
Terbelenggu Cinta di Negeri Jiran 77
Mendengar kata-kataku yang super panjang membuat mertua indri terbelalak tidak terima dengan kata-kataku. Indri pun tertawa mendengarnya.
***
"Kamu tau dari mana? Apa indri sering menuduh yang tidak-tidak padamu? Dengar ya, saya ini yang melahirkan dan membesar kan anak saya sampai sekarang. Tentu saya keberatan dengan apa yang dia perbuat di rumah ini termasuk mengelola keuangan...
"Apa tante lupa? Kalian yang menginginkan indri menjadi istri dan menantu kalian bukan indri yang mau sama anak tante dan sekeluarga yang tidak jelas asal usul dan karakternya. Setelah tante bawa dia ke sini masa tante bilang dia numpang hidup. Nampak banget adab dan dan moral kalian itu Nol tidak ada sama sekali."
Dan, apa tante juga sudah lupa dengan kata-kataku tadi bahwa indri juga di lahirkan dan di besarkan oleh orangtuanya? Orangtuanya juga keberatan juga kalau tau putrinya di perlakukan seprti babu gratis." Lanjut ku memotong ucapan mertuanya indri.
Mertuanya indri melotot tajam dengan leher dan dada kembang kempis. Nampak banget urat lehernya mau kejepit gara-gara kata-kata aku. Sabar bangat indri ini. Aku aja dapat mertua seperti ini ditambah suami yang cuek aku tinggalkan
Sedangkan indri mengusap punggungku mungkin indri beri kode agar aku sabar.
"Anak perempuan yang sudah menikah tanggung jawab yang awalnya dari ayahnya di alihkan ke suaminya masa setelah anak tante nikahi kalian hitung-hitungan pada dia. Menang banyak tante dan sekeluarga. Kalau keberatan menafkahinya pulang kan saja dia ke rumah orangtua nya. Orangtua nya masih sanggup menafkahinya dan anak-anaknya yang anak tante pun belum tentu sanggup bertanggung jawab sesuai syari'at." Lanjut ku.
"Aku tau tante dan anak tante memperalat dalil yang tidak jelas sumbernya untuk melakukan diskriminasi terhadap menantu perempuan itu sudah sering terjadi tante. Tante semakin berumur seharusnya perbanyak ibadah bukan ikut campur ke rumah tangga anak."
Kalau masih tidak mengerti ya sudah. Langkah terbaik agar tante tidak rusuh sama kehadiran menantu suruh aja anak tante menikahi tante aja."
***
Setelah pulang dari rumah indri lagi-lagi fakta menemukan pernikahan itu tidak seindah di negeri dongeng. Apa yang terjadi pada keluarga ku dan indri dulu terjadi lagi pada temanku. Apa semua orang di Negeri ini seperti itu? Aneh banget manusia di Negara ini yang katanya menjunjung tinggi agama malah tidak beradab. Apa gunanya menikah. Tuhan, aku tidak akan mau menikah.
Tring
Khaizan calling
"Ternyata dari Khaizan."
"Hallo, zan! Ada apa? Tumben menghubungi ku?"
"Tidak ada apa-apa kok. Tadi, aku ke kontrakan kalian hanya ada Haura kamu kemana?"
"Aku ke tempat indri, zan. Ingat gak indri? Aku hanya pengen tau kabarnya aja setelah sekian lama gak bertemu."
"Indri yang dulu? Aku masih ingat kok. Satu-satunya sahabatmu ketika masih di Malaysia. Apa kamu sudah pulang?"
__ADS_1
"Ini sedang perjalanan pulang."
"Ok, aku tunggu. Aku ingin bicara padamu."
"Bicara apa?"
"Gak usah langsung ke rumah, kita ke taman mini aja."
"Masih jauh, Zan."
"Tidak apa-apa. Kamu kan masih lepas juga di sini."
"Iya sih."
***
Dufan, Ancol
Menurut alamat yang di berikan Khaizan, aku sudah berada di TMII yaitu Disneyland. Biasanya aku melihat bangunan seperti ini di serial kartun Disney asal Australia. Sekarang aku sudah melihat dengan mata dan kepala ku sendiri bangunannya sangat indah.
Menurut cerita orang, Disneyland ini biasanya di gunakan untuk taman sekolah anak-anak tapi sekarang sudah menjadi tempat pariwisata umum.
