
Malam harinya, Arumi duduk di dalam kamarnya. Dia menatap keluar jendela. Menumpukkan dagu di atas kedua lutut. Semenjak dari pengadilan agama mengurus perceraiannya, dia tak pernah keluar dari ruang tersebut.
Mama Reni juga memberikan waktu kepada anaknya. Wanita paruh baya itu hanya mengantarkan makanan kemudian keluar. Dia duduk di ruang keluarga.
Tok ... tok ...tok.
Terdengar suara ketukan pintu. Awalnya dia mengira itu hanya ilusi saja. Tapi ketukan berkali-kali membuatnya tersadar. Mama Reni beranjak keluar. Dia membuka benda tersebut.
"Assalamualaikum, Tante."
Yang datang adalah sahabat putrinya. Dini menyempatkan diri untuk melihat keadaan Arumi.
"Waalaikumussalam ... masuk, Nak!"
Mama Reni mempersilahkan wanita cantik itu masuk. Mereka ke ruang tamu. Duduk saling berhadapan.
"Tante, bagaimana keadaan Arumi?" Dini membuka percakapan.
Raut wajah Mama Reni sendu. "Dia jarang bicara, Nak. Semenjak kepulangan dari kantor pengadilan, dia tak pernah keluar dari kamarnya ...." Mata wanita paruh baya itu memupuk air.
Dini menghela napas. Dia betul-betul kasihan mendengar penuturan mama dari sahabatnya.
"A-aku boleh lihat, Tante?" Dini meminta izin kepada Mama Reni untuk melihat Arumi.
Spontan wanita paruh baya itu mengangguk. Mungkin saja kedatangan Dini memberikan sedikit hiburan kepada putrinya. "Masuklah, Nak!"
Dini segeralah beranjak dari duduk. Dia memasuki kamar sahabatnya dengan perasaan was was.
Wanita cantik itu mengetuk pintu dan membuka. Matanya spontan tertuju pada sosok yang sedang duduk. "Arumi ...."
Arumi mendengar namanya dipanggil pun menoleh.
Dini menutup pintu dan menghampiri sahabatnya. Dia melihat rambut Arumi sudah berubah. Perasaan Dini semakin tercabik melihatnya.
"Ya ampun, Arumi ...." Dini memeluk wanita itu sejurus air matanya yang tumpah. Dia menggigit bibir dengan kuat mencoba menahan isakan.
Dini melepasnya dia menghapus air matanya. Tangannya menangkup wajah Arumi. "Jangan menyiksa dirimu hanya karena kedua orang itu."
Arumi menelan ludah.
"Kamu harus kuat! Jangan lemah seperti ini!" Dini memberikan penekanan kepada sahabatnya. Dia memberikan dorongan dan kekuatan kepada Arumi.
"A-aku h-hancur ...." ucapnya dengan bergetar.
__ADS_1
Dini menggeleng. "Kamu harus bangkit! Mereka tak pantas kau tangisi seperti ini! Air matamu berharga .... sangat berharga!"
Arumi memandang lekat sahabatnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Nadini mengangguk. "Jangan kau akhiri bahagiamu hanya karena hubunganmu dengan pria itu berakhir! Perjalananmu masih panjang Arumi ...."
"Aku pernah berada di posisimu! Aku dikhianati! Tapi sadar, kalau aku dan dia tak ditakdirkan untuk bersama! Mau aku bunuh diripun tak akan mengubah kenyataan!" tegas Dini.
Satu kalimat yang dikeluarkan sahabatnya bagai sentilan keras yang membuat benteng pertahanan Arumi runtuh. Air lolos diantara pelupuk mata. Wanita itu mencerna kalimat demi kalimat yang sahabatnya berikan.
Dini menurunkan tangannya menuju pundak. Dia memegang erat. "Masalah yang kamu hadapi adalah ujian untuk pria itu. Allah menguji sampai dimana kesetiaan seorang Akmal untuk Arumi yang berharga! Tapi lihatlah! Dia sangat lemah. Begitu mudahnya tergoda dengan wanita yang baru ia kenal!"
Arumi mencengkram tangan sahabatnya.
