
Terbelenggu cinta di Negeri Jiran 59
"Jadi, kalian tidak mau ke KL?"
"Tidak usah, zan," indri memandangku. "Kami sudah banyak merepotkan mu."
"Santai aja. Aku sama sekali tidak merasa di repotkan kok." Aku pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman dan cemilan yang ada untuk kami.
Malam ini kami hanya bercerita apa adanya. Aku dan indri sama-sama tidak pandai merangkai kata-kata. Pada saat seperti ini bingung mau berbicara apa.
Seperti kemaren lagi-lagi Khaizan tidur di sini, aku risih ada orang lain yang tidur sesuka hati di rumah ku. Apa kenapa Khaizan suka mengikuti budaya barat yang suka kumpul kebo di rumah lawan jenis?
Subuh dini hari dia bangun, menyimpan barang-barangnya dan pamit mau pulang. Shifa ...! Indri ...! Aku pulang dulu. Hati-hati di rumah, ya!"
"Iya."
Hari ini kami menganggur dulu sampai situasinya aman. Ujungnya kami mencari pekerjaan baru dan memulai dari awal lagi. Indri, rencanamu tidak sesuai harapan. Ah, sama saja.
Pengen sih pergi ke kuala lumpur. Tapi, kota itu penuh kenangan, aku tidak mau mengingatnya lagi walaupun bertemu lagi dengan orang-orang yang menyakitiku.
***
Seminggu ini kami hanya di rumah dan keluar seperti tikus mencari makan. Aku tidak mau menyerah begitu saja. Seminggu ini pula komunikasi ku sama Khaizan lancar. Ku lihat indri juga suka tertawa sendiri. Ada apa dengan gadis itu? Apa dia habis chatingan sama Khaizan? Kok, aku gak suka lagi, ya?
Pada saat dia tidur nyenyak aku ambil ponselnya dan mengetes sidik jarinya seperti dulu ternyata wa dan gelerinya dia kunci. Apa polanya, ya? Aku tes dengan sidik jarinya sampai satu jam lamanya akhirnya bisa juga.
Cek galerinya ternyata banyak banget foto selebritis korea dan China yang dia simpan. Cek sampai ke bawah ternyata masih menyimpan foto Khaizan. Tapi, siapa foto cowok yang satunya?
__ADS_1
Beralih ke wa banyak percakapannya dia bersama Khaizan dan cowok yang bernama rizki. Aku ingat, temannya Khaizan yang pernah dia bawa ke sini dulu. Apa mereka menjalani hubungan? Sepertinya, pria yang bernama rizki ini berusaha untuk memikat hati indri.
Tidak ada yang istimewa di chatnya. Semuanya menanyakan kabar, pekerjaan, dan aku mulu. Apa sudah dihapus?
Ku baca sampai sampai pertama kali mereka chat yang sudah aku baca tidak sampai di situ. Ternyata mereka membahas tentang aku yang membutuhkan uang banyak untuk biaya operasi ibu dan mereka bekerja sama untuk membantuku. Saat ini kalian memang teman yang baik. Aku malu pada kalian.
Khaizan walaupun dia tau masa sulit ku di sini. Dia tetap setia membantuku, entah sampai kapan Khaizan setia berteman pada kami. Seandainya suatu saat kita harus berpisah, nama kalian abadi dalam hatiku.
Mumpung besok tidak bekerja, aku memilih menulis di buku diary tentang perjalanan hidupku di Malaysia ini sampai pagi. Buku ini akan aku abadikan tinggal di riset dan di rapikan tulisannya baru di buat novel gendre romancenya. Asyik.
***
"Shifa ... Apa dari semalam kamu sudah duduk di situ?" Subuh dini hari indri sudah bangun dan aku langsung menyimpan buku ini ke dalam bajuku. Buku ini rahasia terbesarku jangan sampai ketahuan oleh indri seperti dia mengunci ponsel dan aplikasinya.
"Tidak, kok. Aku baru saja bangun."
"Memangnya bisa?"
"Kita coba aja." Kami melamar pekerjaan lagi tidak ada orang dalam yang membantu kami seperti di Indonesia. Kami harus mendapatkan dengan sendiri.
Nasip baik selalu berpihak pada kami, perusahaan sedang membuka lowongan pekerjaan karena banyak karyawan lama yang mengundurkan diri dan berhenti secara tiba-tiba. Tapi, saingan kami juga banyak. Peraturan pelatihan dan pekerjaannya juga ketat membuat aku down. Tapi, setelah berpikir matang-matang aku harus mendapatkannya.
Perusahaan menghubungi kami di terima bekerja di sana. Malam ini kami pergi ke tempat kerja. Ternyata orangnya menyeramkan dari yang dulu. Banyak oranga asing yang bekerja di sini.
Baru sehari bekerja, apa-apan ini. Karyawan sama-sama baru berlagak seperti bos memperlakukan ku seperti pembantunya. Aku tau dunia kerja itu seperti apa jadi aku urus aja pekerjaan aku.
Karyawan lama tak berhenti memperhatikan kami. Bodo amat. Yang aku takutkan ini orang asing dari Asia selatan yang suka mengganggu wanita Indonesia. Mereka suka mendekati kami dan kami tentu kami takut. Apa-apaan Khaizan menyuruh kami melamar kerja di sini.
__ADS_1
"Indri ... Kamu serius akan bekerja di sini? Aku gak betah kayaknya. Kita kerja aja di tempat lama."
"Aku juga gak betah. Perusahaan lama sudah tidak mau menerima orang yang sudah tidak masuk tampa izin."
"Kita coba aja lagi. Aku tidak bisa satu ruangan sama mereka," Tunjukku pada sekelompok orang asing yang sedang berusaha merayu karyawan asal Indonesia. "Aku juga kasihan sama wanita-wanita itu. Wanita memakai perasaan dalam bertindak, kalau mereka di rayu sedikit aja tidak sedikit baper dan terjerumus ke dalam rayuan lelaki itu."
"Aku setuju kita cari pekerjaan lain. Kita pergi sekarang!"
"Memangnya bisa?"
"Aku tunjukin caranya. Kalau kita ketahuan, kita mati di sini."
"Gak usah. Tunggu jam pulang aja aku juga gak tahan. Ketahuan juga membahayakan nyawa sendiri. Seperti termakan Buah simalakama."
"Jam istirahat nanti kita keluar mencari makanan dan kabur."
"Baiklah." Waktu berjalan serasa lambat. Aku udah deg degan tidak menentu. Akhirnya tiba saatnya jam istirahat tiba. Minta izin ke atasan dan di izinkan keluar sebentar setelah itu kami kabur pulang ke rumah.
"Huh, alhamdulillah. Keluar juga kita. Lain kali jangan manut aja sama apa yang di bilang Khaizan. Dia bukan bos kita."
"Aku kan tidak tau. Lalu kita mencari pekerjaan di mana?"
"Coba kita cari di restoran aja."
"Restoran lebih berat lagi. Ya, sudah kita coba mencarinya."
"Ada apa kok kalian tidak jadi kerja di sana?" Baru saja bernafas dengan lega kami di kejutkan dengan sebuah suara yang sudah di kenal. Siapa lagi kalau bukan Khaizan.
__ADS_1
Next