
Terbelenggu cinta di Negeri Jiran 39
Cuaca hari ini sangat bagus tapi tidak sebagus dengan hatiku. Riuh orang berlari kesana kemari tapi hatiku merasa sepi. Entah kemana lagi aku harus pergi. Kata orang kalau bahagia itu kita sendiri yang menciptakannya bukan orang lain. Sudah aku coba tapi tidak bisa.
Aku seperti bipolar kadang suka sedih dan menangis tak kenal waktu dan tempat. Orang lain hanya cuek tidak memandang kita ada. Ada yang memperhatikan aku, mereka bilang aku gila.
Wahai orang zolim sudah puas anda membuat kami susah dari pertama kali kami hidup sampai dewasa hingga membuat mental kami mati sebelum waktu kami mati? Ingin aku sumpahi kalian agar dapat karma nya. Tapi, takut do'a yang buruk akan kembali ke pada diri sendiri.
Saat ini aku yakin kalian sedang tertawa dan berusaha melakukan hal yang sama dengan orang lain. Tapi, apakah anda tidak sadar ada hukum dunia dan akhirat yang harus kalian pertanggung jawabkan nanti? Ah, aku sudah janji pada diriku sendiri untuk memperbaiki diri dan fokus menggapai mimpi.
"Shifa...! Cepat, kita berangkat sekarang nanti terlambat."
"Iya." Berpacu dengan waktu. Melupakan sejenak beban yang ada. Aku tidak boleh banyak pikiran, bikin badan kurus, penyakitan dan nanti cepat tua.
Bekerja seperti biasa, banyak karyawan lama yang tidapernah aku lihat lagi. Banyak pula karyawan baru yang masuk. Dia suka nempel mulu mengambil paksa pekerjaan aku, setelah itu dia jelekkan aku ke yang lainnya. Aku pakai headset walaupun tidak ada lagi nya biar mereka tau aku tidak mendengarnya.
"Namamu siapa?" Seseorang wanita berbadan gempal datang mendekati ku. Bau badannya seperti tidak mandi selama sebulan. Astaga, badannya sama sekali tidak enak di pandang. Bukan aku body shaming. Yang aku lihat, tingkat percaya dirinya sangat tinggi dan mengabaikan orang lain yang malu melihatnya. Aku memakai masker dia tidak merasa banyak orang terganggu dengan bau badannya. Ternyata dia orang Indonesia juga.
Aku menjauh dan dia mendekat lagi. Risih bangat. "Namaku shifa."
"Oh, shifa. Sudah lama kerja di sini?"
"Baru tiga bulan."
"Tinggal di mana?"
"Di kos."
"Iya, di mana?"
"Tidak jauh dari sini. Aku lupa tempatnya soalnya baru pindah," Setelah berbicara dia mengambil pekerjaan aku yang hampil selesai. Dia mengikutiku kemanapun aku pergi. Astaga dia tidak tau apa aja pekerjaannya.
Aku benci bangat sesuatu milikku di rampas tampa izin. Aku tidak pernah merampas milik orang lain. Setelah itu dia dengan
Aku hanya fokus kerja lagian ada CCTV yang memantau kami. Apa yang terjadi nanti aku juga yang salah berarti security tidak mengecek CCTV nya.
Khaizan, tolong aku!"
Astagfirullah, kenapa aku mengingat Khaizan yang sudah sebukan tidak pulang ke rumahnya. Tiba-tiba dada ini sesak, pikiran ini melayang membayangi fisiknya. Ada apa dengan ku? Aku benci posisi seperti ini.
Selama bekerja aku linglung, sudah tiga kali leader menegurku. Shifa, ayo semangat.
__ADS_1
***
Hari ini sudah dua bulan tidak bertemu dengannya. Setiap malam aku memikirkannya. Pada saat dirinya melayang di pelupuk mata ini di waktu yang sama kejadian satu tahun yang lalu terbayang lagi. Antara benci dan rindu. Aku benci saat situasi ini.
Malam hari duduk di blankon luar, memandangi jalanan kota, mobil, motor dan orang yang lalu lalang. Hatiku masih sepi.
Menonton Drakor menjadi teman hati yang sepi. Tidak ada angin tidak ada hujan air mata ini keluar tampa izin. Ah, ternyata penyebabnya aku sedang menonton drama percintaan yang sangat sedih. Sejak kapan shifa menjadi cengeng?
