
Terbelenggu Cinta di Negari Jiran 58
Kerlip lampu dan bintang di malam hari. Para pencari rezeki berlomba-lomba meninggalkan tempat kerja. Susahnya bekerja di Negara asing demi sesuap nasi dan masa depan keluarga. Banyak juga di nyinyirkan di pandang negatif, tidak mau tau alasannya oleh orang lain. Padahal mereka sama-sama manusia yang memiliki kebutuhan yang perlu perjuangan.
Aku tidak akan menampik kata mereka biarlah mereka berbicara sesuka hati kalau dengar kata-kata mereka kita tidak akan maju biarkan mereka stres sendiri dengan ucapan sesuka hati mereka tidak di tampik oleh orang yang di tuju hingga orang lain menganggap dia tidak waras.
***
Tit
Khaizan datang pada saat aku keluar dari kilang tempat ku kerja. Memakai motor ninja, baju hitam, celana senada dan sepatu Gucci. Aku ingat tentang malam tadi malu rasanya, entah apa yang di pikirkan oleh Khaizan tentang ku.
"Naiklah, aku antarkan kamu pulang!" ujar Khaizan.
"Gak usah, aku naik taksi aja," tolak ku karena tidak mau merepotkan Khaizan yang sama-sama capek pulang kerja dan rumah kami berlawanan arah.
"Gak apa-apa, ayolah! Jangan menolak, aku tidak mau di tolak."
Taksi
Lekas aku stop taksi tapi Khaizan mengejarku dan memegang bahuku. "Shifa! Kenapa kamu ini masih seperti biasanya. Sekarang sudah hampir dini hari. Apa kamu tidak takut kejadian seperti dulu di terulang lagi?"
Aku memandangi Khaizan sejenak. "Yang mana nya agi?"
"Jadi, apa tidak? Saya buru-buru," ujar supir taksi yang resah melihat kami.
Membuka pintu mobil dan meninggalkan Khaizan."Jadi."
Khaizan menarikku kembali dan menutup pintu mobil, "Tidak usah, pak! Terimakasih," Khaizan tetap kekeh dengan egonya. Apa maunya ini anak? Sudah menyakitiku lalu merepet terus ke aku. Taksi pergi begitu saja dan tentu aku marah sama Khaizan.
Aku menoleh, "Kamu ini kenapa sih? Selalu mengganggu ku. Maumu apa? Bisa gak sih, enyahlah dari hadapanku tunggu aja cepat atau lambat uangmu akan aku ganti."
Khaizan tersentak, "Kamu mengusirku lagi? Tidak bisakah kamu memaafkan aku, lihat kebaikan aku sendikit aja? Jangan karena kejahatan yang aku buat, aku menutup mata dengan 1000 kebaikan yang aku buat?"
Mendengar ulasan Khaizan, aku sama seperti orang lainnya. Satu kesalahan yang di buat menutupi seribu kebaikan yang pernah di lakukannya.
"Jangan bilang itu lagi. Sebaiknya kamu pergi dan intropeksi diri aja. Kita sama-sama intropeksi diri. Aku pergi dulu," ku tinggalkan Khaizan yang berdiri sendiri banyak mata yang memandangi kami. Entah apa yang mereka bicarakan tentang kami, aku diamkan aja.
__ADS_1
***
"Pulang juga kamu, Fa! Aku kirain ..." tiba di rumah indri malah menaruh curiga padaku.
"Kirain apa? Aku lama pulang gara-gara bos tampan kamu itu," ku lemparkan tas sembarangan tempat dan langsung merebahkan diri.
"ghosting kepo mana? Bosku cuma satu di perusahaan tempat ku kerja. Aku kirain kamu ke Bar lagi."
"Ngaco kamu."
Setiap malam aku selalu mencemaskan masa depanku, sampai kapan Aku di Negara ini? Kapan aku bisa melunasi hutangku pada khaizan?aku tidak mau ada hutang budi pada orang lain.
Dan juga membayangi wajahnya Khaizan. Siapa sih, wanita yang tidak mau dengan dia? Di luar sana banyak wanita-wanita yang mengantri ingin menjadi pasangannya.