"Itu berarti, dia betul-betul tak pantas untukmu. Tak sedikit pun! Aku sangat yakin sahabat, seseorang telah menunggumu di depan! Seseorang yang selama ini mencari-cari keberadaan Arumi Anggun! Yang pasti dia jauh lebih baik dari Akmal!"
Nadini menepuk pundak sahabatnya. "Sekali lagi, do'a orang teraniaya dijabah! Kita minta kebahagiaan kepada Maha Pencipta. Kebahagiaan dunia akhirat."
Arumi memeluk erat sahabatnya. Sahabat bagaikan saudara. Yah, betul! Bahkan sangat betul apa yang dia ucapkan.
Dulu, Arumi yang memberinya semangat. Sekarang, wanita itu berbalik menyemangatinya. Saling mendukung satu sama lain kalau keduanya dalam keadaan terpuruk.
Mama Reni yang mendengar samar itu dari luar ikut terharu. Dia menangis dan memohon, semoga kedua wanita itu dilimpahkan kebahagiaan.
******
Kedua orang tua Debby melihat dinding rumah menantunya. Seketika emosi menguasai kala foto pernikahan dengan istri pertama masih terpajang.
"Akmal! Turunkan semuanya," ucap Pak Wijaya. Harusnya disitu foto pernikahan putrinya.
Akmal yang mendengar itu tak menanggapi. Dia berjalan menuju kamar. Dirinya benar-benar penat.
Pak Wijaya bertindak. Dia yang menurunkan semuanya mengumpulkan menjadi satu. "Besok biar Ayah yang masukkan dalam gudang."
Debby mengangguk. "Ya sudah. Ayah dan Ibu istrahat. Ini sudah malam." Debby menunjukkan satu kamar yang berada di lantai bawah untuk mereka tempati.
Namun sebelum itu, sang ayah membantu mengangkat koper Debby yang seharusnya menjadi tugas Akmal. Wanita itu pun juga naik ke lantai atas.
Setelah ayahnya kembali, dia membuka pintu dan melihat Akmal telah berbaring membelakangi.
Wanita itu melihat sekelilingnya. Barang-barang Arumi masih ada di dalam. "Mas, harusnya sudah hilang," ucapnya seraya membuka lemari pakaian.
Akmal tak bergeming. Dia tetap memejamkan mata.
__ADS_1
"Harusnya semua sudah diganti jadi pakaianku, Mas ...." Debby tampak kesal.
Wanita itu mengeluarkan barang-barang Arumi dari dalam benda itu. Dia memasukkan pakainya.
*****
Dini masih berada di rumah Arumi. Dia membantu sahabatnya memperbaiki potongan rambut yang mulanya tidak beraturan.
"Rambut kita samaan, Mi ...." Dini cekikikan. dibalas dengan senyum oleh Arumi.
Akhirnya wanita itu tersenyum kembali. Dia betul-betul diberikan semangat dan kekuatan oleh sahabatnya.
"Nginap, yah," ucapnya dengan suara lembut. Arumi mengiba kepada Dini.
"Iya ... aku nginap! Tidak masalah baju ngantor aku pakai dua hari! Nanti disemprot parfum juga harum lagi." Karena memang dia tak punya persiapan.
Arumi tertawa. "Kamu bisa pakai baju aku."
*****
Habis membersihkan badan, Debby ikut berbaring di samping Akmal. Dirinya benar-benar lelah terlebih dirinya sedang hamil.
"Huufff ...."
Wanita itu menatap Akmal. Posisinya masih sama. Pakaiannya pun belum diganti. "Mas ...."
Tapi tak ada sahutan. Debby memaklumi. Mungkin suaminya sudah tidur. Wanita itu mendekat dan memeluk hingga akhirnya dia terlelap.
Saat terdengar dengkuran halus. Akmal melepas tangan Debby. Pria itu memang tidak bisa tertidur. Dia segera bangkit dari pembaringan.
Akmal mengambil beberapa bungkus rokok di dalam lemari yang sudah disediakannya. Hal itu menjadi kebiasaan batu untuknya. Pria itu duduk di balkon dan mulai membakar.
.
.
.
.
.
IG : asriainunhasyim
__ADS_1
Salam
AAH♥️