
TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN 3
Seseorang bernama haizan jauh dari negeri seberang mengajakku VC. untung aku sudah membeli ponsel baru keluaran terbaru. Kata meyra ponsel sangat di butuhkan kuliah nanti.
Yang kami bahas, masa sekolah, siapa pacar. Aku dan dia sama-sama jomblo. Umurnya tiga tahun di atas aku. Dia juga pernah mau kuliah tapi tidak jadi. Karena tidak lulus tes lalu kerja di pabrik di mutasi ke malaysia. Dia nurut aja bahkan baginya lebih baik.
Sekarang aku sudah tidak punya uang lagi, beli nasi bungkus aja hutang ke meyra.
Rencananya kami akan mendaftar di UNJA Mendalo. Tapi, aku tidak punya uang untuk bertahan hidup. Sebenarnya bisa jalan kaki kampusnya gak terlalu jauh dari kos meyra. Tapi, jambi panas bangat.
Masyarakat aslinya cukup ramah, gampang bergaul sama siapapun. Logat melayu nya masih kental walaupun kota ini di penuhi oleh transmigrasi dari jawa dan perantau lainnya. Aku dan meyra juga dari tanah jawa di jambi ini.
***
"Syifa! Ayo kita jalan."
"Kamu aja. Kayaknya aku gak akan kuliah deh. Dompet aja kosong." Melihatkan dompet kosong pada meyra.
Meyra merapikan berkas memasukkan ke dalam tasnya lalu berdiri. "Tes aja dulu. Nanti di pikirin biayanya."
Aku sedang duduk memandang kosong ke depan "Memangnya kamu mau membiayai hidupku di sini? Uang yang ku bawa hanya pas untuk ongkos dan beli ponsel. Kamu enak habis jual isi kebun ayah yang sudah dia tabung dari dulu untuk masa depan mu. Lah, aku? Gak ada sama sekali."
Jelas kemaren meyra bilang ayahnya juga tidak menafkahinya dari semenjak orangtuanya bercerai. Tapi, sebelum pergi ke pusat kota baru aku tau dia habis nerima duit dari jual hasil kebun ayahnya yang sudah di tabung dari meyra kecil. Meyra bohong.
"Uang yang ku bawa juga gak seberapa. Tes aja dulu. Setelah itu kita cari kerja untuk biaya hidup."
"Setahun ini aku nganggur dulu. Udah deh kamu aja yang pergi." Aku berdiri mendorong meyra keluar kos. Meyra pergi, setengah hari ini aku tiduran mulu. Kalau bosan, aku membersihkan kosan. Tiba-tiba cacing di perutku menjerit ingin minta makan. Lihat dapur hanya ada royko dan kerak nasi sudah basi pula
Meyra tidak sempat belanja karena sibuk mengurus berkas di bawa ke kampus
Aku keluar membawa yang dua puluh ribu beli nasi bungkus untuk dua kali makan.
***
__ADS_1
Lihat ponsel tidak ada sekalipun ayah dan ibu menghubungi ku. Karena mereka aku seperti telantar di kota Jambi. Aku juga tidak mau menghubunginya. Aku tidak boleh duduk manis aja di kos. Aku harus cari kerja.
Puas keliling mencari kerja tidak ada satupun yang mau menerima ku. Katanya mereka mencari yang berpengalaman. Baru tamat SMA pengalaman kerja apa yang ku dapat? Hanya bekerja di rumah layaknya ibu rumah tangga dan membantu ibu berkebun.
[Kamu di mana? Jangan kemana-mana, kamu baru di sini, nanti hilang]
[Aku cari kerja. Tenang aja aku tidak akan hilang]
[Sudahlah, pulang aja, besok kita cari sama-sama]
Entah kemana aku pergi kenapa belum juga sampai di kos? Banyak bangat simpangnya. Ingin naik gojek tapi tidak punya uang. Apa aku lewati aja setiap daerah ini?
"Ya, Allah. Aku dimana."
