TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN

TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN
Jangan pernah menyerah


__ADS_3

Terbelenggu Cinta di Negeri Jiran 69


Shifa



Hidup di Jakarta tidak seindah di sinetron. Bisa bermain ke sana kemari. Di kota besar tidak aman untuk gadis polos seperti ku. Banyak kejahatan yang beredar di mana-mana. Mereka sekarang seperti di lindungi oleh hukum yang tumpul ke atas tajam ke bawah.


Kalau terjadi apa-apa sama perempuan, anak-anak dan rakyat menengah kebawah di mana korban lah yang di salahkan dan menjadi tersangka. Kadang ingin aku pindah ke warga negaraan tapi di negara mana? Agar aku mendapatkan hukum yang adil? Ah, lupakan itu aku harus lakukan pekerjaan ku menurut jalanku sendiri.


***


Haura



"Namaku Haura. Namamu siapa?" ujar seorang gadis sepertinya baru lulus SMA. Gadis itu mengulurkan tangannya padaku. Aku terpana melihat kecantikannya.


Membalas salam dia, "Namaku shifa. Apa kamu mahasiswi baru di sini?"


"Iya, kamu juga?"


"Iya."


"Ayo, kita masuk bareng. Sepertinya kamu satu jurusan dan satu lokal denganku."


"Oh, ya? Di mana kami tau?"


"Aku pernah melihatmu sebelumnya."


Haura menjadi temanku satu-satu nya di kampus. Haura anak orang berada tapi dia tidak sombong dan gampang bergaul dengan siapapun. Dia juga royal dan perhatian sama teman nya. Sering membawa makanannya untukku.


Setiap harinya dia bercerita tentang cowoknya yang sekarang masih berada di Negeri Jiran dia genteng banget, baik hati, pekerja keras dan dalam waktu dekat akan pulang karena ingin melanjutkan pendidikannya yang sempat tertunda. Aku hanya senyum aja seperti nya gadis ini mencintai cowoknya.


"Di mana kamu kenal dia?"


"Kami di jodohkan beberapa bulan yang baru. Ibunya itu teman akrab ibu aku datang ke rumah untuk mencari calon istri untuk anaknya. Awalnya aku menolak. Tapi, setelah melihat foto nya ternyata ganteng banget seperti idol K-pop, aku langsung menerimanya," Ujar haura dengan wajah yang berbunga-bunga. Itu menjadi pusat perhatian mahasiswa lain."


"Lihat sekelilingnya memperhatikan kamu."

__ADS_1


"Biarin aja."


"Apa kalian sering berkomunikasi?"


"Jarang sih katanya dia sibuk banget." Mendengar ciri-ciri fisik yang di bicarakan Haura jadi ingat Khaizan. Apa dia orangnya? Ah, tidak mungkin, Khaizan kan sudah menikah. Ingin aku melihat fotonya tapi segan.


Kuliah sambil kerja sangat melelahkan hingga 4 tahun lamanya saatnya aku KKN di desa yang terpencil banget.


Mereka banyak yang tidak bisa mengurus diri sendiri. Rumah kotor, piring di mana-mana dan makan pun seadanya. Aku memilih memasak apa yang aku bisa hingga mereka nebeng ke aku. Ada yang menilai masakan aku enak ada juga yang jijik. Aku sih bodo amat.


"Kalau gak mau masakan aku jangan makan. Sudah gratis mencela lagi."


"Kamu ini sombong pula. Fa." Tau aku bisa memasak mereka suruh aku jadi tukang masak mereka dengan syarat mereka mau membersihkan rumah dan seisinya. Mereka harus membeli bahan makanan sesuai selera mereka. Untung aku bisa memasak.


Tiba saatnya menyusun skripsi. Aku pilih judul yang paling mudah.


Karena aku suka membaca buku dan menulis cerita tidak susah bagiku untuk menyelesaikannya di mana menyusun skripsi menjadi momok yang paling menakutkan bagi sebagian mahasiswa.


Hingga saatnya aku menyerahkan skripsi pada dosen. Sialnya dosennya mempermainkan aku. Setiap kali aku ke kantor, dosen bimbingan itu tidak ada. Hingga besok dia tidak membaca skripsi ku malah melempar ke muka ku.


"Salah semuanya, ulangi lagi."


"Gimana?"


"Di tolak."


"Coba kita berikan pada dosen lain." Aku menerima saran Haura mencoba memeriksa ke dosen lain ternyata tidak ada yang salah pada skripsi kami. Kami mencari dosen itu lagi ternyata sudah tidak ada.


Hingga minggu kedua dosen sombong itu tidak kunjung mau menerima skripsi ku. Aku harus lulus tahun ini juga sayang banget mengulang selama semester lagi uang semester tetap di bayar mahal keuanganku sudah menipis kerjaan sudah tidak ada.


"Haura! Kita susul aja dosen sombong itu ke rumahnya."


"Gila kamu ya, aku tidak mau."


