroboh tidak memperhatikan uangku dengan baik. Aku yakin, mereka disini lah yang mengambilnya.
"Mbak! Apa mbak lihat uang aku gak?"
"Enggak tuh. Emanhnya kamu tarok di mana?"
"Di kantong celana, mbak."
__ADS_1
"Wah gak tau. mungkin coba kita cek dulu kamar ini sampai keluar." Setelah di cari kesana kemari ternyata tidak ada. Ya, Allah. Hanya itu uang yang aku punya untuk bertahan hidup sekarang hilang lagi.
Benar-benar tidak ada. Pegangan ku sudah tidak ada. Aku menjadi gelandang di negara orang sekarang.
***
Capek bolak balik ke kamar dan luar tidak sadar kamar sebelah sudah terkunci lagi. Benar-benar tidak punya hati. Padahal mereka sesama perempuan. Aku harus bagaimana lagi?
Apa aku tetap tinggal di sini?
"Mbak! Mulai sekarang boleh gak aku nginap di sini dulu. Aku sudah bayar kos di sebelah. Tapi, mereka malah tidak mengizinkan aku masuk. Uang saya hilang semuanya. Saya janji akan membayarnya setelah saya menerima gaji."
"Tidak bisa, Dik. Kamar ini sudah penuh. Ini aja kita tidur dempetan. Kapan kamu akan bekerja? Kapan pula menerima gaji? Kapan pula kamu membayarnya?"
"Tidak boleh ya, mbak!"
"Tidak boleh."
BUG
Aku pergi ke mesjid terdekat mengadu pada tuhan. Aku tidak sanggup menanggung ini sendirian. Aku butuh melampiasan. Aku takut khilaf dan melakukan sesuatu di luar kendali ku.
Banyak orang lalu lalang mereka bahagia tanpa beban. Disini aku tidak punya siapa-siapa, aku tidak punya saudara. Ayah dan ibu aja yang seharusnya menjadi pelindungku tidak pernah mencari ku seharusnya bisa tanya Meyra.
Apa aku pinjam uang aja pada meyra? Tapi, malu.
Police police
Hah, police? Apa aku harus menyerahkan diri? Kalau ini yang terbaik, baiklah. Ku harap aku pulang ke tanah air dengan selamat. Begitu kata. Tapi, selama di perjalanan kata kita tidak di berikan bekal makanan. Kita harus menanggung lapar selama berhari-hari. Kita terkapar banyak pula yang meninggal.
Banyak orang yang di tangkap paksa, police ada di setiap tempat. Aku tidak mau seperti itu. Aku harus menyelamatkan diri.
"Naik." Siapa orang itu seperti nya aku mengenali suara itu.
__ADS_1
"Ayo naik." Tidak kunjung naik aku malah fokus melihat mereka yang meronta dan memotret nya. Tiba-tiba...
BUG
"Kamu ini kenapa? Mau di tangkap? Mau ikut mereka masuk bui? aneh." Haizan membawa ku masuk ke mobil
"Haizan! Kemana kamu membawa ku?"
Haizan diam
Tiba di sebuah perumahan, Haizan membuka pintu mobil mempersilahkan aku keluar. Masuk ke rumah tidak ada orang sama sekali.
"Kalau kamu mau makan, makan lah. Aku lihat kamu sangat kacau seperti anak yang tidak terurus." Makan? Aku memang belum makan. Tapi, mengingat waktu itu, aku tidak akan memakan apapun selain ku beli dan masak sendiri. Aku seperti tidak terurus memang seperti itu nyatanya.
Tenang aja tidak ada racunnya."
"Yakin tidak ada racunnya?"
"Yakin bangat. kalau ada racunnya aku yang makannya pasti duluan mati. Tinggallah di sini sampai kapanpun kamu mau. Karena aku lihat, kamu susah bangat masuk ke kosmu."
Tinggal di sini? Tidak salah tuh? Yang ada aku jadi santapan dia sehari-hari. Aku masih kaget dengan perbuatannya waktu itu. Aku takut bangat, tidak punya pilihan lain, uang tidak ada, teman kos juga tidak punya hati. Apa yang harus ku lakukan selama ini?
"Kenapa kamu memandang ku seperti itu? Kita sama-sama sudah dewasa. Kalau kamu tidak percaya dengan ku ya, pulanglah ke kos kamu."
"Aku merasa di lempar kesana kemari. Ke sana tidak mungkin, ke sini apa lagi. Seperti keluar dari kandang anjing masuk ke kandang babi."
Haizan diam aku harus bilang apa lagi?
"Kamu bilang seperti itu artinya kamu tidak percaya padaku. Babi adalah binatang yang suka menyantap apapun. Aku tau pikiranmu."
"Apa kamu yakin akan menjagaku dengan baik? Tidak menelantarkan aku seperti waktu itu lagi?"
"Aku tidak menelantarkan mu. Aku sudah bilang, aku sudah janji pada temanmu untuk menjaga mu."
__ADS_1
"Aku sepertinya pulang aja ke kos."
"Terserah kamu. Kamu sudah dewasa." Huh, katanya akan menjagaku. Sudahlah Shifa tidak usah berharap dan percaya lagi sama Haizan. Peristiwa itu sangat membuatku jera percaya dengan orang.