TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN

TERBELENGGU CINTA DI NEGERI JIRAN
Aku tidak gila


__ADS_3

Terbelenggu Cinta di Negeri Jiran 74



Sepulang dari bekerja aku pergi ke rumah sakit untuk konsul ke psikolog dan tiga bulan aku konsul tidak ada perubahan apa-apa pada suasana hatiku. Kata orang kalau kita mau tenang itu dari hati, kita sendiri yang menenangkan diri kita bukan orang lain.


Lanjut pe psikiater dan psikiter memberi aku obat untuk di konsumsi seumur hidup Astagfirullahalazim, berarti depresi ki cukup parah. Lalu melakukan elektroterapi yang biayanya tidak sedikit.


Gaji ku selama bekerja habis untuk biaya berobat. Ayah dan ibu di kampung sudah risih karena aku tidak kunjung mengirim uang.


"Maaf, bu. Aku gak bisa ngirim uang karena uangnya sudah ku lama untuk biaya berobat. Aku sakit, bu."


"Sakit apa kamu?"


"Aku konsul ke psikolog, psikiater dan melakukan elektroterapi untuk menyembuhkan depresi, Bu."


"Apa kamu sudah gila?"


"Enggak gila, Bu. Karena aku merasa tertekan karena tuntutan pekerjaan aja."


"Kamu ini tidak punya iman, coba kamu beriman berpasrah pada Allah jadi kamu tidak mengeluarkan uang banyak untuk berobat."


"Lalu, apakah ibu selama ini punya iman? Kalau punya iman seharusnya tidak menyebutku tidak beriman. Karena menurutku orang yang suka membilang orang lain tidak beriman merekalah yang tidak beriman."


"Kamu ini di bilangin menjawab terus."


Ku matian sambungan telpon dari ibu bahkan ibuku sendiri tidak peduli dengan kondisiku. Bayangkan sudah menikah suami lebih mengutamakan ibu nya dari pada istrinya. Sah, sah aja karena menurut agama anak laki-laki tetap milik ibunya sampai mati. Jadi, wanita seperti ku lagi-lagi tidak bisa menjadikan suaminya sebagai sandaran dan teman hidup.


Kalau hanya untuk teman tidur untuk apa? Kemungkinan aku tidak akan menikah biar aku cari cara yang lain untuk dijadikan sandaran dan jalan menuju surga.


"Haura! Bagaimana hubungan mu sama pacarmu?"


"Aku akan tetap berjuang, Fa."

__ADS_1


"Baiklah aku bantu kamu berjuang."


"Terima kasi, Fa."


"Sama-sama. Rajin-rajin chat dia, tanyain kabarnya dan dekati orangtuanya biar orangtuanya mendesak dia untuk menikah mu."


"Aku sama orangtuanya sudah dekat. Bahkan mereka percaya banget kalau aku akan berjodoh dengan anaknya."


Mendengar ucapan Haura aku menjadi iri dan cemburu. Dia sehat wal afiat. Sedangkan aku di masih malu dengan kisah kami di masa lalu yang belum bisa aku terima. Aku sih mau aja sama Khaizan tapi kalau di pikir-pikir apa yang terjadi di masa lalu akan di kenang samai akhir hayat. Aku tidak mau mengingatnya lagi dan sedang depresi.


Mereka berdua sering berkunjung ke rumah orangtu masing-masing. Hingga kabar pernikahannya terhembus ke telingaku. Menurut cerita ayahnya sang wanita sangat menyayangi Khaizan ingin cepat-cepat Khaizan menjadi menantunya.


***


Khaizan



"Kok kamu jadi perhatian bangat sama aku? Kamu bisa tau kesukaan dan segalanya tentang aku?" Ucapku pada Haura setelah keluar dari rumah orangtua nya.


"Lalu, orangtuaku juga mengetahui tipe wanita yang aku suka. Perasaan, tidak pernah membicarakan itu pada, Ibu."


"Khaizan ...! naluri seorang ibu itu kan tidak salah. Siapa tau ibumu hanya menebak wanita yang kamu suka."


"Lalu kamu melakukan apapun yang ibuku bicarakan padamu?"


