TERGODA

TERGODA
Tergoda 10


__ADS_3

"Saya akan ke toilet sebentar." Akmal berpamitan kepada tiga wanita di depannya.


Spontan Arumi dan Dini mengangguk mengiyakan. Berbeda dengan Debby yang hanya terdiam. Semenjak datang, dia terus memikirkan cara untuk mengembalikan uang Akmal.


Apa aku menyusul saja?


Yah, dia tidak mungkin mengembalikan uang tersebut di depan istri dan temannya. Dia takut kesalahan paham terjadi antara mereka.


Sejenak dia memperhatikan Arumi dan Dini. Mereka sedang asyiknya bercerita.


Wanita itu menarik napas dalam. "Em, aku juga ingin ke toilet. Mumpung makananya belum datang." Dia tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.


"Oh iya," jawab Arumi seraya mengangguk. Demikian pun Dini.


Debby beranjak dari tempatnya dan berjalan meninggalkan dua orang tersebut. Tak ada yang menyimpan curiga kepadanya.


*****


Wanita itu melihat arah petunjuk toilet. Terdapat dua pintu. Sebelah kiri untuk pria dan sebelah kanan untuk wanita.


Debby tak langsung masuk. Dia menimbang-nimbang, apakah dia harus menyusul Akmal ke dalam atau menunggunya di luar.


Debby mengedarkan pandangan disekitar tempat tersebut. Tak banyak orang yang bergentayangan. Hal itu membuatnya lega. Dengan langkah yang ragu dia memasuki toilet pria.


Semoga tak ada yang salah paham.


Namun nahas, baru selangkah terdengar suara bariton yang membuatnya harus menggigit bibir karena malu.


"Itu toilet pria. Apa kau tak membacanya?" Sergah Akmal. Dia memergoki wanita itu hendak memasuki toilet pria.


Debby menelan ludah sebelum berbalik menatap pemilik suara tersebut. Dia tak menyangka orang yang ingin dia temui ternyata masih berada di luar.


"Apa kau tak melihat?" Lagi-lagi Akmal melempar tatapan dan pertanyaan yang mengintimidasi. Dia tak habis pikir dengan wanita di depannya, petunjuknya sangat jelas namun kenapa dia tak menyadari. Ataukah memang ada maksud lain?


"A-aku ...." Situasi betul-betul membuat Debby kikuk. Dia meremas kuat tali tasnya.


"Ada apa?"

__ADS_1


Debby memejamkan mata dan menghela napas kasar. "Aku ingin bertemu dengan Pak Akmal. J-jadi aku mencari di dalam."


Hanya kalimat itu yang lepas dari bibirnya. Dia tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Akmal mengerutkan kening. "Ada urusan apa sampai kamu rela masuk ke dalam yang jelas bukan tempatmu?" Akmal ingin mengatakan kalau tindakan yang dilakukan wanita di depannya termasuk tidak sopan. Tapi dia menahan semata-mata untuk menjaga perasaannya.


Debby menelan ludah. "A-aku hanya ingin membayar hutangku."


"Hutang?" Akmal kembali mengulang kalimat. Ingatannya kembali pada drama tadi siang.


Debby mengangguk mantap. Memang tujuannya hanya untuk mengembalikan uang yang telah dipinjamnya.


"Tapi aku sudah mengatakan kalau it-"


"Tidak, Pak!" Debby dengan cepat memotong kalimat pria di depannya. Dia tahu arah pembicaraan Akmal. "Aku tetap ingin mengembalikannya." Dia segera membuka tas dan mengambil sejumlah uang.


Akmal hanya mematung mendengar ucapan Debby. Dia melihat wanita tersebut berjalan mendekat, mengikis jarak antara mereka.


Debby mengangkat tangan Akmal dan memberikan uang tersebut. "Maaf jika aku keras kepala, Pak Akmal. Tapi Hutang harus tetap dibayar." Debby memberanikan menatap pria di depannya. "Terima kasih telah membantuku dan menyelamatkanku dari situasi yang hampir membuatku malu," ucapnya. Dia melepas genggaman dan berlalu.


Akmal betul-betul dibuat terperangah. Dia menatap punggung wanita tersebut yang terus menjauh darinya.


******


Keempat orang tersebut makan dengan khidmat. Hanya ada suara dentingan sendok dan garpu. Sesekali mata Debby melirik ketiga orang di depannya.


Tiba-tiba bola matanya bertemu dengan tatapan yang selalu dihindari. Yah, dan pemiliknya adalah Akmal. Segera Debby mengalihkan dengan cepat.


Debby menghentikan makan dan meneguk minumannya sampai tandas. Selera makannya sungguh dibuat berubah semenjak dari toilet.


Debby please, jangan kaku gitu.


Setelah semua selesai, mereka menyambung kembali cerita yang sempat terputus.


"Kesibukan kamu sekarang apa Debby?" Arumi mencoba mengakrabkan dirinya dengan Debby.


"Aku bekerja sebagai SPG salah satu perusahaan otomotif," jawab Debby dengan lugasnya.

__ADS_1


Arumi tersenyum. "Mas Akmal juga terjun dalam bidang otomotif."


"Bagus, dong! Kalian bisa sharing-sharing," imbuh Dini.


Akmal hanya membalas dengan anggukan kecil mendengar ketiga wanita tersebut. Akmal sudah tahu, tapi dia enggan untuk bicara.


"Kamu nyaman dengan kerja kamu sekarang?" Arumi kembali melemparkan pertanyaan.


"Yah! Aku sangat menikmatinya. Biar bagaimanapun, pekerjaan itu membuatku tak bergantung dengan orang tuaku. Membeli sesuatu dengan hasil keringatku sendiri rasanya aku sangat puas." Dia berbicara seraya membayangkan. "Intinya, aku sangat cinta dengan pekerjaanku." Debby berbicara dengan bersemangat.



Tanpa sadar, semua orang tersenyum menatapnya. Bidadari penunggu itu hanya menyengir kala menyadari. Rona merah tergambar jelas di pipi mulusnya.


"Kamu sangat manis, By." Dini menatap temannya dengan kekaguman.


Debby yang mendengar itu membulatkan mata. Wajahnya betul-betul telah memerah. Dia salah tingkah kala pujian yang dilemparkan untuknya.


Arumi dan Akmal hanya tersenyum gemas melihat reaksi bidadari penunggu itu. "Kalian berdua kalau tidak ada kesibukan, bisa mampir ke rumah. Aku hanya sendiri. Apalagi kalau, Mas Akmal ke kantor. Aku kadang kesepian," ucap Arumi dengan melirik suaminya.


"Kan, mereka juga ngantor, Sayang," jawab Akmal.


"Hahaha ... iya, Mi. Kami akan sesering mungkin mampir. Sesekali aku bisa bolos dari kantor. Atau setelah pulang dari kerja, aku akan menjemput Debby dan berkunjung ke rumahmu," imbuh Dini.


Dan malam itu, ketiga wanita tersebut menjadi semakin dekat. Mereka merencanakan hal-hal kecil seperti bertemu, liburan, belanja dan masih banyak lagi. Dilakukan semata-mata untuk mempererat hubungan mereka dan menghilangkan sekat kecanggungan antara Arumi dan Debby.


.


.


.


.


.


Salam

__ADS_1


AAH♥️


__ADS_2