TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN

TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN
POV Meyra


__ADS_3

POV Meyra


Sewaktu sekolah aku termasuk cuek sama keadaan sekitarku termasuk di sekolah. Aku hanya melakukan apapun yang harus aku lakukan menurut aturan aku sendiri.


Dari kecil hidup bersama orangtua tunggal, karena orangtua ku bercerai. Di usiaku yang ke lima belas tahun ibuku menikah lagi. Ibuku di bawa pergi jauh oleh suami barunya. Ku tinggal bersama nenek. Ayahku ada tapi sibuk juga dengan kelurga baru. Mana pernah pedulikan aku. Aku merasa dunia juga tidak memihakku.


Ibuku tidak di bolehkan bertemu dengan aku anaknya oleh suami barunya. Brengsek lelaki itu. Semua lelaki brengsek.


Tapi, masuk SMA aku melihat ada guru lelaki yang bening. Awalnya aku cuek aja. Tapi, lama-lama aku merasakan ada getaran aneh. Ah, mungkin hanya cinta monyet anak SMA.


ternyata dia merasakan hal yang sama. Dia menghubungi ku lewat aplikasi logo biru. Ternyata dia ingin berteman dengan ku. Kami dekat, tiba-tiba semangat belajar ku meningkat. Aku sering menjadi siswa berprestasi.


Kami berpacaran sampai tamat sekolah. Aku mematikan stigma bahwa tidak semua lelaki itu brengsek.


Semasa sekolah aku tidak terlalu dekat dengan teman-teman. Hanya aku berprestasi aja mereka dekat ada juga yang tidak mengajakku ngobrol sama sekali itu lah dia Shifa rahmadini.


Aku tidak tau kehidupan nya seperti apa, aku belum bisa berpikir jauh saat itu. Aku membaca diary nya shifa ternyata sedih banget hidupnya dari kecil sampai sekarang selalu di bedakan sama adik laki-lakinya.


Di rumah di bully, di sekolah sering di bully, di luar rumah juga di bully. Aku juga sering membuatnya di bully satu kelas. Sering di jauhi entah apa salahnya. Sering di bully siswa populer. Satu aja dari mereka yang membencinya satu kelas ikut membenci nya.


Sudah cukup


Pada saat tamat SMA. Pak Daffa yang di sekolah kami panggil Pak di luar kami panggil nama aja. Daffa menyuruhku mengajak Shifa mendaftar kuliah di UNJA Jambi kasihan gak punya teman katanya. Ah, jiwa keguruannya membujuk ku bersama Shifa sampai tamat.


Aku ajak dia sayangnya dia tidak mau, kurang minat, motivasi dan menghargai diri sendiri. Kurang pula di hargai sama orangtua sendiri.


Akhirnya kami sampai di pusat kota Jambi. Bolak balik aku ngaja daftar sayangnya tidak mau. Lebih memilih bekerja yang gajinya tidak seberapa. Parahnya pula ingin mengikuti ajakan pria asing yang tidak tau asal usulnya.


Menurut ceritanya lelaki itu masih orang sumatra. Dia pun ragu mau kuliah tidak ada biaya. Mau kerja tidak ada skill dan gaji tidak seberapa. Di satu sisi ada orang yang berjanji akan membantunya bekerja di luar negeri.

__ADS_1


Aku dan Daffa sudah berbicara pada lelaki itu, kami minta untuk membantu dan menjaga shifa sampai mendapat kan pekerjaan yang layak. Dia setuju aja.


Apa aku percaya sama kata-katanya? Aku bilang ke Daffa aja tidak percaya. Shifa apalagi.


Sebelum membuat paspor aku sudah membujuk nya agar jangan pergi. Dia antara yakin dengan tidak. Ujungnya saya kalah dia tetap pergi. Daffa pun menyayangi sifat nya. Daffa kan guru kami tapi Shifa tidak ada setannya sama sekali. Padahal guru itu orangtua kedua setelah orangtua kandung.


