TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN

TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN
Polemik hidup di Malaysia


__ADS_3

Terbelenggu cinta di Negeri Jiran 31


POV Author


Setelah membersihkan diri, berselancar di dunia Maya. Ada beberapa notifikasi di aplikasi logo biru menandakan Shifa. Notifikasi nya membuat Shifa shcok. Teman yang bersamanya selama di kampung halaman meninggal dunia karena kecelakaan. 


Innalillahi wainnailaihi Raji'un


Meyra meninggal dalam keadaan tragis. Dengan kepala pecah dan tangan kananya putus. Sedangkan motor yang di kendarainya terpentang jauh menabrak rumah warga. Ingat gak Meyra? Tentu masih ingat sama teman shifa yang satu ini.


Sejak kapan Meyra bisa bawa motor? Apa baru belajar lalu kecelakaan yang meninggal? Entahlah hanya dia dan tuhannya yang tau. Tiba-tiba air mata lolos membanjiri pipinya. Semoga amal ibadahmu di terima di sisi-Nya Meyra. Tenanglah di surga.


Pak Daffa sama terpukulnya dengan orangtua Meyra. Hubungan mereka sudah sangat lama dari SMP sudah di restui keluarga kedua belah pihak. Tapi, tuhan tidak menjodohkannya di dunia ini.


"Shifa ... Ayok kita makan." Shifa menghapus air matanya dalam keadaan sembab keluar makan bersama.


Meyra sedang menyiapkan makanan walaupun hanya berdua tradisi makan bersama dari kampung tetap di bawa merantau. "Ada apa dengan mu? Gara-gara Khaizan?"


Duduk dan mengambil makanan. "Jangan sebut dia lagi. Aku mewek karena teman akrabku di kampung sudah meninggal karena kecelakaan."


"Innalillahi wainnailaihi Raji'un. Turut berduka cita, ya."


" Iya."


"Gimana sama Pekerjaan kita? Apa kita di pecat?"


"Tentu saja. Di Malaysia ini lebih kejam. Kalau kita libur tanpa sebab kita di pecat."


"Yah, nyari kerjaan baru lagi."


"Tapi, tidak usah khawatir. Kita sudah menerima gaji. 5 hari kerja itu ikhlaskan saja. Aku sudah cari pekerjaan baru lebih bagus dan lebih tinggi gajinya dari pada kerja di toko biasa."

__ADS_1


"Di mana?"


"Ada deh, nanti biar aku bantu kamu masuk ke sana."


***


POV shifa


Seharian libur hanya merebahkan diri di kamar. Badanku tidak sakit tapi hati dan pikiran yang sakit. Entah apa yang aku pikirkan, ramainya orang yang lalu lalang tidak membuatku perasaanku ramai. Perasaan ini tetap sendu dan sepi.


Apa kabar orang di rumah? Entahlah, kontak mereka sudah ku blokir hanya mengirim 10 persen gaji ku walau bagaimanapun, mereka berhak mencicipi jerih payahku.


Aku jani pada diriku sendiri dan Allah untuk bekerja lebih keras lagi sesuai kemampuan agar aku memiliki modal untuk buka usaha dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi agar mendapatkan kehidupan dan pasangan yang sama berpendidikan tinggi.


"Shifa ... Sudah siap?" 


"Sudah." Berangkat ke lokasi seperti yang indri tunjukkan. Kilang? Apa kami akan bekerja di kilang?


"Iya, gimana? Kamu mau gak, kerja di kilang?"


"Tapi, kerjanya apa?"


"Belum tau. Ayok! Kita lihat dulu!"


"Bukannya kerja di kilang ini perlu pendaftaran sebelum ke Malaysia? Yang kerja di kilang kan TKI resmi untuk masuk juga butuh biaya yang banyak setelah bekerja potong gaji lagi selama beberapa bulan?"


"Iya, sih. Tapi, tidak semuanya. Menurut teman aku yang kerja di kilang dia aja masuk bukan lewat jalur TKI.


"Kamu yakin?"


"Kita coba aja." Masuk, berbicara pada pihak HRD ada seseorang yang membantu kami bekerja di sini mungkin teman lamanya indri. Indri orangnya ramah memiliki aura sendiri membuat orang nyaman bergaul dengan nya. Indri selalu memudahkan temannya untuk mendapatkan pekerjaan walaupun dia tidak yakin temannya akan ingat jasanya entah. Tidak, dia tidak peduli yang penting dia berbuat baik pada orang lain. Ya, ujungnya dia juga mendapatkan teman yang juga memudahkan nya mendapatkan pekerjaan.