Apa maksudnya Khaizan mengajak aku ke sini? Apa Khaizan mau mengajakku berumah tangga? Tiba-tiba hatiku panas padahal cuaca di malam hari tidak panas.
Aku menoleh ternyata benar, "Tidak kok. Aku barus saja sampai lima detik yang lalu. Ada apa mengajak aku ke sini?"
"Mau ngajak kamu kencan aja. Tidak boleh, ya?"
"Boleh kok."
"Gimana? Kamu suka tempatnya?"
"Suka bangat. Baru aku tau jakarta ada bangunan seperti ini."
"Jadi, selama ini kamu hanya mondok di kontrakan aja sampai tidak tau di Jakarta ada Disneyland?"
"Enggak juga sih. Tapi, selama 4 tahun ini aku belum pernah ke sini."
"Ayo, kita beli tiket untuk masuk ke dalamnya. Jangan risau soal uang biar aku yang membayarnya."
__ADS_1
Aku hanya manut. Khaizan membeli 2 tiket mengeluarkan uang sebanyak 400 ribu rupiah. Mahal juga.
Kami masuk ada banyak wisata di sini. Karena hari sudah malam kami hanya mengelilingi tempat di sekitar Disneyland aja. Ada banyak pengunjung yang menaiki kincir angin dan wahana lainnya.
Mereka datang bersama keluarga besar untuk menikmati liburan di malam minggu.
"Fa! ayo kita makan di restoran tempat saji itu."
Kami makan Mie Gondangdia makanan khas kota Jakarta setelah itu lanjut beli minuman, cemilan dan lanjut mengelilingi area Dufan ini. Tidak sadar aku berada di Ancol ternyata ancol itu luas dan tempat wisatanya bagus banget.
"Fa, selama ini apa kamu tidak bosan menyendiri? Apa tidak butuh teman untuk di jadikan tempat bersandar gitu?" Jujur, kata-kata seperti ini sangat mengganggu pribadiku. Aku tidak suka pertanyaan seperti ini.
Berhenti dan duduk di bawah pohon pinus, "Aku rasa itu ruang privasi ku, Zan."
Khaizan menyusul duduk di dekatku, aku menjauh dan meletakkan minuman sebagai dinding pembatas kami, "Terus, kenapa? Apa aku tidak boleh bertanya seperti itu?"
"Tanya yang lainnya aja."
Khaizan menatapku dalam-dalam, "Ok, gini. Apa kamu yang mengajarkan Haura untuk selalu mendekatiku?"
"Apa Haura yang menceritakan nya padamu? Dia yang minta solusi aku katakan aja apa yang aku tau."
"Awalnya di tidak mengatakannya. Tapi, semakin ke sini dia makin mengetahui sesuatu yang berhubungan dengan ku. Aku rasa hanya kamu yang tau itu bukan orang lain. Makanya aku tanya kamu."
"Iya, aku bilang semuanya pada Haura."
"Kamu bilang semuanya? Termasuk tentang kita?"
"Ah, tidak kok. Itu kan privasi."
"Apa kamu menginginkan Aku sama Haura bersatu? Lalu, bagaimana dengan perasaan mu?"
Perasaan ku? Dulu, aku pernah menyukaimu, zan. Tapi, kamu menyakiti ku membuangku seperti sampah yang tidak berharga. Setelah aku berjuang mati-matian agar bisa bertahan hidup di Negara tetangga setelah kehidupan ku lebih baik, kamu pungut lagi seperti memungut barang bekas yang di jual dengan harga yang tidak seberapa.
Kamu datang seperti super hero melakukan apapun untuk mendapatkan maaf dariku. Melakukan apapun untuk membantu dan melindungi kami sampai titik terberat dalam hidup kami kamu mengetahuinya. Banyak rahasia kita berdua aku tidak mau mengingatnya lagi sampai tua.
Aku bertemu denganmu sama saja membuka luka lama yang sudah ku balut dengan perban dan menimbulkan bekas yang tidak akan hilang.
"Kok diam?"
__ADS_1
Aku tersentak. "Aku tidak apa-apa kalau temanku bahagia aku ikut bahagia. Ada apa denganmu?" Diri ini dilema, di satu sisi aku menginginkan dia, di satu sisi aku merasa rendah diri, di satu sisi lagi aku masih tidak terima perlakuan buruk nya di masa lalu padaku di tambah menikah dengannya dengan 1001 kisah aku malu mengingatnya lagi.
Bersambung