TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN

TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN
Pekerjaan baru suasana baru


__ADS_3

Terbelenggu Cinta di Negeri Jiran 62


Sebulan berlalu tidak ada tanda-tanda orang di restoran akan mengirimkan gaji kepada kami. Menurut cerita, restoran itu pelanggannya mulai berkurang, karyawannya banyak yang berhenti, banyak konflik karena perselingkuhan dan kasus hukum mereka sama orang lain dan satu per satu toko tutup. Lihat, begitu mudah usaha yang sudah susah payah di bangun dari Nol hancur karena ulah yang tidak beradab.


Bos dan karyawan saling membutuhkan satu sama lain. Karena bos, karyawan bisa bekerja dan mendapatkan uang untuk menghidupi keluarga. Karena karyawan, perusahaan bisa maju karena karyawan dan bos ikut menantu memajukan perusahaan itu. Bos punya hak untuk menegur dan memarahi karyawan apabila karyawan salah tapi karyawan juga punya hak untuk membela diri apabila karyawan lain dan bos memperlakukannya dengan tidak manusiawi.


"Gimana lagi kita melamar pekerjaan, Fa!" indri sudah resah karena tak kunjung menerima itikat baik dari bos menunggu gaji yang tidak cair. Sedangkan Khaizan, dulu sempat ingin mengganti gaji kami tapi aku tolak karena itu semua bukan kesalahan dia.


"Kita coba lamar lagi di kilang lama."


"Memangnya bisa?"


"Coba aja." Tidak mau termenung terlalu lama kami berangkat ke kilang lama. Biasanya perusahaan tidak mau menerima mantan karyawan lama tapi mendengar cerita indri kemungkinan masih bisa masuk. Ini kami sembunyikan dari Khaizan, aku tidak mau merepotkannya lagi.


Resah sudah tiga kali kami melamar pekerjaan dengan 3 orang yang berbeda Alhamdulillah di terima juga.


"Akhirnya kita bekerja lagi di sini, ndri. Kita usahakan tidak berhenti lagi. Susah mencari pekerjaan yang pas."


"Iya, Fa."


"Kalian kerja di sini lagi?" Suara itu tidak asing di telinga. Sudah 4 minggu kami tidak bertemu.


Kami menoleh, Khaizan berdiri dengan tegas, berwibawa dan telapak tangan di masukkan ke dalam kantong celana. "Iya, Zan. Kamu masih betah aja di sini," ujar indri.


"Iya, aku sih tidak mau komen sama pekerjaan dan orang-orang juga. Tidak di bawa perasaan dan tidak pula mendengar kata-kata orang."


"Iya, Zan. Apa kamu membantu kami lagi?"


"Iya, aku habis duel sama pihak HRD untuk kembali memasukkan kalian. Sekarang fokuslah bekerja jangan pikirkan macam-macam."


"Iya, terimakasih banyak, Zan."


"Zan ...! Sekali lagi, terimakasih banyak sudah membantu kami."


"Gitu dong, sekarang kalian sudah semakin dewasa toh."


Lagi lagi Khaizan yang membantu kami. Aku rasa sudah banyak hutang budi kami pada dia. Seandainya tidak ada dia, apa kami masih berada di malaysia dengan selamat? Entahlah sulit aku tebak. Hanya karena kesalahannya di masa lalu yang menurutku amat fatal membuat mata hatiku buta sama kebaikan yang dia buat. Duh, hati, jangan sampai membuat tubuhku terkena dengan kebaikannya.


"Ayo, Fa! Malah ngelamun." aku tersentak indri sudah menarik tanganku sedangkan Khaizan bengong melihatku.

__ADS_1


"Iya."


"Ciee, sudah mulai memikirkan Khaizan kayaknya."


"Apaan sih."


***


Malam berlalu aku pikiranku melayang pada sosok Khaizan. Indri melihat aku linglung tidak tau apa yang aku pikirkan. Aku ambil ponsel dan stalking media sosial Khaizan benar-benar hampir menyerupai mantan indol EXO Kris wu. Menonton dramanya kris wu menjadi rutinitas ku menjelang tidur.


Selebritis yang satu ini hampir mendekati sempurna. Visualnya tajam banget, wajahnya ganteng, dingin ciri khas karakter tokoh di komik, dingin, misterius, pekerja keras, multitalenta dan karir sedang berada di puncak.


[Udah tidur] Sebuah notifikasi masuk ternyata dari Khaizan. Pas aku sedang memikirkannya eh dia muncul.