"Tidak, sih. Aku hanya melakukan apa yang aku bisa aja. Kenapa tuh?"


"Apa kamu tulus mencintai ku? Apa tidak ada niat yang terselubung?"


"Maksudnya? Aku tulus mencintai mu. Wanita mana sih yang tidak mau sama kamu? Ups, mungkin aku sudah berlebihan tapi tenang aja tidak ada niat yang lain karena aku hanya ingin bermitra, ingin mendapat pahala dan ingin meraih surga bersama suami aja."


"Apa itu benar? Apa ada seseorang pernah membicarakan sesuatu padamu?"

__ADS_1


"Awalnya kami hanya berteman biasa dari awal masuk universitas sampai sekarang. Dia temanku hanya mau berbicara yang penting-penting aja gak mau basa basi. Kadang ada kata-katanya yang memotivasi aku untuk semangat belajar, semangat menuntut ilmu, semangat menyusun skripsi, mengasah skill sampai skillnya berbuah menjadi uang dan berjuang untuk mendapatkan apa yang aku mau termasuk cinta."


Aku juga pernah curhat tentang hubungan kita tidak ada yang aku tutupi. Jadi, dia bilang aku harus memperjuangkan cinta aku yang masih bertepuk sebelah tangan. Bukan mengejar ya, hanya saja berusaha menjemput takdir bersamamu."


"Berarti kamu mengikuti kata-kata orang lain bukan kata hatimu?"


"Enggak kok. Karena aku merasa dia tau isi hatiku tiba-tiba dia memberikan aku motivasi seperti itu padahal aku enggak minta. Jadi, aku semangat untuk memperjuangkan mimpiku."


"Siap nama orang itu? laki-laki apa perempuan?"


"Perempuan, namanya shifa yang bekerja di perusahaan mu. Apa kalian belum pernah bertemu?" Bukankah kamu yang menginginkan dia bekerja di perusahaan mu dulu?"


"Ah, iya, nama itu banyak di kantor. Jadi, aku tidak tau shifa yang mana."


Ternyata shifa yang menyuruh Haura untuk semangat mengejar aku sampai 24 jam tidak berhenti menghubungi ku dan keluargaku. Apa shifa tidak kunjung mencintaiku? Mustahil selama ini kami kenal dia sama sekali tidak memiliki perasaan apa-apa sama aku.


Aku harus berbicara sama shifa di kantor besok.


Di kantor aku datang lebih awal ternyata belum ada satupun karyawan yang datang. Aku lihat pergelangan tangan memang belum jamnya mereka datang.


Satu persatu mereka datang berlari menyapaku dan masuk ke kantor di ikuti ribuan karyawan lainnya. Ada apa dengan mereka? Apa mereka habis di kejar setan atau polisi?


Di kantor mereka sudah sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing ada satu bangku yang kosong aku lihat namanya shifa rahmadhini. Kemana gadis itu? Kenal belum datang?


"Maaf, pak, aku terlambat." Shifa datang ngos-ngosan langsung duduk di bangku nya. Aku heran melihatnya ada apa dengan karyawan-karyawan perusahaan ini?


"Tidak apa-apa kok. Kamu tidak terlambat karena saya yang datangnya terlalu cepat." Apa pantas seorang CEO berbicara seperti itu pada karyawannya?


Lekas masuk ke ruang ku dan memeriksa laporan keuangan, pemasukan, pengeluaran dan semuanya.


Kalau di pikirkan sih bisa membuatku stress tapi yang namanya kehidupan di nikmati aja prosesnya kalau tidak di nikmati kita akan susah sendirinya.


Shifa, pada saat makan siang nanti aku harus berbicara padanya. Hanya di sini kami bisa berbicara, di luar kantor kami tidak bisa berbicara karena shifa tidak mau mengangkat telpon dariku. Walaupun ada masalah pekerjaan yang harus kami bahas tetap tidak akan mengangkatnya. Shifa orangnya tidak bisa profesional masalah hati dan pekerjaan.

__ADS_1


Aku ini seakan mengejarnya seharusnya aku tidak seperti ini. Ah, laki-laki ketika lahan dia mengejar wanita ketika sudah menikah dan mapan dia pula yang di kejar wanita.


Bersambung...


__ADS_2