Ini bukan shifa yang dulu. Shifa yang aslinya pantang mengeluarkan air mata. Tetap kuat, kuat apapun yang terjadi dan suka menciptakan ide-ide yang cemerlang. Menulis menjadi tempat curhat ku. Sejak kapan aku pandai merangkai kata-kata? Ternyata suasana hatiku mendukung aku menulis kisah hidup ku yang pedih.
***
"Indri! Sebentar lagi puasa. Apa kamu tidak mau pulang?" Pagi-pagi indri sudah menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Sedangkan aku baru saja bangun, sebenarnya aku risih sama orang yang terlalu rapi merasa tidak bebas. Apakah indri risih juga dengan baju-baju kotorku? Walaupun kami sudah bersama selama dua tahun. Tapi, rasa risih masih ada di diri ini.
"Untuk apa? Aku sudah hafal karakter orang itu seperti apa. Dekat bau tai, jauh bau kembang. Kalau kita punya uang banyak orang yang mengaku saudara dan menginginkan uang kita juga. Kalau kita gak punya uang, nyamuk pun menjauh. Jadi, di sini aja sampai tampa batas waktu."
"Waduh, nampaknya kamu dendam banget sama mereka."
"Enggak dendam sih. Cuma ongkosnya mahal."
"Kita pergi ke suatu tempat, yuk!"
"Kemana? Jangan-jangan bertemu Khaizan lagi. Ini kan hari minggu."
"Membuka hati apa?"
"Gak ada, ayok! Ikut aku. Sebenatar aja, enggak jauh dari sini." Setelah membersihkan diri indri mengajakku ke suatu tempat.
"Bukit? Untuk apa kita ke sini?" Ternyata indri membawa ku ke sebuah perbukitan dan ada banyak pengunjung yang mau menanjak.
"Iya, bukit. Ayok, kita naik ke atas." Kami mendaki dengan penuh semangat. Aku sudah beberapa kali jatuh. Selama di Malaysia tidak pernah naik bukit lagi makanya tubuhku terasa lemas tak bertulang.
Dulu sejak usia 4 tahun sudah di biasakan naik dan turun gunung tujuannya ke kebun. Kalau ingat waktu itu, aku merasa orangtua ku sangat kejam. Tidak pernah memikirkan kesehatan dan keselamatan anak. Untung Allah masih baik, aku jarang sakit.
Dua jam lamanya sampai juga di puncak. Walaupun cuma dua jam, nampak pemandangan indah hulu langat. Lihat sekeliling banyak bangat pengunjungnya.
"Kita ngapain di sini?"
"Coba lihat sekeliling kita!" Melihat sekeliling banyak bangat pengunjung yang berbeda suku, bangsa, ras, dan agama.
"Mereka ada yang berfoto-foto, kencan, nyemil dan teriak kayak orang gila."
__ADS_1
"Bukan gila. Tapi, mereka melakukan itu untuk menghilangkan stres akibat putus cinta, pekerjaan, masalah dalam rumah tangga dan jomblo kesepian."
"Lalu dengan berteriak mereka bisa lega gitu?"
"Iya."
"Coba deh kita teriak siapa tau beban hidup ini sedikit terasa ringan."
AAAAAAAA
"Kencangin lagi keluarkan semua tenaganya."
AAAAAAAAAAA
"Lagi kurang kencang."
AAAAAAAAAAAAAAA
"Lebih kencang lagi, gini."
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
"Bagus. Ulangi lagi sampai benar-benar lega." Sudah puluhan kali melakukannya yang ada setiap pengunjung bingung melihat kami, ada yang tertawa, berbisik-bisik, dan kami di cap stres.
"Ngapain teriak kayak orang kesurupan?" Ucap salah satu pengunjung
"Gak ada apa-apa kok." Ujar indri
"Mending gabung di sini." Kami gabung bersama pengunjung lain. Ada cowok-cowok ganteng juga tapi mereka cuek bangat. Kebanyakan yang cool itu orangnya cuek. Lelaki seperti ini biasanya sopan dari pada yang cerewet ujungnya meleceh perempuan.
"Mau roti gak?"
"Gak usah. Kami udah nyemil."
"Ambil aja gak apa-apa gak ada racunnya kok."
"Kami punya cemilan juga."
Dari tadi yang perempuan mulu yang berbicara yang laki-lakinya tidak. Kalian membuat ku penasaran.
__ADS_1
Next