[Belum]


[Tidurlah. Besok masuk kerja]


Biasanya aku kaku membalas pesannya, sekarang tidak lagi. Apa aku sudah bisa memaafkan nya dengan ikhlas dan tidak mengingat peristiwa kelam itu lagi? Sayangnya aku seperti depresi kejadian di masa lalu terbayang lagi membuat emosi ini meledak.


Pagi-pagi bangun lebih awal dari biasanya. Kata orang kunci sukses adalah dengan bangun lebih pagi agar rezeki tidak dipatuk ayam.


Berangkat bersama yang jarang kami lakukan. Kali ini kami akan selalu pergi dan pulang berdua agar malam tidak sendirian lagi naik angkutan umum. Walaupun banyak penumpangnya, banyak yanh tidak aman.


"Ada apa?" Baru kali ini aku menyapanya duluan.


"Mau memastikan kalian aja tiba dengan selamat."


"Tidak usah melakukan apa yang tidak aku suka. Aku bukan anak kecil yang butuh perhatian."


"Tidak apa-apa kok. Indri, gimana? Betah kerja di sini lagi?"


"Di betah kan aja. Kedamaian hati itu kita sendiri yang bikin."


"Baik lah. Mudahan betah beneran, ya."


"Amiin."


***

__ADS_1


Karyawan yang datang lebih sedikit dari biasanya. Kebiasaan mereka suka masuk dan berhenti ada yang di sengaja ada yang tidak.


Aku harus banyak-banyak mengambil lembur agar bisa mengumpulkan uang lebih banyak bisa membayar hutang pada Khaizan. Aku tidak mau membebankan pada ibu dan royan karena ada ayah yang serakah akan uang ibu dan anaknya.


Toh, aku juga anaknya ibu, aku juga wajib berbakti pad ibu seperti apapun orangnya mereka tetap keluarga ku.


"Hei, jangan ngelamun." Aku tersentak kaget ada tangan yang menepuk punggung ku dari belakang. Menoleh ternyata Khaizan. Sejak kapan lelaki ini ada di belakang ku? Bukankah pekerjaannya di lantai 4?


"Sejak kapan kamu di sini?"


"Baru kok. Awalnya aku ingin keluar, tapi melihat kamu melamun, aku singgah dulu."


"Oh." Aku melanjutkan mengerjakan pekerjaan ku yang tertunda. Mengambil dus yang berisi santan yang sudah di bungkus meletakkannya di mesin produksi.


"Eh, hati-hati dong. Nanti barangnya rusak. Gak nerima gaji kamu nanti." Khaizan merapikan pekerjaan aku.


"Aku sudah berusaha melakukan yang terbaik." Setelah itu aku duduk sambil melakukan pekerjaan yang lain. Tapi, Khaizan mengikutiku dan memperhatikan apa yang akua lakukan. Aku tidak suka di perhatikan seperti ini.


"Biar aku ajarkan aku menyusun barang dengan baik agar tidak ada yang lecet sedikitpun. Ini harus di terapkan sampai melakukan pekerjaan apapun nanti. Anggap aja sedang belajar mendisiplinkan diri." Aku diamkan aja membiarkan Khaizan mengoceh sendiri. Dari jauh indri melihat kami dengan wajah yang sulit aku perhatikan. Apa gadis itu cemburu?


"Hei! Ngelamun lagi." Khaizan menepuk pundak ku reflek aku menggerakkan kursi tempat ku duduk dan menimpa kaki Khaizan. Khaizan mengernyit kesakitan.


"Aduh, pelan-pelan dong kena kaki aku nih." Leader datang mengawasi pekerjaan kami. Aku biarkan kursi dudukku menginjak kakinya Khaizan sampai leader itu pergi.


"Fa, angkat kursimu! berat, kakiku sakit!" Aku lepaskan kursinya wajahnya Khaizan memerah.


"Fa, berapa berat badan mu?" Khaizan berdiri memegang bahuku. Giliran bahuku pula yang sakit.


"Lepaskan tanganku, Zan! Sakit nih," Melepaskan tangan Khaizan membuat dia hampir terjatuh.


Khaizan berdiri. "Antarkan aku ke atas."


"Pergi aja sendiri.


"Ada apa bro? Kok kakinya pincang gitu?" Pria itu Rizki? Apa rizki kerja di sini?


"Gue pinjam bahu lo dulu, Ki."


"Kenapa kaki lo bagini? Apa jatuh dari tangga? Dari lift? Atau dari naik motor?"

__ADS_1


"Nanti gue ceritain." Rizki membopong tubuhnya Khaizan menaiki lift ke ruang kerjanya.


Bersambung....


__ADS_2