TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN

TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN
Bukan Fuck boy


__ADS_3

Terbelenggu Cinta di Negeri Jiran 56


Indri



Pukul 05.00 subuh ada seseorang yang mengetok pintu dan aku hafal suara itu. Lihat ponsel sudah ada panggilan masuk. Aku tidur selama dua jam. Bangun kepala berat, wajah acak-acakan, mata panda kelihatan semakin gelap. Di paksakan berdiri dengan sempoyongan keluar. Bukan hanya shifa yang di luar ada Khaizan juga masih berada di bawah. Syukurlah mereka kembali.


Tapi, hatiku bertanya-tanya sedang ngapain aja mereka semalam? Apa mereka melakukannya? Apa mereka berantam? Apa yang mereka bahas? Ingin aku menanyakannya tapi segan menunggu Khaizan pulang aja.


"Shifa ...! Kamu kemana malam tadi, hayoo! Ngapain ke bar coba? Lalu apa yang lakukan semalam? Dia tidak mengganggu mu kan? Kalian tidak melakukannya malam tadi kan? Gila kamu ya, gara-gara uang, kamu nekat mencarinya lewat jalan instan."


Aku berbicara dengan pelan agar tidak terdengar oleh Khaizan Tapi, shifa hanya diam.


"Boleh masuk?" Bukannya menjawab pertanyaan ku yang cemas menantinya, Shifa masuk mendahului ku yang masih melongo melihatnya.


"Semuanya tidak seperti yang kamu pikirkan. Semalam tidak terjadi apa-apa kok," Khaizan sudah berada di depanku, apa benar yang dia bilang? kenapa rambutnya basah? Sedangkan rambut shifa tidak? Apa mereka melakukannya? Kenapa Shifa tidak keramas? Mereka berdua ini membuatku seperti orang polos yang tidak tau apa-apa.


Setelah itu khaizan menyusul lagi-lagi membuatku melongo. Dia membuat rumah ini seperti rumahnya sendiri. Khaizan seperti memiliki dua istri. Ah, tidak hanya numpang singgah di rumah teman wanitanya.


Lekas ke kamar, shifa sudah terbuai ke alam mimpi. Membuka lemari kami mengeluarkan apa yang di butuhkan tamu. Ada selimut, bantal, dan guling. Kalau kasur sih, kami tidak memiliki kasur untuk tamu, hanya kasur santai yang di letakkan di ruang TV.


"Khaizan! Kamu mau tidur? Pakai aja selimut lamanya shifa. Kasur nya cuma itu, bantal dan guling nya pakai aja punya ku. Tapi, bersih kok."


Aku hanya bisa menjamu tamu seperti ini. Dia memperlakukan kami dengan baik, seperti pula aku memperlakukannya. Kalau shifa dia cuek tapi sebenarnya peduli juga sama temannya.


"Tidak usah." Tidak usah? Walaupun menjelang pagi, tapi tetap aja kedinginan jika tidak memakai selimut. Dan Khaizan berkutat dengan ponselnya.

__ADS_1


"Pakai aja," Ku letakkan aja barang itu dan lekas masuk kamar. Karena hari ini hari minggu, aku ingin tidur lagi yang biasanya sudah siap-siap untuk pergi kerja.


"Shifa ...! Benar semalam kalian tidak ngapa-ngapain? Shifa ...! Bangun...!" Ku guncangkan tubuhnya shifa yang terbalut selimut putih seperti pocong.


Apa segitu kedinginan nya setelah pertempurannya malam tadi? Mustahil sepasang yang berlawanan jenis berada dalam satu ruangan tanpa ada setan yang menggodanya. Omongannya Khaizan di luar sulit di percaya setelah apa yang dia lakukan pada shifa dulu.


"Berisik."


"Gimana bulan madunya?" ku coba memancing nya.


"Apaan sih. Aku mau tidur sampai jam dua belas siang."


"Shifa ...jangan bikin aku mati penasaran dong," seperti apapun aku menganggu nya tetap aja tidak mau menjawabnya. Huh, mereka ini. Gimana masa tua kami kalau berumur panjang bertemu lagi dan membahas masa muda?"


POV Khaizan



Indri sudah membicarakan semuanya yang mereka bahas kemaren. Mereka sangsi hidup perjalanan kehidupan temannya.


