TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN

TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN
Menantu bukan penumpang


__ADS_3

Terbelenggu Cinta di Negeri Jiran 76


"Ok, gini, Ndri. kita keluar dulu!" Ajakku. Kami keluar menjauh dari anak-anak dan rumah takut ada yang mendengar pembicaraan kami.


Duduk di bawah pohon rambutan dan memperhatikan sekelilingnya banyak tetangga yang memandangi kami. Mereka penasaran karena selama di sini belum pernah melihat seseorang dengan wajah yang berbeda.


"Aku mencium ada aura yang panas yang membuat hatiku rusuh di sini. Aku mau tanya aku harap kamu menjawab dengan jujur aku tidak akan marah dan kecewa kok."


Apa mereka memperlakukan mu dengan baik? Bagaimana dengan pertemuan pertama kalian? Ekspresi suamimu pada saat tau masa lalu mu di Malaysia?" lanjut ku.


Mendengar itu indri terdiam cukup lama dengan wajah yang mendung tapi bisa mengendalikan perasaannya.


"Jujurlah, aku tidak ada niat untuk ikut campur ke dalam rumah tangga kalian. Kita ini sudah berteman dari pertama kali aku berada di Malaysia. Kamu yang memungut aku di jalanan dulu sampai membuatku mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik."


Apa salahnya kita saling terbuka satu sama lain seperti di Malaysia dulu. Aku juga tidak ada niat untuk mengetahui aib kalian kok. Bagiku tidak ada yang namanya aib, itu hanya pembodohan untuk kaum yang lemah agar orang jahat akan selalu berbuat zolim dan maksiat."


"Firasat kamu tajam juga, Fa. Ok, aku ceritakan, awal kami bertemu itu di jodohkan oleh ayahku. Awalnya aku menolak tapi lama-lama malah jatuh cinta dan menceritakan semua masa lalu ku di Malaysia dulu termasuk tentang kita."


Ayahnya anak-anak awalnya mau menerima aku apa adanya. Tapi, setelah menikah dan di boyong ke rumah ini awalnya mereka memperlakukan aku dengan baik. Tapi, lama-lama ketahuan juga belangnya. Ibunya tidak suka padaku yang sudah tidak perawan lagi sebelum menikah bahkan sering membilang aku pelacur."


Pelacur?" Kalau mereka tau jalan hidupku di Malaysia dulu, apa suami, mertua dan iparku mengatakan aku pelacur juga? attitude mereka Nol besar.


"Ayahnya anak-anak bercerita pada ibunya aku pernah menjual diri pada orang asing untuk biaya hidup karena orangtua ku gemar berhutang dan biaya hidup mereka dan adik-adik juga."


Ikut ipar yang menjadi kambing hitam mengadu domba aku sama suami dan mertua. Tapi, kamu tenang aja, karena aku anak perantau sudah banyak menempuh perjalanan hidup dan kata-kata dari kamu dan khaizan yang membuat aku semangat melawan mereka sampai titik darah penghabisan."


Tidak akan aku biarkan diriku di hina oleh mereka. Mertua ku yang selalu menghina ku dan keluarga ku sudah enam kali aku masukkan ke RS dan tidak mau aku merawatnya sama sekali."


Bukan berarti durhaka. Kadang kita harus melakukan shock terapi untuk mencari keadilan biarlah orang berkata sesuka hatinya. Aku bisa melindungi diriku dan anak-anak ku tampa membiarkan mereka menginjak harga diriku."

__ADS_1


Ujar indri panjang lebar


"Apa itu benar?"


"Apa kamu tidak percaya dengan kata-kataku?" Melihat gerak geriknya indri sepertinya indri jujur tidak ada yang dia sembunyikan.


"Baiklah aku percaya."


"Siapa, Ndri ...!" Dari jauh terdengar suara wanita tua sepertinya Mertuanya indri.


"Ayo, kita masuk!"


"Ayo." Kami masuk melihat pemandangan yang membuat bulu roma ku merinding. Begitu menyeramkan penampakan mertuanya indri ini. Bukan aku menjelekkan mertua tapi insting aku itu kuat banget untuk merasakan apakah orang itu ramah atau bukan.


"Assalamualaikum, tante. Aku, Shifa teman masa lalu nya indri." Aku menyalami mertuanya indri dia menyambut tanganku dengan sungkan.


"Walaikumsalam, ayo duduk! Indri! Siapkan minuman untuk temanmu."


Kami berbincang cukup lama hingga mertua indri mulai menyinggung dan menjelekkan menantunya pemalas, numpang hidup, dan durhaka.


"Indri ini orangnya pemalas banget, banyak diamnya gak becus ngurus suami, anak, mertua, ipar dan rumah,"


"Terus?"


"Indri ini dia numpang hidup di sini. Tapi, dia berlagak sok menjadi ratu. Kalau tau dia seperti itu tidak akan saya izinkan anak saya menikah dengannya.


