TERGODA

TERGODA
S2. Tergoda 68


__ADS_3

JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK LIKE COMMENT RATE DAN VOTE 😉 DUKUNG ARUMI DAN HARUN DENGAN CARA TERSEBUT.


FOLLOW ig : asriainunhasyim


Selamat membaca 😘


.


.


.


Pukul sembilan, Harun bersiap-siap ke rumah Arumi dengan bermodalkan alamat yang diberikan sang bunda. Beruntung hari ini weekend sehingga waktu hanya diprioritaskan untuk kunjungannya.


Harun memakai baju kaos polos berkerah berwarna hitam yang dipadukan dengan celana Levi's. Tak lupa, jam sebagai aksesoris yang bertengger sempurna di pergelangan tangannya.


Harun meraih sneaker yang berjejer diantara sepatunya yang lain. Yah, dia sudah mengusahakan penampilan yang terbaik di depan wanita idamannya.


Pria itu berjalan menuruni anak tangga. Dia berpamitan kepada orang tuanya sebelum meninggalkan rumah. Wajah Harun betul-betul bersinar.


*****


Diperjalanan Harun kebingungan. Apa yang akan dibawanya sebagai buah tangan? Tidak mungkin juga dia membawa bunga mawar yang jelas ditolak oleh wanita itu. Lagi pula yang dihadapi tentu bukan Arumi saja. Akan tetapi orang yang ada di rumah tersebut.


"Apa, yah?" gumamnya.


Pria itu memelankan laju kendaraannya. Dia melirik ke kanan dan ke kiri. Tiba-tiba matanya tertuju pada toko kue yang cukup besar. Pria itu memarkir kendaraan dan segera turun dari mobil.


Dia melangkah masuk dan disambut oleh seorang pramuniaga. Harun mengedarkan pandangan mencari sesuai dengan keinginannya.


"Saya ingin 2 buah red velvet cake." Pria itu menjatuhkan pilihan.


Pramusaji tersebut dengan lincahnya memasukkan pesanan Harun ke dalam masing-masing box. Segera Harun melakukan transaksi pembayaran.


*****


Arumi bersiap-siap ke toko. Meskipun weekend tapi tempat tersebut masih tetap buka. Yah, baginya hari sama saja. Toh, dia juga tidak punya kesibukan lain.

__ADS_1


Wanita cantik itu meraih tasnya. Namun ...


"Assalamualaikum." Suara seorang pria mengucap salam. Arumi terpaku sejenak. Dia masih dengan jelas mengingat pemilik suara tersebut.


"Waalaikumussalam ...." Mama Reni menghampiri sumbernya. "Cari siapa?" tanya wanita paruh baya itu. Wajah asing di matanya.


"Saya mencari Arumi, Tante."


Sang pemilik nama kaget bukan main mendengar. Wih, ternyata apa yang diucapkan Harun semalam tidak main-main. Arumi segera keluar dari kamar. "Iya." Arumi menjawab dengan cepat.


Tentu mama Reni heran. Ini pertama kalinya seorang pria datang berkunjung ke rumah mencari putrinya. Kemungkinan-kemungkinan berdatangan memenuhi pikiran. Apakah ini jawaban dari permintaan mama Reni beberapa hari lalu?


"Masuk, Nak!" Mama Reni berubah antusias.


Harun tersenyum dan mengangguk sebagai tanda hormat. Pria itu berjalan menuju ruang tamu dan duduk setelah dipersilahkan. Namun sebelumnya, Harun menyerahkan buah tangan yang dibawa. "Ini untuk Tante dan Arumi. Maaf alakadarnya."


Mama Reni tersenyum simpul. "Kenapa repot-repot, sih, Nak," ucap Mama Reni.


"Tidak, Tante."


Mama Reni menerima cake terebut. Sedangkan Arumi hanya terdiam memperhatikan dua orang di depan. Sepertinya mamanya juga senang dengan pria tersebut.


*****


Arumi dan Harun duduk berhadapan. Hening sejenak hingga Arumi berusaha memecahkan. "Ada apa?"


Harun tersenyum lembut. "Seperti kataku semalam. Aku ingin berkunjung."


Arumi mendengus mendengar penuturan pria di depannya. Arumi akui Harun cukup berani.


"Aku serius dengan ucapanku, Arumi," ucap Harun dengan gamblang. Dia tidak ingin Arumi berpikir apa yang diucapkan hanya sekedar lelucon semata.


"Seberapa serius dirimu?" Arumi melempar pertanyaan balik dengan mengintimidasi.


"Sampai aku dan kamu halal."


Satu kalimat Harun membuat Arumi terpaku. Apa-apaan langsung mengatakan halal? Dia tidak boleh terjerat hanya dengan kata-kata.

__ADS_1


Arumi beranjak dari duduknya. Dia masuk ke dalam kamar meninggalkan Harun sendiri.


Selang beberapa menit, Mama Reni datang membawa nampan yang berisikan dua cangkir teh hangat. "Arumi mana?" tanya wanita paruh baya itu.


"Ke kamarnya, Tante."


Mama Reni mengangguk. Dia menyimpan cangkir tersebut di depan Harun. "Diminum, Nak."


Harun mengiyakan. Mata pria itu beralih melihat sosok yang berada di belakang paruh baya tersebut.


*****


"Ini!" Arumi menaikkan sebuah kertas di depan dadanya. 'Akta Cerai'


Harun terdiam menatap 2 kata tanpa melihat keseluruhan. Dia baru saja mengetahui satu fakta tentang Arumi bahwa wanita tersebut adalah seorang Janda. Tapi sungguh, itu tidak membuatnya terkejut sama sekali. "Lalu?"


"Aku seorang janda," jelas Arumi.


Harun hanya mengangguk. "Iya, lalu?"


Arumi menelan ludah melihat pria di depannya. Kenapa tidak tampak terkejut pada ekspresinya? Bahkan wanita cantik itu menduga jika Harun melihat kertas tersebut maka Harun akan berhenti mengganggunya dan pergi. Tapi ini di luar ekspektasi.


Harun tahu apa yang dipikiran Arumi. Dia lagi-lagi tersenyum. Dasar! Murah senyum. "Janda bukan masalah Arumi. Janda bukan aib. Aku sama sekali tidak mempermasalahkan. Mungkin jika kamu tidak menyandang status tersebut maka aku tak akan seberani ini datang padamu." Harun berucap dengan lugas.


Telak! Arumi menurunkan kertas itu sedikit demi sedikit. Dia betul-betul salah sangka dengan Harun. "A-aku ...." Tiba-tiba mata Arumi memanas. Kalimatnya tercekat di tenggorokan.


"Satu hal yang perlu kamu tahu, aku tidak sedang mempermainkanmu."


.


.


.


.


.

__ADS_1


Salam


AAH♥️


__ADS_2