"Kalau tidak mau gimana caranya kita mau lulus? Mau mengulang satu semester lagi?"


"Kalau skripsi kita di tolak oleh satu dosen berarti sudah di tolak. Kamu kok yakin banget kalau skripsi mu itu benar?"


"Kata dosen yang lainnya skripsi kita sudah benar masa sama dosen bimbingan dia Bilang salah?"

__ADS_1


"Ayo kita minta bantu pada dosen yang menilai skripsi mu benar itu."


"Nah, gitu dong." Setiap pagi, siang, sore dan malam tidak kami temui dosen itu entah kemana mereka. Apa dosen jago mempermainkan mahasiswa? Apa mereka tidak berpikir orangtua mahasiswa yang membayar biaya sekolah anaknya yang segitu besar masa mau lulus di permainkan?


Sayangnya Haura menyerah dan memilih mengulang satu semester lagi setelah satu bulan perjuangan ini tidak ada hasilnya.


Aku nekat berjuang sendiri mengintip jam berapa saja dosen itu datang di tolak lagi dan mengikuti dosen itu ke rumahnya yang tidak dekat. Aku sudah tiba di bandung dan melamar pekerjaan sebagai Asisten rumah tangga gratis pula.


Aku lakukan apa yang istrinya mau. Mencuci pakaian kecuali pakaian dalaman entah ada bakteri apa pada ********** aku tidak mau harga diriku ku gadaikan lagi walaupun tidak melakukannya demi skripsi.


Mencuci piring, menyapu, ngepel dan baby sitter untuk anaknya. Dosen itu diam aja melihat aku. Tapi, setiap dosen itu pulang kesempatan emas untuk memperbaiki skripsi dan menyerahkannya di tolak lagi.


Ada cerita dosen ini mau ke luar negri. Oh, my god! Tidak boleh terjadi aku melakukan segala cara untuk mendapatkan nilai dan tanda tangan dosen.


Aku minta ibu untuk mengirimkan sayur-sayuran dan mengajak anaknya main. Untung anaknya mau sama aku karena orang yang jarang di rumah sibuk sama pekerjaan nya masing-masing.


Hingga sampai dini hari aku merevisi skripsi ku salah lagi. Nekat aku membicarakannya pada istri dan anaknya ku ceritakan pengalamanku sebelum sampai menjadi mahasiswa mengarang cerita yang tidak masuk akal.


"Bu!" ujarku mendatangi mbak mira istrinya dosen sedang menonton di ruang tamu. "Aku ini orang susah. Adikku sepuluh masih kecil-kecil pula. Ayahku hanya buruh tani harian yang upahnya tidak menentu. Adik-adik ku tidak pernah jajan di sekolah mereka sering ngiler melihat temannya jajan. Aku juga bekerja paruh waktu untuk membayar uang kuliah, kos, kebutuhan hidup dan mengirimkannya ke kampung halaman untuk kebutuhan sehari-hari. Aku nekat ke sini agar cepat lulus dan membantu adik-adikku."


Istrinya yang sempat mendiamkan aku meneteskan air mata nya dan minta pada suaminya untuk menerima skripsi ku. Entah dia tau aku mengarang cerita entah tidak. Dengan terpaksa dosen mau memberi nilai dan tanda tangan. Tidak aku lihat nilainya langsung sujud syukur dan mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya.


**


Bulan ini juga aku sidang skripsi tidak ada teman yang datang. Hanya teman sama-sama melakukan sidang. Aku sudah seperti terdakwa dan melakukan wawancara juga. Gugup sudah pasti berdo'a agar di lancarkan semuanya alhamdulillah lulus dan bulan ini juga aku wisuda.


Sedangkan Haura menangis melihat keberhasilan aku dia minta bantu agar bisa lulus sidang.


"Selamat ya, shifa. Akhirnya kamu wisuda juga. Kalau tau tahun ini kami wisuda aku akan ikut kemana pun kamu pergi. Mana pacarku hari ini wisuda juga."


"Kamu itu aku lihat bukannya gak mampu. Tapi, malas-malasan mengurusnya, cepat lelah dan menyerah. Dosen itu di melihat usaha mahasiswa nya juga untuk meluluskan mahasiswa nya."


"Please ...!" Mohon Haura menengkupkan tangannya, "Bantu aku sampai wisuda."


"Setelah ini aku mau pulang kampung. Entah kapan aku ke sini lagi."


"Kata kamu keluarga mu tidak menyukaimu hanya mau uangmu saja. Menetap di sini aja biar aku bantu kamu mendapatkan pekerjaan di perusahaan yang di rintis oleh cowokku. Dengan syarat kamu tidak boleh mendekatinya dia juga calon suamiku kami akan menikah beberapa bulan lagi."


"Yang benar kamu? Kalau iming-iming nya ada sudah pasti aku akan bantu kamu. Tapi, aku harus kerja dulu. Tenang aja aku tidak akan mendekati calon suamimu."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2