"Ojek...!!!"
"Mau kemana?"
"Mau ke alamat ini." Aku menyodorkan ponsel menunjukkan lokasi yang sudah di cari di google map. Walaupun sudah ada alamat nya tetap aja aku salah alamat.
"Astaga, bau bangat badanmu. Penampilan mu acak kadul bangat. Mana ada orang mau menerima kamu kerja. Orang itu yang di lihat penampilan yang menarik. Baru skill. Kok, kamu kek gini amat." Meyra memperhatikan penampilan ku dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Iya, aneh memang. Bau ketek lagi." Batin Syifa
"Iya, habis setengah hari ini aku jalan mulu di bawah terik matahari wajarlah bau."
"Mandi sana."
Setalah membersihkan diri aku makan sisa nasi bungkus tadi. Sengaja membagi dua untuk sore. Besok akan aku usahakan agar dapat kerja.
[Assalamualaikum. Syifa! Sedang apa]
Pria asing itu kembali menghubungi ku
__ADS_1
[Sedang makan, kamu]
[Lauk apa? Aku sedang santai aja. Gimana? Sudah di pikirkan matang-matang]
[Nasi padang, gak kerja? Aku sih pengen ke sana tapi tidak ada orang tempat aku singgah di sana]
[Sedang jam istirahat. Sudah di pikirkan matang-matang? Kalau kamu mau kesini, biar aku beli tiketnya. Paspor dan visa di urus di situ]
[Aku takut pergi jauh. Takut sama orang baru takut juga sama suasana di sana tidak sama dengan di sini
[Kenapa takut? Jangan terlalu di pikirin. Tergantung nasip juga]
Entah siapa pria itu. Kok, aku merasa ada getaran aneh sih. Hati ini sudah berani memikirkan dan merindukan nya.
Malaysia, aku tidak pernah bermimpi akan ke sana. Untuk apa? Mau kerja, di Indonesia juga banyak. Sering aku dengar dari orang yang pernah ke malaysia. Tinggal di sana tidak seindah khayalan kita. Bekerja, gaji banyak, suka jalan-jalan di waktu libur.
Orang ke sana karena tidak memiliki pekerjaan di negeri sendiri. Sering pula disiksa oleh majikan, tidak menerima gaji, tidak mengirim uang untuk keluarga dan pulang bawa jasad.
Sering pula police malaysia mengadakan razia pendatang haram. Mereka banyak yang di tangkap masuk jeruji besi. Kalau nasip baik kita bisa lolos kebanyakan orang itu sudah lama di sana sudah tau waktu tertentu police mengadakan razia, sudah tau di mana aja tempat menyelamatkan diri. Banyak pula di pulangkan ke tanah air.
Banyak pula orang pergi ke hutan, lelaki dan perempuan bercampur.
Banyak pula yang selingkuh. Para suami pergi seorang diri ke malaysia meninggal kan anak dan istri tidak mungkin mereka di bawa. Istri mungkin bisa, tapi anak sama siapa?
Tiba di negara lain mereka selingkuh tidak lagi memikirkan anak dan istri yang berharap saldonya akan bertambah di setiap tanggal muda.
Banyak pula yang berzina, perempuan indonesia menikah kontrak dengan lelaki asing demi mendapatkan uang lebih, banyak pula yang melakukan kumpul kebo layaknya pasangan suami istri.
Hidup di sana tidak lagi mengenal agama tidak ada waktu untuk sholat karena majikan asing melarang membuang waktu.
Ada lagi yang bilang tidak semuanya tergantung orangnya juga. Kalau imannya kuat insyaallah tidak akan neko-neko. Tapi, satu banding seribu orang yang setia.
Serius kah aku mau ke sana? Tidak ada sanak saudara yang menampung aku, tidak ada teman. Satu-satunya orang, ya, Haizan. Apa dia mau membantuku sampai masuk kerja nanti? Aku mendengar cerita orang aja ngeri
__ADS_1
Next