__ADS_1


Dua hari lagi kami bekerja ternyata tidak terhitung jumlah karyawan di sini. Mereka wajahnya jutek-jutek. Dadaku merasa di tekan batu besar, nafasku sesak takut tidak bisa bekerja dengan baik. Ada pekerjaan sendiri untuk orang baru. 


Pekerjaannya membuat santan kelapa di kemas dengan teknologi dan di kasih pengawet agar tahan lama. Di bungkus sebagus mungkin dengan kotak, di jual di supermarket dan pusat perbelanjaan lainnya dan di ekspor ke luar Negeri.


"Ulangi lagi, belum oke." Pengawas kilang menegur kami setiap sekali setiap jam. Wajahnya tidak ramah sama sekali masam bangat. Rasanya ingin menelan kami hidup- hidup.


"Iya, puan."


"Ini! Apa-apaan pekerjaannya seperti ini awak/kamu bisa kerja apa tidak?" PRANK. Leader menendang dan melempar barang yang kami kerjakan, karyawan lain hanya melirik. Ternyata keras banagt kerja di kilang. Aku kaget dan schok di teriaki orangtua udah biasa tapi di teriaki orang lain rasanya sakit bangat.


"Iya, puan." Pengawasnya mengelilingi karyawan. Aku dan indri fokus mengerjakan pekerjaan yang selalu salah di mata orang. Bekerja sudah seperti ninja, seluruh tubuh di balut baju putih dan masker. Bayangkan saja seperti petugas berseragam putih di rumah sakit menangani pasien terinfeksi virus covid 19.


"Indri...! Kok judes bangat dia?"


"Sudah lah, memang seperti itu leader di kilang. Jadi, kamu harus siapkan mental jangan jadikan beban."


"Aku mau ke toilet dulu."


"Izin dulu sama leader."


"Iya."  Minta izin sama pengawas, mereka hanya memberi waktu lima menit untuk ke toilet. Walaupun mereka berbicara memakai bahasa Melayu kadang pendengaranku terbalik tapi masih bisa di mengerti karena aku tinggal di jambi yang desanya mayoritas berbicara memakai bahasa melayu dan suka nonton film Malaysia juga. 


Tiba di toilet astagfirullahal'azim. Kok, banyak bangat orang-orang asing di sini. Sepertinya mereka berasal dari india. Aku sering nonton film Bollywood seperti ini orang india. Menurut cerita mereka bukan orang india tapi orang bangl*desh.


Mereka ini yang suka mengganggu TKW asal indonesia. Menghamilinya dan membuangnya begitu saja. Mereka para tulang punggung keluarga meninggalkan kampung halaman demi anak dan istri. Tapi, tiba di perantauan kebanyakan mereka berulah dan suka melampiaskan hasrat biolongisnya pada perempuan indonesia dengan iming-iming bayaran yang tidak seberapa.


Perempuan indonesia yang di Negara ini kebanyakan menjadi tulang punggung keluarga. Memiliki suami yang tidak bertanggung jawab, ekonomi yang pas-pasan jika bersyukur sama keadaan ekonomi yang seadanya kemungkinan anak terancam tidak sekolah sampai SMA kasihan kan anak-anak.


Para gadis  yang bekerja di sini demi masa depan karena orangtua yang kurang mampu menghidupi keluarga, mereka harus terjun kelapangan demi memenuhi kebutuhan hidup. Para janda yang berjuang menghidupi dirinya dan anak-anaknya karena zaman sekarang jarang ada wali yang bertanggung jawab terhadap dirinya dan anak-anak sesuai syari'at. Ada yang bertanggung jawab tapi mengabaikan istri dan anak. Para perempuan harus berjuang tapi setelah itu mereka jatuh ke jurang hitam tidak semuanya sih hanya sebagian aja.


Di kampung halaman tidak ada pekerjaan, di sinilah pekerjaan yang gajinya cukup untuk biaya hidup sebulan bagi yang hemat bisa menabung. Banyak juga mereka yang beruntung bisa membangun rumah pribadi dan menyekolahkan anak sampai sarjana. Betapa hebatnya perjuagan para orangtua dan seorang ibu tapi nyatanya mereka masih di pandang sebelah mata. 

__ADS_1


Ah, di balik serial lucu upin ipin ada kisah hidup manusia yang berdarah-darah.


__ADS_2