Lalu apa aku wanita yang beruntung di perhatikan oleh Khaizan? Aku sebenarnya tidak butuh perhatian, aku bisa memperhatikan diriku sendiri. Astaga, ada apa denganku? Dulu membencinya karena perbuatanya, sekarang memikirkannya. Ah, ini tidak boleh terjadi. "Khaizan, pergilah dalam pikiranku," batin ku.
***
Pagi menjelang siang, suasana yang mulanya sunyi berubah menjadi gaduh. Apa yang terjadi? Pas aku lihat keluar, ternyata kepolisian Malaysia kembali mengamuk, mengamankan beberapa imigran asing yang bekerja sejarah ilegal disini termasuk diriku.
Karena sekarang hanya ada kami berdua yang belum keluar rumah, aku menjadi takut nasip kami akan berakhir di sini. Aku kunci pintu semuanya dan tidak melakukan apa-apa selama mereka beroperasi.
"Indri ...! Menurutmu, apa kita bisa selamat hari ini?" bisik ku pada indri yang sudah siap pergi kerja tapi urung karena melihat situasinya.
"Aku juga tidak tau. Doain aja."
Seharian ini kami belum keluar rumah, hanya makan apa adanya dan bolak balik mengintip dari jendela kamar. Apa mereka tidak tau banyak anak kos tinggal di sini? Oh, iya, kami kan tinggal di perumahan warga bukan kos-kosan seperti dulu.
Tok tok tok
Astagfirullahalazim, malam begini siapa yang mengetuk pintu? Jantungku berdetak dengan kencang, tubuhku bergetar dan keringat dingin bercucuran.
"Indri ... Siapa di luar?"
"Tidak tau, aku ngintip dulu."
Tiring
__ADS_1
[Buka pintunya! ini aku] satu notifikasi masuk ternyata dari Khaizan.
"Bukalah, ndri! Khaizan orangnya," indri membuka pintu tampaknya pria yang selama ini selalu menguntitku. Kali ini visualnya korea banget. Rambut di cat pirang, jaket hijau, make up yang jauh dari kata lelaki Indonesia dan pakai anting.
Apa lelaki sekarang sudah mulai meniru visualnya orang dari Negeri gingseng itu?
Khaizan memandangi kami yang sedang tegang karena seharian di ghosting kepolisian Malaysia.
"Masuk, zan!" ujar indri.
"Khaizan masuk dan mengunci pintu seperti biasa dia duduk seperti di rumahnya sendiri.
"Gimana keadaan di luar, zan!" Ujar indri.
"Keadaannya keruh banget seperti yang dulu itu. Apa kabar kalian? Apa mereka ke sini?"
"Seharian ini belum sih. Tapi, mereka selalu berputar di sekitar ini. Kami jadi takut."
"Oh, ya, kebetulan aku memakai mobil. Aku ingin mengajak kalian ke rumah ku yang di kuala lumpur lagi. Razia ini akan berlangsung selama seminggu sampai sebulan."
"Lalu pekerjaan kami?"
"Cari pekerjaan baru."
"Huh, capek, zan. Pekerjaan baru mulu."
"Mau selamat apa tidak?"
"Mau dong. Tapi, kami tetap kerja dari KL aja. Kamu punya motor beat kan?"
"Gimana caranya? KL ke HL terlalu jauh di tempuh memakai motor untuk kalian. Yang ada ke KL bukannya menyelamatkan diri malah menjerumuskan."
"Kalau berhenti dari pekerjaan lama tidak bisa, zan. Aku capek memulai dari awal lagi. Jadi, tidak usah ke sana." Aku hanya diam menyaksikan perdebatan mereka. Apa yang membuat kamu peduli pada kami, zan? Sedangkan tetangga yang sudah di kenal selama dua tahun ini tidak pernah menyapa kami.
Aku tau ada saat nya kamu bosan pada kami hingga kamu menghilang tampa pesan dan membuat aku yang mulai mencintaimu menangis. Makanya dari kamu datang lagi ke dalam hidupku, membantu kami di waktu yang sama aku bersikap kasar padamu karena telah menyakitiku.
Aku takut sebagai wanita normal, aku baper padamu, menyukaimu, berharap dan tidak mau kehilangan ternyata hanyalah bentuk tanggung jawab biasa sebagai orang yang sudah kamu bawa dari kampung halaman nya ternyata ujungnya di sakiti lagi.
Bersambung...
__ADS_1