"Daffa! Gimana nih. Shifa tetap pergi."


"Kamu sudah membilang nya baik-baik kan?"


"Aku sudah bilang apapun yang kamu bilang."


"Kalau dia sudah niat, biarkan saja. Kalau tidak betah bisa pulang nanti."


Akhirnya kami mengalah, Daffa sudah pesan tiket lewat temannya. Shifa tinggal membayar nya nanti. Aku selalu bilang untuk menjaga diri sebab hidup di sana tidaklah se indah bayangan. Apalgi tidak punya sanak saudara. Saudara pun belum tentu mau membantu.


"Apa kabar, Shifa muridku waktu SMA dulu?Apa sudah sampai. Apa dia baik-baik aja."


"Shifa sudah sampai, dia baik-bai aja. Ini potretnya."


"Alhamdulillah. Kamu yang membawanya ke sana, kamu harus jaga dirinya baik-baik."


"Tenang aja."


"Jangan tenang-tenang aja buktikan dong."


"Iya. Coba lihat aku apa ada nampak kebohongan di wajahku?"


"Ok."

__ADS_1


***


POV Haizan


Dulu sebelum ke malaysia, aku sempat mendaftar dan tes untuk kuliah tapi tidak lulus. Sudah empat universitas ternama yang ku datangi semua nya zonk.


Aku frustasi mau pulang malu, aku melamar kerja ke sana kemari untung ada satu yang menerimaku di perusahaan elektronik. Satu tahun bekerja aku di mutasi ke Malaysia.


Aku sih tidak apa-apa yang penting itu tidak merugikan aku. Aku pindah, pergaulan nya di sini sangat bebas, biasa aja orang mau kumpul kebo tidak ada yang melarang.


Tahun baru aku di bawa ke suatu tempat oleh-teman. Mereka kebawa pasangannya masing-masing. Mereka mabuk dan melakukan hal yang terlarang yang tidak pernah ku bayangi sebelumnya. Aku cuek terhadap itu.


Aku jadi terpengaruh mungkin aku masih sangat muda waktu itu. Kehidupanku perlahan berubah. Ayah dan ibu mewanti-wantiku selama disini. Seminggu aja tidak komunikasi ibu sudah pusing.


Selama duduk di sini alhamdulillah aku tidak pernah berurusan dengan police. Beda dengan teman-teman banyak yang tertangkap karena menurut police, mereka yang tidak memiliki dokumen lengkap akan di namai pendatang haram.


Hingga aku mengenal cinta dan pacaran. Menurut mereka tidak etis rasanya kalau tidak mencicipi tubuhnya. Mereka sering menceritakan itu. Aku jadi, kepo bagaimana rasanya. Hingga di tahun kedua aku di malaysia.


Sering berpacaran ternyata mereka sudah tidak suci lagi. Ada yang masih bersih, ngomong nya tidak nyambung.


Hingga aku mengenal seseorang gadis di sosial media. Dia yang minta pertemanan terlebih dahulu dia pula yang tidak tau mungkin asal add aja.


Kami sering berkomunikasi n kosa katanya nyambung tidak bertele-tele. Dia baru lulus SMA, mau kuliah tidak ada biaya. Aku lihat dia sedang tidak baik-baik aja. Malas pula kepo urusan orang.


Aku tawari kesini. Awalnya dia ragu tapi setelah pikir-pikir tidak ada jalan lain dia ingin ke malaysia aku bisa saja membantunya. Tentu itu tidak gratis, kalau berhasil masuk ke malaysia nanti sampai dapat pekerjaan yang layak. Aku anggap hutang budi. Dia harus bayar karena bagiku sangat tinggi nilai yang harus di bayar karena ini menyangkut masa depan nya.


Aku sih hanya meng iming-iming aja dengan pekerjaan yang bagus dan gaji yang besar bisa menabung untuk kuliah. Aku juga sedang menyiapkan dana untuk masa depan. Sangat mudah membujuk orang yang sedang pusing.


Next

__ADS_1


__ADS_2