
Hari-hari berlalu. Harun dan Arumi semakin memperlancar komunikasi. Yah, bisa dibilang ada peningkatan. Dulunya Arumi cuek, sedikit demi sedikit sudah mampu membuka diri. Tak luput dari pantauan kedua orang tua mereka.
"Bagaimana, Nak?"
"Ada peningkatan?"
"Kapan Bunda kesana?"
"Bagaimana orang tua Harun?"
Sepertinya yang lebih antusias disini adalah Bunda Ira dan Mama Reni. Yah, Harun maupun Arumi hanya menjawab sesuai dengan realitanya. Bahwa mereka berdua sementara dalam fase pendekatan dan pengenalan satu sama lain.
Ada pun yang berubah dari seorang Arumi Anggun. Kini dia semakin mendekatkan diri dengan Sang Pencipta. Dirinya sadar, selama ini dia tak pernah memperdulikan kebutuhan rohaninya.
Harun dengan sabarnya sering mengingatkan pada saat waktunya tiba dan Arumi pun sangat menghargai itu.
Pada waktu subuh, Harun menelpon hanya untuk membangunkan Arumi. Berani? Yah, mereka juga sudah main telpon-telponan.
"Arumi," panggil Harun dari seberang.
"Hmm ... iya." Arumi membuka matanya.
"Masih ngantuk, yah?" tanya Harun.
Arumi bangkit dari pembaringan dan merenggangkan otot-ototnya. "Sedikit ...." Suara serak nan manja khas bangun tidur.
Harun tersenyum meskipun Arumi tak melihat. "Jadi mau lanjut tidur?" goda pria itu.
Arumi menggeleng. "Tidak."
"Mm ... kirain."
Percakapan subuh yang ringan namun cukup membuat mereka senang. Keduanya menjalani bagai air yang mengalir. Yakin jika mereka berjodoh pun keduanya akan dipersatukan.
*****
Hari ini, Arumi hendak ke bank guna menyetor tabungan. Hal itu sudah menjadi rutinitas setiap bulannya. Bahkan masuk daftar wajib. Tidak ada yang tahu dan menjamin kehidupan ke depannya. Selagi dia mampu bekerja, maka ia sisihkan sebagian penghasilannya.
__ADS_1
Wanita cantik itu menggerai rambut lurusnya. Menggunakan celana levi's dipadukan dengan blouse berwarna pink nude. Simpel tapi manis begitulah sekiranya.
Arumi memesan taxi online seperti biasa. Dirinya belum mampu membeli mobil pribadi sebagai transportasi. Yah, mau bagaimana ketika dana belum mencukupi.
"Ma, Arumi pamit." Wanita cantik itu menghampiri Mama Reni di dapur.
"Sendiri, Mi?" tanya wanita paruh baya seraya mencuci tangan pada wastafel.
Arumi mengerutkan kening. "Biasanya, kan, memang sendiri." Sangat jelas Arumi heran.
"Mama kira sama Harun."
Arumi hanya menggeleng mendengar penuturan Mamanya. Kenapa juga dia harus merepotkan Harun hanya karena hal sepele ini. Toh, Harun juga ngantor.
Ketika taxi sudah tiba depan rumah, buru-buru wanita cantik itu keluar.
*****
Diperjalanan Arumi menatap keluar jendela. Seakan menghitung bangunan yang ia lewati. Namun tiba-tiba, bola matanya tanpa sengaja menangkap sosok pria yang sangat tak asing.
Lupakan.
Arumi sugesti pikiran dan hatinya. Tidak boleh terpancing. Tidak boleh lagi ada air mata. Dia harus bisa menerima kenyataan jika sewaktu-waktu akan bertemu dengan mantan suaminya.
Tak lama kemudian, taxi yang ditumpangi berhenti tepat di depan bank yang pernah menjadi tempatnya mencari nafkah sebelum menikah dengan Akmal.
Tanpa menunggu lama, Arumi membayar ongkos dan segera turun.
*****
Hari ini Akmal tak masuk kerja. Bayinya terus saja menangis dari semalam sehingga tidurnya tak nyenyak. Tubuhnya demam. Akmal dipenuhi rasa khawatir. Dia segera membawa ke klinik.
"Bagaimana, Dok?" Wajah pria itu dipenuhi kecemasan.
"Tidak ada masalah serius, Pak. Lumrah terjadi ketika gigi bayi tumbuh. Gusinya mengalami peradangan. Inilah yang menyebabkan bayi demam dan rewel," jelas sang dokter.
Akmal yang mendengar itu, bisa bernapas lega. "Syukurlah."
__ADS_1
Bayi tersebut bersandar dengan lemas di bahu ayahnya.
"Ibunya tidak datang, Pak?"
Akmal sering kali dia mendengar kalimat itu dari orang yang tidak tahu keadaannya. "Ibunya sakit, Dok." Yah, sakit jiwanya.
"Oh, dua-duanya sakit. Ikatan batin antara ibu dan anak kuat. Seperti itu, ketika induknya sakit terkadang bayi juga demikian. Pola ASI-nya jadi terganggu."
ASI? Setetes pun belum pernah bayinya rasakan. Dampak perbuatan jahanamnya bersama dengan Debby, anaknya pun ikut terseret.
*****
Arumi bercengkrama dengan teman-temannya yang ada di bank. Yah, secara memang wanita cantik itu adalah mantan teller di tempat tersebut.
"Makin cantik aja, Mi," puji temannya.
Arumi hanya tersipu menanggapi. Maklum sekali sebulan mereka bertemu. Bukan tanpa alasan kesibukan mereka yang menjadi penyekat.
"Bagaimana usaha dessert-nya?"
"Alhamdulillah, sejauh ini lancar."
Teman-temannya hanya mengulik usaha Arumi namun tak berani mengungkit masalah rumah tangganya dengan Akmal. Wanita cantik itu telah menjelaskan sebelum-sebelumnya jika dia bercerai dengan alasan tak ada lagi kecocokan.
.
.
.
.
.
Salam
AAH♥️
__ADS_1