
Terbelenggu Cinta di Negeri Jiran 70
Shifa
"Yang benar kamu? Kalau iming-iming nya ada sudah pasti aku akan bantu kamu. Tapi, aku harus kerja dulu. Tenang aja aku tidak akan mendekati calon suamimu."
"Tenang aja. Malam ini juga kita ke sana."
***
Haura
Haura membawa kami ke kebun jeruk nama daerah ini. Tempat ini sangat bagus banyak perusahaan yang berdiri di bidang property. Aku kuliah bukan jurusan ekonomi manajemen tapi jurusan psikologi anak.
"Gak usah kerja di bidang sesuai jurusan mu. Kalau sudah sarjana S1 kita bisa kerja di kantor biasa."
"Tidak apa-apa." Haura menghubungi kekasihnya menurut pendengaran aku masa dia memasukkan aku di pabrik tekstil lagi. Tamat SMA juga sudah cukup.
"Tenang aja kamu kerja di bagian kantornya."
"Bagian keuangan?"
"Bukan. Ada nanti, ayoklah kita ke sana."
Tiba di tempat ternyata banyak banget lautan manusia yang memenuhi tempat ini. Yang di cari perusahaan hanya sebiji sampai lima biji. Bagusnya kita sendiri yang menciptakan lapangan pekerjaan.
Tidak perlu mengantri aku langsung ikut tes sama ribuan karyawan lainnya. Haura hanya membantuku sampai lolos di gerbang setelah itu aku harus berusaha sendiri. Aku kira akan diterima kerja tanpa tes ternyata sama aja dengan yang lainnya.
Tiba saatnya pengumuman nama-nama siapa yang di panggil. Ini sudah ke sepuluh kalinya namaku tak kunjung di panggil. Aku berdoa pada tuhan agar di terima bekerja hari ini juga.
"Shifa rahmadhini." Sebuah suara mengejutkan aku. Apa orang menyebut namaku? Ku lihat kiri kanan depan belakang tidak ada orang lain yang berdiri.
Aku berdiri, "Iya, saya."
"Selamat kalian yang nama-namanya di pangil besok sudah mulai bekerja. Silahkan baca peraturannya di nanti."
"Iya, terima kasih banyak, pak."
"Dan buat kalian yang namanya tidak di sebutkan tetap semangat, jangan pernah menyerah. Mungkin belum rezeki kalian. Sekali gagal coba lagi begitu saja terus hingga kalian menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Cukup sekian dari kami."
Kami pulang banyak dari mereka kecewa pada karena namanya tidak di sebutkan. Gimana tidak kecewa, semakin ke sini semakin susah mencari kerja harus memakai orang dalam juga.
"Gimana?" Di luar ternyata sudah ada Haura yang menungguku.
__ADS_1
"Alhamdulillah. Besok sudah bekerja."
"Apa kamu bisa memberi jajan adik-adik mu yang sepuluh itu?"
"Adikku sepuluh? Adikku cuma satu dan dia sudah dewasa."
"Dosen bimbingan yang bilang. Tentu aku tertawa kamu bilang adikmu cuma satu itu seumuran aku."
"Hehe, iya sih. Habis kesel banget sama dosen itu."
***
Khaizan
Hari hari pertama aku bekerja setiap hari pula Haura mengganggu ku masalah skripsi. Setiap waktu luang aku ke kosnya membantu apapun yang dia mau. Aku sama sekali tidak bebas dia juga masih suka malas-malasan.
"Ini mie buat mu."
"Mie? Harum banget."
***
"Gimana? Betah kerja di sini?"
Dalam keadaan serius mengejek penjualan terdengar suara yang tidak asing lagi di telinga. Suara itu sangat aku rindukan. Apa benar..."
"Iya, ini aku."
"Kamu ada si sini?" Entah aku senang entah sedih sejak kepergiannya mendadak, aku kelimpungan mencarinya kesana kemari ternyata sudah memiliki istri. Anaknya mungkin sudah besar mengingat sudah 5 tahun tidak bertemu.
"Akhirnya kita bertemu lagi setelah sekian lama kamu meninggalkan aku tanpa pesan di Malaysia. Kata orang jodoh pasti bertemu."
"Aku meninggalkanmu?" Tentu aku kaget dengan penuturannya, "Bukannya kamu yang menghilang tampa jejak? Aku pergi dari Malaysia memang sudah saatnya pergi. Dari awal aku sudah bilang mau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi."
"Aku pergi karena ada urusan di Jakarta dan Bandung. Pas pergi ke Malaysia ternyata kalian berdua sudah tidak ada. 5 tahun kita tidak bertemu, kamu apa kabar?"
"Kabar ku alhamdulillah lebih baik dari yang di Malaysia. Apa kamu kerja di sini?"
"Aku pemilik perusahaan ini baru di bangun dua tahun yang lalu."
Perusahaan ini milik Khaizan? Artinya khaizan lah seseorang yang selalu di bahas oleh Haura? Mereka berdua di jodohkan dan akan menikah beberapa bulan lagi? Bukan ka Khaizan sudah menikah?
"Aku di masukkan bekerja di sini oleh Haura."
"Iyakah? Apa kamu sudah menikah?"
__ADS_1
"Belum." Khaizan memilih duduk di sebelahku padahal tempat itu milik orang lain.
"Kenapa kamu duduk di situ?"
"Ini punyaku tentu aku memiliki hak duduk di sini." Banyak hal yang ingin aku tanya sama pria di samping aku ini tapi aku segan takut mengganggu privasinya.
"Cepat juga langkahmu ya. Bisa kuliah sambil kerja tamat sesuai target."
"Aku mengingat kata-katamu dulu jangan membuang waktu."
"Aku kira kamu sudah melupakan aku."
"Memangnya aku siapa nya kamu? Apa hutang itu sudah di bayar oleh royan?"
"Aku yakin kamu tidak melupakan sejarah mu dari tamat SMA sampai sekarang. Royan? Dia bisa membayarnya dengan cepat."
"Aku sudah melupakan nya."
"Aku yakin memorimu sangat kuat mengingatnya."
"Ku rasa kamu sedang gabut. Masa katanya pemilik perusahaan duduk di ruangan karyawan."
"Memangnya kenapa?"
"Tidak apa-apa kok."
Terbelenggu Cinta di Negeri Jiran 71
"Apa kamu yang memasukkan aku kerja di sini?" ujarku memandangi Khaizan yang sedang memainkan ponselnya.
"Ah, tidak kok. Kamu sendiri yang mau bekerja di sini," ujarnya membalas tatapanku.
Aku mengalihkan pandangan, "Kamu tau aku melamar di sini?"
"Taulah, aku mendengarnya dari Haura?" Apa mereka punya hubungan? Banyak yang aku tanya tapi aku tidak boleh gegabah. Jadi, aku akan bersikap seperti biasa.
"Haura siapa nya kamu?"
"Hanya teman biasa?" Aku tidak yakin hubungannya hanya teman biasa. Haura sudah banyak membicarakan soal pacarnya yang seorang pebisnis ganteng mirip seorang idol.
"Siapa pacar aslinya Haura?"
"Tidak tau. Kamu?" kenapa Khaizan sulit untuk jujur sama hubungan nya?
"Seperti dulu."
"Apa tidak kunjung laku?"
__ADS_1
"Maksudnya?"
Bersambung...