"Dia juga istri yang durhaka. Tidak pernah manut apa kata suami dan mertua, tidak bisa melakukan pekerjaan rumah dengan baik. Kamu lihat!"


Mertua indri menunjuk ke lantai dan semua isi rumah. Sedangkan indri memutarkan bola matanya padaku.

__ADS_1


Lantai dan semua rumah berdebu, piring kotor dan cucian menumpuk. Saya bilang pada anak saya untuk menyuruh indri melakukan semuanya dia tidak mau. Padahal dia orang lain yang numpang hidup di sini. Untung ada anak saya yang memungutnya kalau tidak mungkin dia masih menjadi sampah. Sudah di pungut tidak tau diri."


"Dia juga pintar merayu anak saya untuk menyerahkan semua uang padanya. Padahal sedikit pun tidak ada hak dia dari uang anak saya."


Ternyata apa yang orang bilang keluarga suami jarang mau memperlakukan menantu nya seperti anaknya sendiri itu benar adanya.


Apa mereka tidak tau, menantu perempuan itu statusnya seorang istri bukan babu. Banyak yang menaggap menantu itu babu gratis rumah mertua, di kekang dengan dalil yang tidak jelas asal usulnya itu tindakan diskriminasi terhadap kaum perempuan.


Kalau mau pembantu gratis, nikahi aja pembantu rumah tangga. Karena menurut buku yang ku baca, kodrat seorang istri itu hanya empat yaitu, Mens, mengandung, melahirkan dan menyusui. Setelah itu tugas rumah dan mendidik anak, laki-laki pun bisa melakukannya seperti yang orang lakukan diluar Negeri.


Kalau istri mengerjakan semuanya itu namanya penindasan, kapan waktunya untuk menjadi ibu yang cerdas untuk anak? Mungkin tidak banyak yang berpikir seperti itu.


Seharusnya perempuan sudah merdeka anehnya yang melakukannya kebanyakan kaum perempuan pula. Patriarki sangat menyusahkan kaum perempuan, tidak mengimani agama dengan baik malah memperalat agama untuk melakukan pembodohan terhadap diri sendiri, perempuan dana anak.


"Tante. Sebelumnya aku minta maaf. Tidak ada niat untuk ikut campur ke rumah tangga indri dan tante. Coba dengarkan baik-baik."


"Apa yang tente bilang itu semuanya salah tidak ada kata-kata yang beradab sama sekali keluar dari mulut tante. Asal tante tau, indri ini dulu di lahirkan, di susui, di besarkan dan di sekolahkan sampai sarjana oleh orangtuanya, bukan hanya anak-anak tante doang, tapi semua anak termasuk tante. Apa tante tidak tau, tante juga di lahirkan oleh seorang ibu?"


"Lalu ketika dewasa belum sempat bekerja dan membayar jasa orangtuanya yang telah melakukan segalanya untuk kami. Di luar sana betapa banyak orangtua dari pihak perempuan yang kecewa sudah menyekolahkan anaknya sampai sarjana sampai menjual segalanya termasuk organ tubuh untuk kebahagiaan putri tercinta setelah itu eh malah ada laki-laki dengan tidak tau diri mengajaknya menikah. Beda sama laki-laki kodratnya menjadi tulang punggung keluarga."


"Setelah anak tante datang ke rumah indri untuk memintanya menjadi istrinya lalu dengan berat hati orangtuanya menyerahkan anaknya pada anak tante yang tidak tau asal usul dan sifatnya."


"Lalu setelah menikah setelah di boyong ke rumah tante, tau gak? Begitu berat dia meninggalkan orangtua yang mencintainya dan rumahnya yang nyaman demi baktinya kepada anak tante. Setelah tiba di rumah ini malah tante dan sekeluarga sakiti dia dan jadikan dia seperti babu. Asal tante tau, anak tante yang membawa indri ke rumah ini itu sebagai menantu bukan penumpang dan pembantu Kalau tante mau pembantu, suruh anak tante nikahi aja pembantu rumah tangga."


"Tante bilang dia numpang hidup setelah anak tante mengemis pada dia agar mau menjadi istri anak tante. Itu namanya pembodohan tante. Kalau tidak mau melihat dia di rumah ini, pulangkan dia ke rumah orangtua nya. Mereka masih sanggup menghidupi indri dan anak-anak nya itu pun saya yakin anak tante tidak akan bisa bertanggung jawab penuh terhadap istri dan anaknya sesuai syari'at."


"Tente kan memiliki anak perempuan. Apakah tante mau anak tante di perlakukan seperti babu gratis di rumah mertuanya nanti? Umumnya mertua kita di Negara ini seperti tante loh."


Mendengar kata-kataku yang super panjang membuat mertua indri terbelalak tidak terima dengan kata-kataku. Indri pun tertawa mendengarnya.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2