TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN

TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN
Perempuan juga wajib memiliki Skill


__ADS_3

Terbelenggu cinta di Negeri Jiran 45



Sesuatu yang paling ku benci di hidup ini adalah berteman dengan seseorang yang hanya ada di saat kita punya segalanya lalu mereka ingin memanfaatkan ke baik kita setelah itu mereka menghilang bagai hantu di siang bolong. Lalu datang lagi ingin melakukan hal yang sama dan pergi meninggalkan kita pada saat kita jatuh.


***


Entah kemana lagi aku harus pergi untuk menghapus jejak luka lama. Apa tunggu diri ini mati dulu? Kebanyakan hidupku mengeluh mulu kurang banyak bersyukur hingga membuat diriku susah sendiri. Susah hati susah pikiran, susah pula semuanya. Allah bantu hambamu ini untuk tabah menghadapi cobaan.


Tring


Sebuah notifikasi Wa asing membuyarkan lamunan ku. Ternyata dari royan.


[P. Kak, kakak kok blokir semuanya kontak kami? Ibu sedang sakit butuh biaya banyak untuk berobat]


Anak itu menghubungi ku hanya ada maunya, padahal aku ingin di tanyain apa kabar? Sudah makan apa belum? Aku merasa bukan bagian dari mereka lagi. Mereka hanya mau uangku saja. Dulu mereka pernah bilang hal yang sama untung aku tidak mau tertipu oleh mereka.


[Kak, ibu sekarang sedang berada di rumah sakit. Ayah kelimpungan mencari pinjaman kesana kemari hanya kakak yang punya uang kirim lah berapa aja kak! Yang penting ibu sembuh


Lagi-lagi satu pesan masuk. Apa benar ibu sedang sakit? Sejak kapan ibu mengidap penyakit kangker? Apa benar? Apa ini hanya bakalan mereka aja untuk memerasku?


[Apa kalian tidak ada niat untuk menyanyai kabar ku] Terkirim


Satu menit, dua menit tidak ada jawabannya tambah yakin kalau mereka ingin memerasku. Aku tidak bisa mengirim uang terlalu banyak, aku bekerja ke negara orang untuk mencari biaya melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

__ADS_1


Tiring


Telpon masuk tenyata royan yang menelpon. Ada apa lagi ini anak?


"Ada apa, Fa! Siapa yang nelpon? Angkat lah siapa tau penting!"


"Orang kampung, biasa mau uang. Kabar aja tidak mau menayakannya."


"Yang penting sudah tau tabiat aslinya."


Sudah ketiga kalinya mereka menghubungi ku. Entah dari mana mereka ambil nomorku. Perasaan nomornya sudah ku ganti dan mereka sudah ku blokir. Hanya ada dua orang yang punya nomorku, indri dan Khaizan. Apa mereka yang memberikan nomor ku?


"Hallo!"


"Hallo! Fa! Ibu sekarang sedang berada di rumah sakit sedang butuh biaya untuk berobat. Ibu mengidap kangker payudara stadium akhir. Kamu punya uang kan? Kirim ibu uangmu berapa aja biar ibu bisa berobat dengan baik dans sembuh."


"Ah, iya, apa kabar kamu?"


"Kabar ku baik bu. Apa benar ibu sedang sakit? Aku minta fotonya dong, Bu! Foto ibu sedang di rawat inap di rumah sakit."


"Kamu tidak percaya sama, ibu? Apa tunggu ibu mati dan pulang dulu agar kamu percaya sama, ibu?"


"Ah, tidak kok, bu! Aku hanya ingin memastikannya saja. Dari dulu sampai sekarang ibu tidak kunjung berubah hanya memikirkan uang, uang dan uang. Padahal aku ini perempuan, bu! yang kewajiban menghidupiku masih di tanggung oleh ayah dan saudara ayah yang lainnya. Tapi, ini malah kebalikannya, di mana kalian belajar seperti itu, Bu! Aku jadi tidak percaya ibu sakit. Ini hanya akal bulus kalian saja untuk menipuku."


"Kok, kamu makin kurang ajar sekarang? Apa kamu sudah punya duit banyak hingga tidak peduli lagi sama, Ibu? Apa kamu sudah merasa hebat sekarang? Tiga tahun di sana tidak pernah mengabari kami."

__ADS_1


"Bukan itu, Bu! Hanya aku ingin ibu sadar atas kelakuan kalian sama aku selama ini seperti apa. Terlalu keras dan tidak masuk akal mendidik anak perempuan tapi lembek menghidupi anak laki-laki. Ajarkan royan bertanggung jawab terhadap ibu jangan biarkan dia seperti ayah yang hanya makan, tidur, berak aja di rumah menjadi raja palsu membuat ibu dan aku menjadi budaknya. Tidak semua perempuan seperti ibu yang mau bertahan sama suami seperti itu."