Pas aku cari keberadaannya lewat nomor ponselnya dia masih berada di kota ini tidak jauh dari tempat kami kerja. Yang membuat aku shock, shifa berada di Bar. Untuk apa shifa ke sana? Pikiranku melayang ke mana-mana. Tampa berpikir panjang langsung tancap gas ke tempat itu.


Banyak bangat pria hidung belang dan wanita panggilan berjejer di tempat ini. Mereka saling merayu ada yang mengantri di setiap kamar Bar. Aku pun ikut menjadi sasaran mereka.


Aku menanyakan ke pihak bar tentang seorang gadis yang ciri-cirinya seperti foto. Gadis itu menjaga kan dirinya semahal itu. Aku antara percaya atau tidak dia berani melakukan itu. Ini bukan ranahnya.


Untung belum ada orang yang sanggup membelinya. Tidak mau melakukan hal yang sama terpaksa aku membayar dan mengganti rugi sebanyak yang pihak bar butuhkan. Untung aku memiliki usaha lain di kampung yanh royaltinya masuk ke rekening pribadiku.

__ADS_1


Shifa sudah menuliskan nomor rekeningnya. Tidak mudah mengeluarkan seseorang dari tempat ini, aku akan berusaha agar dia keluar malam ini atau besok dan mengeluarkan uang yaang tidak sedikit.


Dari jauh aku melihat shifa di bawa oleh mucikari yang ternyata orang Indonesia. Bisa minta bantu pada dia untuk melepas kan gadis itu dengan gratis kalau tidak, aku akan menyebarkan aibnya sampai ke Indonesia. Ternyata dia takut di ancam, aku tidak jadi mengeluarkan uang dua kali lipat dari yang Shifa butuhkan.


Ini bukan salah tuhan, seandainya shifa pasrah aja dengan keadaan ibunya dan hanya memakai uang seadanya kalau nasip seseorang berumur panjang, dia pasti akan berumur panjang tanpa menjerumuskan diri ke lembah hitam seperti ini. Tapi, sebagai seorang anak tentu mau melakukan apapun agar orangtuanya sembuh dan bahagia sama seperti yang orang tua lakukan pada anak.


Setelah shifa di masuk ke kamar, aku menyusul dari belakang, mucikari memeprsilakam aku masuk dan medapati shifa yang sedang berkutat pada ponselnya


Apa gadis itu tidak takut?


Aku lekas mengirim wa pada indri membilang kami sudah bertemu dan sudah berada dalam satu ruangan. Ingin marah tapi siapa aku? Aku lelaki pertama yang merusak nya


"Apa anda sudah siap?" Shifa kaget tak karuan untuk sesaat dirinya menabung dan menoleh dia seperti berucap lega bukan keparat di bawah itu yang masuk ke kamar.


"Khaizan?"


"Iya, ini aku. Kamu yang meminta harga dirimu 100 juta rupiah untuk biaya pengobatan ibumu. Kamu ternyata wanita yang berbahaya jauh dari ekspetasi ku. Masuk ke tempat ini di dekati aja mundur," Aku mencoba memancingnya ternyata dia tidak terpancing sama sekali.


Malam ini kami ngobrol, perempuan ini masih suka membahas masa lalu dan aku berjuang untuk melupakannya. Malam ini malam ketiga kami bersama, tiba-tiba setan menggoda ku dan sering keluar masuk kamar mandi ingin menuntaskan malam ini juga.


Benih-benih cinta yang sempat tertanam di hati tiba-tiba mendorong ku untuk melakukannya. Tapi, aku berusaha untuk mengalihkannya dengan mengobrol apa adanya. Setan ini memang sangat kuat menghasut ku.


Ada sesuatu yang enak seharusnya di santap tapi, aku belajar dari puasa selama 30 hari di bulan ramadan di mana kita harus menahan lapar dan haus sedangkan di sekeliling kita banyak orang menjual makanan enak.


Ada dalilnya juga untuk umat muslim yang bunyinya "Tundukkanlah pandangan dan peliharalah ********."


"Untuk seseorang yang belum menikah, takut terhindar segeralah menikah itu lebih baik dari pada tidak menikah tapi zina atau berpuasalah untuk memelihara nafsu syahwat." Untuk mengindarinya cari kesibukan dan baca Al-Quran dan berzikir. Kalau ada yang tidak percaya berada dia bukan muslim perlu di tanyakan agamanya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2