"Shifa...! Berhenti menjelekkan ayah. Bagaimanapun ayah tetap ayahmu. Kalau tidak ada ayahmu, kamu tidak akan ada di dunia ini. Walaupun kamu tidak percaya ibu sedang sakit tidak apa-apa tunggu saja ibu mati baru kamu percaya."


Asal kamu tau, kamu itu anak perempuan yang harus mandiri bisa menghidupi diri sendiri tanpa bergantung pada suami nanti. Karena kamu perempuan makanya sedini mungkin kamu harus berbakti pada ayah dan ibu, memberikan ibu uang jerih payahmu karena sudah membesarkanmu."


Kalau sudah menikah tubuhmu milik suamimu tergantung suamimu apakah dia baik atau tidak yang mau mengizinkan istrinya tetap berbakti pada orangtua nya. Royan karena dia laki-laki dia tetap milik ibu sampai mati, kewajibannya tetap berbakti pada ibu bukan istrinya. Istri hanyalah orang lain yang numpang hidup atau numpang mengambil status aja agar keberadaannya terhormat di mata masyarakat. Itu aja."


"Astagfirullahalazim, Bu! Istigfar, Bu! Istigfar! Di mana ibu belajar seperti itu? Apa dari ayah? Sekarang aku mengerti kenapa ibu manut aja di perlakukan seperti robot ternyata sumbernya dari ayah. Asalkan ibu tau juga, orangtua wajib menanggung hidup anaknya sampai mandiri untuk laki-laki. Anak perempuan sampai menikah, kalau kehidupannya kurang orangtua tetap membantu kehidupan si anak perempuan karena tidak semua lelaki bertanggung jawab pada istrinya."


Yang kedua, semandiri apapun wanita, suaminya tetap wajib membernya nafkah sandang, pangan dan papan yang layak untuk istri ya. Yang ketiga, zaman sekarang apapapun gendernya sudah memiliki hak yang sama untuk menjalani kehidupan karena tidak semuanya wali dari perempuan dan anak-anak bertanggung jawab untuk membiayai kehidupan keponakannya yang yatim dan anak atau saudara perempuan yang janda seperti ayah karena tidak bekerja makanya tidak pernah menafkahi istri dan anam sampai sekarang."


Yang ketiga, anak perempuan tetap boleh berbakti dan membiayai orangtua nya sampai mati karena tidak ada yang namanya mantan anak dan tali silaturahim tidak akan pernah putus. Jangan mempercayai omongan orang primitif tidak akan ada benarnya. Mending dengar ceramah di TV atau jangan-jangan TV sudah di rusak oleh ayah lagi."


Yang ke empat, jangan pernah ibu bilang menantu itu orang lain yang numpang hidup dan numpang mengambil status seorang istri kedudukannya terhormat di mata masyarakat. Karena menikah itu adalah ibadah terlama sepanjang hidup. Menikah karena ingin menyempurnakan separuh agama, dan menikah juga memiliki peraturan nya sendiri di agama, di hukum dan di Negara. Tidak bisa sembarangan menikah dan mengucap menantu sesuka hati itu contoh orang yang yang tidak beradab."


Kurasa ibu harus paham dengan kata-kataku ini. Aku yakin 100% ibu tidak sakit. Ayolah, Bu! Sebenarnya ibu ini orang baik. Silsilah keluarga juga bagus hanya saja ibu berubah karena jodoh yang salah. Bukan aku membenci ayah, aku ingin kalian sadar apa yang kalian lakukan itu salah. Ibu! Aku bekerja juga tidak semudah membalikkan telapak tangan, butuh berjuangan yang berdarah-darah."


Di Negeri orang, aku ini seperti buronan dan takut di incar police. Aku bekerja untuk melanjutkan pendidikan ku. Dan jangan lagi kalian melarang aku kuliah dengan alasan untuk apa perempuan sekolah tinggi ujungnya juga ke dapur itu salah itu hanya kata-kata orangtua primitif zaman dahulu. Di zaman sekarang untuk menjadi istri dam ibu yang cerdas juga memberlukan skill kalau tidak, ujungnya aku tidak mau ujungnya seperti ibu. Udah, Bu! Aku do'a kan semoga ibu cepat sembuh dari sakit, kalau uang aku hanya bisa mengirimnya 10% dari gaji ku. Kalian juga masih kuat dan muda lagi, aku harap kalian berubah dan tobatlah sebelum terlambat. Kalau gitu aku putuskan dulu sambungannya. Assalamualaikum."


Setelah menutup telpon, aku menoleh ke arah indri yang bengong aja memandangi ku tanpa kedip.


"Sabar ...Fa! Tidak boleh emosi."


"Kamu dengarkan apa yang mereka bilang?"

__ADS_1


"Dengar kok, ya, sudah tidur lagi sudah hampir dini hari!"


Next


__ADS_2